Kisah Juru Kunci Makam Disabilitas di Kudus, 18 Tahun Kerja Ikhlas Tanpa Digaji

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Disabilitas yang berprofesi sebagai juru kunci, Maslichan (53) berada di kawasan makam Pangeran Pospuyodo Singopadon di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Disabilitas yang berprofesi sebagai juru kunci, Maslichan (53) berada di kawasan makam Pangeran Pospuyodo Singopadon di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

Setiap pagi, Maslichan membuka gerbang makam Pangeran Pospuyodo Singopadon di Desa Singocandi, Kudus. Dengan satu tangan yang tersisa, pria 53 tahun itu membersihkan area makam, menyambut peziarah, hingga merawat kawasan makam yang telah dijaganya selama hampir dua dekade tanpa bayaran.

Maslichan merupakan penyandang disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Keikhlasannya mengabdi sebagai juru kunci makam Pangeran Pospuyodo Singopadon dijalaninya lebih dari 18 tahun tanpa berharap mendapatkan gaji.

Maslichan menjalani perannya sebagai juru kunci di makam Pangeran Pospuyodo Singopadon sejak tahun 2007. Rumah dinasnya berada di depan makam. Ia menggantikan ayahnya, Jasipan, yang sebelumnya juga menjadi juru kunci.

Sejak 2007 sampai 2025, ia bekerja dengan ikhlas sebagai juru kunci meski tak pernah menerima gaji. Ia baru menerima gaji dalam kurun waktu enam bulan terakhir di tahun ini usai diusulkan oleh pihak desa setempat.

Diketahui, sosok Pangeran Pospuyodo Singopadon dahulu merupakan juru bicara Sunan Kudus. Makam Pangeran Pospuyodo Singopadon diperkirakan sudah ada sejak tahun 1600-an.

Disabilitas yang berprofesi sebagai juru kunci, Maslichan (53) berada di kawasan makam Pangeran Pospuyodo Singopadon di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

Di area makam terdapat empat makam yang masih berdiri. Keempatnya yakni makam Pangeran Pospuyodo Singopadon, makam istri Pangeran Pospuyodo Singopadon, makam putri Pangeran Pospuyodo Singopadon, dan makam menantu Pangeran Pospuyodo Singopadon.

Maslichan menceritakan, tangan kirinya diamputasi karena terkena petasan pada 1999.

Kendati menjadi penyandang disabilitas, ia mengaku tak kesulitan menjalankan tugasnya sebagai juru kunci makam Pangeran Pospuyodo Singopadon serta menjadi marbut di Masjid Baitul Maqdis yang lokasinya masih di sekitar makam. Ia juga aktif membantu istrinya berjualan di warung di sekitar makam Pangeran Pospuyodo Singopadon.

"Aktivitas sebagai juru kunci dan marbut masjid saya jalani seperti biasa. Meski kehilangan tangan kiri, saya masih mampu beraktivitas," katanya, Rabu (29/4).

Dalam benaknya, ia tak berharap apa pun dari profesi juru kunci. Ia hanya berniat ibadah dan menjalankan perintah dari leluhur. Hal itu tercermin selama 18 tahun rela tak digaji sebagai juru kunci.

"Baru ada gaji enam bulan terakhir ini karena diusulkan dari pihak sini," ujarnya.

Selama menjadi juru kunci, ia mengaku tak pernah mengalami tantangan berarti. Ia selalu bersyukur dan menjalankan amanah sebagai juru kunci dengan keikhlasan.

Disabilitas yang berprofesi sebagai juru kunci, Maslichan (53) berada di kawasan makam Pangeran Pospuyodo Singopadon di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

Sebagai juru kunci, ia bertugas membersihkan area makam. Selain itu, setiap ada tamu atau peziarah dirinya mendampingi. Setiap ada haul (peringatan hari wafatnya Pangeran Pospuyodo Singopadon), ia bersama istri dan masyarakat setempat memperingati dengan berbagai kegiatan.

"Haul beliau 17 Muharram. Biasanya ada pengajian dan membagikan nasi jangkrik (nasi dengan daging kambing atau kerbau yang dibungkus daun jati) sekitar seribuan porsi," jelasnya.

Sementara itu, istri Maslichan, Aris Kustini (51), menyampaikan kondisi suaminya yang kehilangan tangan kiri tidak menjadi kendala. Aris menyampaikan, suaminya masih mampu menjalani profesi sebagai juru kunci serta marbut masjid.

"Alhamdulillah tidak ada kendala. Suami saya masih bisa beraktivitas dan membantu saya di warung. Anak-anak juga tidak malu dengan kondisi ayahnya," imbuhnya.