Kisah Atlet Eko Yuli Angkat Derajat Keluarga, Beli Sawah hingga Bangun Sasana
·waktu baca 4 menit

Menjadi atlet berprestasi menjanjikan masa depan yang cerah. Itulah yang diyakini Eko Yuli Irawan kala masih kanak-kanak. Semua berawal kala dirinya melihat latihan angkat besi di kampungnya, di Kota Metro, Lampung, tahun 2000.
"Sejak pertama melihat angkat besi, saat itulah saya menemukan cara untuk mengangkat derajat saya dan keluarga saya," kenang Eko yang diabadikan dalam film pendek oleh salah satu jenama olahraga.
Keluarga Eko Yuli memang tergolong tidak mampu. Ayahnya, Saman, bekerja sebagai tukang becak. Sementara sang ibu Wastiah berjualan sayur. Rumah mereka pun menumpang di tanah orang, yang bisa sewaktu-waktu diminta kembali oleh pemiliknya.
“Saat saya merantau, pikiran saya bagaimana kalau tanah itu mau dipakai orangnya? Orang tua saya mau pindah ke mana? Jadi saya punya tekad dan ambisi, harus mengejar prestasi untuk membantu orang tua,” ungkap Eko dalam siniar bersama Presiden NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari.
Karenanya terpatri benar dalam benaknya bagaimana bisa mewujudkan cita-cita menjadi juara. Bukan sebatas sorakan atau tepuk tangan, juara yang dia cita-citakan adalah bagaimana bisa membantu orang tuanya keluar dari kemiskinan.
Perlahan tekad Eko dibarengi latihan giat menemukan jalannya. Sepuluh bulan mengawali latihan angkat besi, dirinya berhasil menjadi yang terbaik, medali emas di kejuaraan nasional. Dari situ wawasan Eko terbuka dan makin bersemangat mengincar prestasi yang lebih tinggi, tak tanggung-tanggung yaitu emas Olimpiade.
“Pelatih bilang nanti kalau levelnya di Olimpiade, saya bisa bantu orang tua saya,” kenang pria 36 tahun ini.
Eko pun menjalani hari-hari penuh perjuangan dalam menggapai mimpinya. Tak mudah, butuh lima tahun baginya untuk bisa masuk ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di 2006. Dirinya lantas dipercaya mewakili Merah Putih di ajang internasional, kejuaraan dunia junior angkat besi tahun 2006 di Hangzhou.
Pada kejuaraan dunia pertamanya itu, Eko berhasil meraih medali perak. Setahun berikutnya pada 2007, dia akhirnya mendulang medali emas dalam kejuaraan dunia junior angkat besi yang berlangsung di Praha.
Emas inilah yang membuka jalan Eko mengangkat derajat kedua orang tuanya. Karena atas prestasinya tersebut, dia diganjar bonus dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) kala itu senilai Rp25 juta, yang digunakannya untuk membeli tanah bagi kedua orang tuanya.
“Bersamaan dengan saya dapat bonus itu, tidak sengaja orang tua di kampung bertemu orang yang mau jual tanah. Jadi langsung saya kirim uangnya buat beli tanah itu,” kisah lifter peraih empat medali Olimpiade ini.
Setelah mampu membelikan kedua orang tuanya tanah, rasa waswas Eko saat pertama merantau pun sirna. Dia makin bersemangat mencetak prestasi mengharumkan nama bangsa. Hasilnya di SEA Games 2007 Thailand, Eko kembali meraih medali emas.
Lagi-lagi, bonus yang didapatkannya dari Pemerintah atas medali emas ini dia persembahkan buat keluarga, untuk membangun rumah di atas tanah tersebut.
“Itu pertama kalinya di multievent saya bisa dapat medali. Bonusnya kan lumayan, Rp200 juta. Dari situ saya pulang ke Lampung itu, orang tua saya menjemput di bandara, mereka menangis haru. Karena bonusnya benar-benar buat membangun rumah, dari kami yang sebelumnya tidak punya apa-apa,” urai Eko.
Orang tua Eko yang sebelumnya sempat tak setuju dengan keputusannya menjadi atlet pun kini memberikan dukungan penuh. Berbekal doa mereka dan latihan serta disiplin, Eko Yuli melesat menjadi lifter Indonesia paling konsisten dalam keikutsertaan di Olimpiade.
Tercatat sudah lima kali dia mewakili Indonesia di ajang olahraga terbesar di dunia ini secara beruntun, mulai dari Beijing 2008 hingga Paris 2024. Dengan pencapaian dua medali perak, masing-masing pada kategori 62 kilogram di Olimpiade 2016 dan kategori 61 kilogram di Olimpiade 2020, serta dua medali perak masing-masing kategori 56 kilogram di Olimpiade 2008 dan 62 kilogram di Olimpiade 2012.
Berbagai prestasi telah dicetak Eko dalam ragam keikutsertaannya di ajang-ajang dunia. Pundi-pundi medali emas pun banyak dikoleksinya, bersama dengan bonus-bonus rupiah yang didapatkannya sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah.
Bonus-bonus itu dimaksimalkannya demi masa depan keluarganya, termasuk membelikan sawah untuk kedua orang tuanya.
“Bonus Olimpiade Beijing kalau tidak salah Rp300 juta, saya belikan sawah untuk orang tua. Setelah itu orang tua bertani di sawah sendiri. Sebelumnya kan bertani di tanah milik orang dengan sistem bagi hasil,” sebut Eko yang pernah merintis usaha sepatu latihan angkat besi ini.
Bukan itu saja, kecintaan Eko pada angkat besi membuatnya membangun sasana tempat latihan angkat besi miliknya sendiri di Bekasi dari bonus-bonus prestasi yang dikumpulkannya. Sasana ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana olahraga angkat besi dengan langsung dilatih oleh Eko, sebagai sarana regenerasi atlet.
“Saya membangun sasana ini untuk bisa mendidik anak-anak latihan, bibit-bibit yang bisa menuju Olimpiade seperti saya. Saya dahulu dari awal juga seperti ini, bertemu tempat latihan, dilatih, difasilitasi, dengan program yang terarah dan sebagainya,” terangnya dalam wawancara dengan media.
“Saya pengin anak-anak di sini juga bisa merasakan hal yang sama yang saya rasakan, membantu mereka untuk bisa membantu keluarganya, orang tuanya, kalau bisa sukses dan berhasil nanti,” harap Eko.
