KH Fahmi Salim Luncurkan Buku Haji, Dorong Jemaah Bawa Perubahan

Direktur Al Fahmi Institute, KH Fahmi Salim, meluncurkan bukunya yang berjudul "Haji: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan" di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (28/9). Buku tersebut mengajak jemaah dan calon jemaah haji memahami ibadah haji secara lebih luas, tidak hanya dari sisi fikih, tetapi juga spiritualitas hingga kebangkitan umat.
Fahmi mengatakan, gagasan utama buku tersebut berangkat dari banyaknya jemaah haji asal Indonesia setiap tahun. Menurutnya, banyaknya masyarakat yang telah menjalani ibadah haji semestinya dapat menghasilkan perubahan setelah mereka kembali ke Tanah Air.
"Haji ini kan jemaah di Indonesia tuh banyak sekali ya, ratusan ribu. Tiap tahun ada alumni haji dari Indonesia ratusan ribu. Kalau sudah puluhan tahun bangsa Indonesia memperjalankan jemaah haji yang sekian banyak, berapa juta yang manusia-manusia baru yang dilahirkan dari madrasah yang bernama haji ini," kata Fahmi saat diwawancarai, Senin (28/9).
Fahmi menekankan, ibadah haji menurutnya tidak semestinya berhenti pada pelaksanaan rangkaian ritual di Tanah Suci. Ia berharap jemaah yang telah berhaji membawa dampak bagi kehidupan umat dan bangsa setelah kembali ke Indonesia.
"Jangan sampai kita keluar dari ibadah haji itu tidak membawa perbaikan, tidak membawa oleh-oleh bagi perbaikan nasib bangsa, umat, dan negara ini," ujarnya.
Dorong Pemahaman Sebelum hingga Pascahaji
Buku tersebut hadir untuk memberikan wawasan kepada calon jemaah haji agar memahami ibadah haji secara lebih menyeluruh. Pemahaman tersebut tidak hanya dibutuhkan ketika jemaah berada di Tanah Suci, tetapi juga sebelum dan setelah kembali ke Tanah Air.
"Buku Haji ini hadir untuk memberikan wawasan ya, mendorong para jemaah haji dan calon-calon haji untuk terus meningkatkan pemahamannya, wawasannya tentang ibadah haji, baik sebelum, ketika melaksanakan, dan pascakeberangkatan haji itu," tutur Fahmi.
Dalam paparannya, buku tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yakni Manasik untuk Ketakwaan, Manasik untuk Kebangkitan, dan Refleksi Perjalanan.
Bagian Refleksi Perjalanan berisi catatan mengenai suasana musim haji di tengah kondisi dunia yang diwarnai konflik dan peperangan. Sementara itu, bagian Manasik untuk Kebangkitan antara lain membahas ketahanan keluarga, kebangkitan umat, dan kurikulum perbaikan bangsa.
Fahmi memandang haji bukan sekadar ritual, melainkan sebuah proses pendidikan bagi kehidupan. Ia menyebut haji sebagai "madrasah kehidupan" yang dapat memberikan bekal bagi jemaah setelah menyelesaikan ibadahnya.
Tak Hanya Bahas Fikih
Fahmi mengatakan buku yang ditulisnya juga memiliki cakupan pembahasan yang lebih luas dibandingkan dengan buku-buku haji yang hanya berfokus pada satu aspek.
Menurut dia, khazanah buku tentang haji sebelumnya telah banyak membahas pengalaman berhaji, fikih, tasawuf, maupun sisi sosial. Karena itu, buku yang diluncurkannya mencoba menggabungkan sejumlah perspektif tersebut.
"Bedanya buku saya itu bukan hanya membahas satu aspek saja, bukan hanya fikih saja, tapi ada tentang spiritual, tentang tasawuf, tentang politik, geopolitik, filsafat sosial, dan kebangkitan umat. Itu yang membedakan," kata Fahmi.
Dalam paparannya, Fahmi menjelaskan haji dalam bukunya ditempatkan sebagai madrasah tauhid dan perjalanan kembali menuju fitrah.
"Haji dalam buku ini kami paparkan sebagai madrasah tauhid dan perjalanan kembali menuju fitrah," kata Fahmi.
Ia juga menguraikan sejumlah rangkaian manasik dengan pendekatan spiritual. Ihram, misalnya, dimaknai sebagai pembelajaran untuk hidup dalam batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.
Menurut Fahmi, pakaian ihram memang dapat dilepas setelah rangkaian ibadah selesai. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan tetap dibawa dalam kehidupan sehari-hari.
"Kain ihram boleh dilepas, kita boleh kembali memakai pakaian berwarna-warni, pakaian dinas, dan membawa identitas kita masing-masing. Namun, nilai utama ihram itulah yang harus berlaku sepanjang hayat," kata Fahmi.
Ia juga mengaitkan tawaf dengan refleksi manusia terhadap kehidupan dan kematian. Menurut Fahmi, berbagai rangkaian tersebut tidak hanya perlu dipahami sebagai gerakan dalam pelaksanaan ibadah, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri.
"Perputaran ke kiri ini adalah pergerakan memutar ke masa lalu. Tujuannya adalah untuk mengingat kematian, mengingat yaumul hisab (hari perhitungan), dan merenungi dosa-dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu," kata Fahmi.
Implementasi Setelah Jemaah Pulang
Gagasan mengenai dampak pascahaji menjadi salah satu pesan yang disampaikan Fahmi dalam peluncuran buku tersebut. Ia mengingatkan agar jemaah tidak selesai berhaji tanpa membawa perubahan bagi kehidupan umat dan bangsa.
"Nah, jadi jangan sampai kita keluar dari ibadah haji itu tidak membawa perbaikan, tidak membawa oleh-oleh bagi perbaikan nasib bangsa, umat, dan negara ini," kata Fahmi.
Fahmi menilai kesempatan berhaji perlu dimaksimalkan, tidak cukup hanya menyangkut kebutuhan finansial dan kesehatan, tetapi juga fikih, ilmu, mental, dan hati.
"Persiapan haji harus dilakukan secara holistik: Finansial, Fikih & Ilmu, Mental & Hati," ujarnya.
Dengan demikian, peluncuran buku ini diarahkan Fahmi sebagai upaya memperluas cara pandang terhadap haji, dari sekadar rangkaian ritual menjadi proses pendidikan yang diharapkan menghasilkan perubahan pada diri jemaah dan lingkungan sekitarnya.
