Konten dari Pengguna

Khorshid dan Anak Jalanan (Perspektif Filsafat Sains) (Bag II)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Khorsid/Sun Children (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Film Khorsid/Sun Children (Sumber: Net)

9. Babak 9

Retakan di Antara Empat Sahabat

Tekanan mulai muncul dan memengaruhi hubungan mereka.

Bos menjadi tidak sabar karena penggalian berjalan lambat. Ia menekan Ali, dan tekanan itu kemudian diteruskan oleh Ali kepada teman-temannya. Reza mulai merasa takut, bukan hanya takut tertangkap, tetapi juga takut merusak sekolah yang mulai ia sukai. Mamad merasa frustrasi karena situasi yang tidak jelas.

Sementara itu, Abbas semakin terikat dengan dunia barunya di sekolah, terutama di kelas bahasa isyarat. Ia mulai merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sehingga kegiatan menggali menjadi beban baginya.

Ali merasakan bahwa teman-temannya mulai berubah dan bergerak ke arah yang berbeda. Ia merasa marah, tetapi ia tidak bisa melampiaskan kemarahan kepada bos karena terlalu berbahaya. Ia juga tidak bisa marah kepada ibunya yang sakit. Akhirnya, kemarahan itu ia arahkan kepada teman-temannya.

Terjadilah pertengkaran. Kata-kata kasar keluar. Persahabatan yang selama ini menjadi satu-satunya hal stabil dalam hidup mereka mulai retak.

10. Babak 10

Sekolah Ini Bukan Sekadar Bangunan

Di tengah konflik tersebut, perubahan lain terjadi secara perlahan.

Sekolah yang awalnya hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan mulai memiliki makna tersendiri bagi mereka.

Bagi Reza, sekolah menjadi tempat di mana ia memiliki teman yang tidak mengenal masa lalunya.

Bagi Mamad, sekolah menjadi tempat di mana ia merasa mampu dan pintar ketika berhasil menjawab soal.

Bagi Abbas, sekolah adalah dunia pertama yang benar-benar menerima dirinya dengan semua kekurangan yang ia miliki.

Dan bagi Ali, muncul sebuah pemahaman baru yang sulit ia abaikan tentang jalan hidup, mungkin ada jalan hidup lain selain yang selama ini ia jalani.

Perubahan ini tidak disampaikan dengan cara dramatis. Tidak ada pidato atau momen besar. Perubahan terlihat dari tindakan kecil, seperti Ali yang mulai menyimpan bukunya dengan hati-hati, membantu teman tanpa diminta, dan datang ke sekolah karena ingin belajar, bukan hanya karena misi.

11. Babak 11

Malam Paling Panjang

Penggalian hampir mencapai tujuan.

Pada suatu malam, keempat anak tersebut berada di bawah tanah. Alat mereka membentur sesuatu yang keras. Mereka berhenti dan menyadari bahwa mereka mungkin telah menemukan apa yang dicari.

Namun, pada momen yang seharusnya menjadi puncak keberhasilan, Ali justru terdiam.

Di dalam kegelapan, ia mulai berpikir. Ia mengingat Pak Mahmoud yang telah mempercayainya. Ia mengingat Abbas yang akhirnya merasa bahagia di sekolah. Ia juga memikirkan ibunya, dan muncul pertanyaan dalam dirinya: apakah ibunya akan bangga jika mengetahui apa yang sedang ia lakukan?

Pertanyaan ini tidak diucapkan secara verbal, tetapi terlihat dari ekspresi dan tindakan Ali. Ini adalah bentuk konflik batin (pertentangan dalam diri seseorang antara dua pilihan atau nilai).

12. Babak 12

Harga Sebuah Pilihan

Pada suatu hari, sang bos datang untuk menagih hasil pekerjaan.

Konfrontasi terjadi. Dunia yang selama ini hanya terasa sebagai tekanan kini hadir secara langsung dengan wajah yang nyata, dengan keras, mengancam, dan tidak peduli bahwa yang dihadapinya adalah anak-anak.

Ali berdiri menghadapi situasi tersebut. Tubuhnya kecil, tetapi sikapnya menunjukkan perubahan. Ia membuat sebuah pilihan.

Pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang harus ia terima. Film ini tidak memberikan jalan keluar yang mudah. Tidak ada keajaiban atau penyelamatan di saat terakhir. Ali harus menghadapi akibat dari keputusannya sendiri.

Di sini terlihat bahwa keberanian bukan berarti tidak merasa takut, tetapi tetap bertindak meskipun merasa takut.

13. Babak 13

Cahaya yang Sesungguhnya

Judul film ini memiliki makna yang dalam, bukan hanya sebuah kebetulan semata.

“Khorshid” berarti matahari. Pada bagian ini, terungkap bahwa “harta” yang dicari bukanlah emas atau uang.

Yang ditemukan adalah sesuatu yang lebih berharga. Sesuatu yang selama ini tidak mereka ketahui, yaitu sebuah kesadaran, nilai, dan pemahaman tentang hidup.

Ini menciptakan sebuah ironi pahit, yaitu situasi yang hasilnya berlawanan dengan tujuan awal. Anak-anak yang dikirim untuk mencuri justru menemukan sesuatu yang membuat mereka memahami bahwa tidak semua hal boleh diambil.

Kamera kemudian bergerak naik dari bawah tanah menuju langit. Matahari terlihat di atas, selalu ada, menunggu siapa pun yang mau melihat ke atas.

14. Babak 14

Ali Tidak Berlari Lagi

Adegan terakhir.

Ali berjalan, bukan berlari.

Sepanjang film, ia selalu berlari, seolah ia sedang mengejar sesuatu atau menghindari sesuatu. Namun kali ini ia berjalan dengan tenang, seperti anak-anak lain.

Di tangannya terdapat sesuatu, bisa berupa buku atau harapan. Keduanya memiliki makna yang sama penting.

Film tidak memberikan akhir yang pasti. Ibunya belum tentu sembuh. Kemiskinan belum hilang. Dunia masih keras.

Namun, ada perubahan dalam diri Ali. Ia mulai menyadari bahwa ia layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, bahwa pendidikan adalah hak, bukan kemewahan, dan bahwa kesempatan tidak hanya milik orang lain.

Film berakhir dengan teks bahwa kisah ini didedikasikan untuk jutaan anak di dunia yang dipaksa bekerja. (Bersambung)