Ketua DPRD DKI Usul Air Laut Diubah Jadi Air Bersih Atasi Kekeringan

Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin meminta Pemprov DKI mengantisipasi potensi kekurangan air bersih akibat kekeringan yang melanda Jakarta.
Salah satu opsi yang diusulkan yakni mengolah air laut menjadi air bersih melalui teknologi desalinasi.
Suhud mengatakan langkah tersebut dapat dipertimbangkan karena Jakarta saat ini menghadapi kemarau panjang.
Terlebih, kata Suhud, BPBD DKI sebelumnya menetapkan seluruh wilayah Jakarta dalam level awas kekeringan.
“Memang harus diantisipasi. Kemarin kan ada level awas dari BPBD. Nah, saya kira ini harus disikapi serius karena kekeringan ini tidak bisa dihindari, panjang,” kata Suhud saat ditemui usai peresmian LRT Jakarta, Rabu (16/9).
Menurut Suhud, teknologi desalinasi sudah diterapkan di Kepulauan Seribu. Air laut diolah menjadi air tawar yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
“Mungkin juga langkah yang harus dilakukan adalah melakukan (desalinasi), di Kepulauan Seribu itu sudah ada desalinasi, mengubah air laut jadi air bersih, air tawar,” ujarnya.
Ia menilai penerapan teknologi tersebut perlu mulai dicoba untuk mengantisipasi kemungkinan Jakarta mengalami kekurangan air bersih akibat kondisi kekeringan yang berlangsung panjang.
“Saya kira itu juga harus sudah mulai dicoba dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan Jakarta ini kekurangan air bersih,” kata Suhud.
Warga Mulai Keluhkan Air Sumur
Sebelumnya, sejumlah warga di Jakarta mulai merasakan dampak kekeringan. Warga Cilandak, Jakarta Selatan, misalnya, mengeluhkan debit air sumur di rumahnya berkurang hingga mengalami perubahan warna.
Keluhan serupa disampaikan warga Meruya Selatan, Jakarta Barat. Debit air sumur warga disebut mulai menyusut dibandingkan kondisi sebelumnya.
Salah seorang warga Meruya Selatan, Nenek Aruni (64), mengatakan sumur yang sebelumnya dapat mengalirkan air ke tiga rumah secara bersamaan kini mengalami penurunan debit. Bahkan, ketika digunakan satu rumah, aliran air sudah tidak sederas sebelumnya.
“Pokoknya tadinya kan gede banget bertiga tuh. Kalau sekarang memang berkurang. Jadi kalau dipakai dua rumah, iya, berhenti dulu,” kata Aruni saat berbincang dengan kumparan, Selasa (15/9).
“Kalau sekarang tiga rumah nyalain? Kagak ada. Yang paling ujung Ema kagak dapat. Netes doang kayak ngiler,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur penggunaan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
