Kisah Jufriadi, Disabilitas Pelatih Bola Asal Riau Pergi Haji ke Tanah Suci

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jufriadi saat melatih SSB. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Jufriadi saat melatih SSB. Foto: Dok. Pribadi

Langkah kaki Jufriadi terlihat berbeda dari kejauhan. Dengan dua tongkat di tangan, langkah per langkah ia tapaki saat baru tiba di Madinah, Arab Saudi, Minggu (3/5).

Pria asal Desa Sungai Paku, Kecamatan Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, hanya memiliki satu kaki. Namun tak menghentikan langkahnya ke tanah suci untuk beribadah haji tahun ini.

Jufriadi tergabung dalam Kloter 8 Embarkasi Batam. Keberangkatannya kali ini terasa begitu emosional karena ia berangkat untuk menggantikan posisi almarhum ayahnya.

"Sampai sekarang masih terasa mimpi. Tidak terlalu yakin dipanggil ke sini. Tapi dengan kuasa Allah, Allah panggil ke sini," kata Jufriadi memulai kisahnya.

Kecelakaan 22 Tahun Silam

Kondisi fisik Jufriadi berubah sejak tahun 2004. Saat itu, ia mengalami kecelakaan tragis sepulang sekolah yang mengakibatkan kaki kanannya harus diamputasi. Kehilangan satu kaki tidak lantas membuatnya menarik diri dari dunia luar.

Di kampung halamannya, Desa Sungai Paku, Jufriadi dikenal sebagai sosok yang aktif. Dengan keterbatasan yang ada, ia adalah seorang pelatih sepak bola. Ia mendedikasikan waktunya untuk melatih anak-anak di Sekolah Sepak Bola (SSB) Tuah Degi.

"Sehari-hari saya melatih SSB Tuah Degi di Desa Sungai Paku" tuturnya.

Menjelang keberangkatan ke Arab Saudi, Jufriadi sadar ibadah haji memerlukan fisik yang kuat. Ia pun melakukan persiapan mandiri secara konsisten.

Setiap hari, ia rutin melakukan jalan kaki dengan tongkat mengelilingi lapangan bola tempatnya biasa melatih anak-anak.

"Persiapan fisik paling-paling jalan kaki, keliling lapangan bola. Insya Allah saya yakin menjalankan ibadah haji, Allah kuatkan," ucapnya optimis.

Jufriadi saat ditemui di Bandara Madinah. Dok MCH Foto: Dok. MCH

Mukjizat ke Tanah Suci

Bagi Jufriadi, panggilan ke Baitullah adalah sebuah mukjizat. Di Tanah Suci nanti, ia sudah menyiapkan serangkaian doa, baik untuk almarhum ayahnya maupun untuk rekan-rekan di kampung.

"Doa-doa semoga diterima amal ibadahnya, jadi haji yang mabrur. Semuanya sehat-sehat, kawan-kawan yang lagi berhaji juga semua lancar," pungkasnya.