Kisah Kurir Difabel di Medan Masuk Desil 6-10

Meski langkahnya harus dibantu tongkat, Iqbal Marqori (32) tetap semangat menjalani hidup. Ia mendapat sesuap nasi lewat pekerjaanya sebagai seorang kurir pengantar makanan.
Pria warga Medan, Sumatera Utara, itu kesulitan berjalan usai mengalami kecelakaan pada 2015 silam. Ia kehilangan kaki kanannya karena harus diamputasi.
Jatuh bangun rintangan telah dilalui Iqbal. Sebelum ia memijakkan tanah di Kota Medan, ia sempat berjualan kerupuk di Padang, Sumatera Barat, pada 2020.
"Dikasih pekerjaan, cuma kita cari pekerjaan di sana (Padang) tidak dapat. Cari kerja susah, apalagi keadaan kita seperti ini. Makanya saya bersyukur kali waktu itu ada yang nawarin kerjaan jualan kerupuk. Tidak apa-apa, asal tidak minta-minta," kata Iqbal saat ditemui di kediamannya di Medan, Senin (31/8).
Lalu, Iqbal berencana ke Kota Medan untuk mencari pekerjaan dan menginap di rumah saudara iparnya. Rumah itu merupakan rumah kontrakan yang disewa Rp 7 juta per tahun.
Ia pun mencoba menjadi seorang kurir online pengantar makanan dan berpenghasilan rata-rata Rp 150.000. Terkadang, Iqbal mendapatkan penghasilannya hanya cukup untuk mengisi bensin.
"Pernah sehari tidak dapat gaji. Cuma cukup untuk biaya BBM, kadang kalau sepi orderannya gitu," ujar Iqbal.
Sesekali, Iqbal mendapatkan uang tip hingga beras dari pelanggannya. Sehingga uang tersebut bisa disisihkan untuk dirinya dan saudaranya.
"Pernah kecelakaan juga di jalan dan ganti rugi barang. Kalau barang terjatuh itu kan kesalahan kita juga. Saya pegang handphone sambil lihat maps itu. Jadi tidak tahu tiba-tiba jatuh dari gantungan itu sampai pecah. Waktu sampai ke customer saya bilang 'Ya sudah kita ganti ya kak'. Namanya kesalahan kita kan," imbuh Iqbal.
Iqbal tidak berani untuk menjadi driver ojek online untuk mengantar orang. Sebab, ia takut dengan kondisinya tanpa kaki sebelah kanan dapat membahayakan penumpang.
Terkadang, saat Iqbal mengantarkan makanan atau barang yang ukurannya besar, pelanggan pun membantu dirinya.
"Kesulitan angkat barang. Kadang dibantu orang gitu kan kalau yang lebih berat. Tapi kalau bisa ya saya angkat sendiri, tapi kalau berat ya tidak bisa," ucap Iqbal.
Masuk Desil 6-10
Suatu saat Iqbal iseng mengecek golongan desil di laman Kemensos. Ia terkejut karena ternyata masuk Desil 6-10 dengan kondisi ekonomi yang seadanya.
Hal tersebut membuatnya masuk ke dalam daftar golongan orang dengan tingkat kesejahteraan menengah ke atas sehingga tidak mendapatkan bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah.
"Nah itu lah yang tidak tahu. Saya tidak tahu awalnya. Pas dikasih tahu, saya kaget Desil tinggi. Ini Desilnya orang kaya gitu. Makanya tidak pernah dapat sembako gitu kan. Tidak pernah dapat apa-apa saya, beras aja tidak. Saya Desil 6-10, keterangannya di situ saya tidak menerima bansos," ucap Iqbal.
Iqbal mengaku sepeda motor yang dipakai olehnya merupakan milik adik iparnya.
"Tidak ada (aset). Motor pun punya adik ini. Bingung saya makanya, di kampung aja saya tidak ada apa-apa. Di Padang sana saya tinggal ya rumah nenek," ucap Iqbal.
Belum pernah petugas Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mensurvei rumah Iqbal maupun Iqbal sendiri.
Iqbal berharap kepada pemerintah agar mendapatkan bantuan sosial dan juga berharap agar mendapatkan bantuan modal usaha untuk berjualan sembako. Sebab, menjadi seorang kurir antar makanan sangat berbahaya bagi dirinya dengan kondisi yang dialaminya.
"Harapan saya kalau bisa ada modal. Saya ingin jualan aja gitu, coba buka usaha. Karena narik kayak gini berbahaya juga di jalan. Saya pengin kayak jualan sembako gitu lah," ucap Iqbal.
"Saya niat dalam hati aja lah, yang penting saya tidak pernah menyerah. Ngapain saya minta-minta, saya masih sehat kok, masih bisa bergerak. Kayak mana saya ingin bekerja, ya kayak gitulah dari awal," pungkas Iqbal.
