Kisah Para Penjaga Ciremai: Merawat Rimba, Menembus Medan Terjal

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning terus bergerak memadamkan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai.Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning terus bergerak memadamkan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai.Foto: kumparan

Asap pekat menggantung di antara pepohonan Gunung Ciremai. Di tengah medan terjal dan batu-batu tajam, langkah para relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning terus bergerak menuju titik kebakaran di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di wilayah Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Api melahap lahan di tiga blok kawasan konservasi itu sejak Senin (7/9/2026) siang.

Berdasarkan laporan kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, titik api pertama kali terlihat membubung tinggi sekitar pukul 14.00 WIB. Kepulan asap pekat mulanya muncul dari Blok Cileutik, sebelum akhirnya merembet cepat ke area sekitarnya.

Dari titik awal itu, api kemudian menjalar ke Blok Cimaung dan Blok Manguntapa. Ketika informasi kebakaran diterima pada Senin malam sekitar pukul 20.00 WIB, BPBD Kabupaten Kuningan langsung menerjunkan Tim Assessment dan Penanganan Darurat ke lokasi.

Pemadaman dilakukan secara kolaboratif. Balai TNGC, MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, unsur TNI, Polri, serta warga sekitar bersama-sama berupaya mengendalikan api yang menjalar di kawasan konservasi tersebut.

Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning terus bergerak memadamkan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai.Foto: kumparan

Medan menjadi tantangan tersendiri. Jalur terjal dengan batu-batu tajam membuat perjalanan menuju titik api tidak mudah. Namun, kondisi seperti itu bukan sesuatu yang asing bagi para relawan yang terbiasa keluar-masuk kawasan hutan untuk menjalankan misi konservasi.

Bagi mereka, rintangan di tengah rimba Ciremai adalah bagian dari tanggung jawab untuk memastikan hutan tetap menjadi ruang hidup bagi alam sekaligus masyarakat di sekitarnya.

Merawat Urat Nadi Kehidupan

Bagi masyarakat di sekitar kaki Gunung Ciremai, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan yang membentang di lereng gunung. Rimba telah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka, tempat menggantungkan penghidupan sekaligus ruang yang menyimpan sejarah hubungan antara masyarakat dan alam.

Namun, perubahan status kawasan dari Perhutani menjadi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada 2004 sempat membuat hubungan itu renggang.

"Ketika berubah status jadi taman konservasi, masyarakat tidak bisa mengambil hasil hutan. Terputus silaturahmi mereka dengan Gunung Ciremai," ungkap H. Nandar Junar Arip, Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning kepada kumparan saat mop up (pendingin) di lokasi kebakaran, Rabu (9/9/2026) malam.

Hubungan yang sempat terputus itu perlahan dicari jalan keluarnya. Kelestarian alam dan kebutuhan masyarakat kemudian dipertemukan melalui program kemitraan konservasi.

Salah satunya melalui kehadiran zona tradisional. Ruang legal tersebut memungkinkan warga memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), seperti kopi dan getah, tanpa harus berhadapan dengan hukum.

Dengan skema itu, masyarakat tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai pihak yang harus dijauhkan dari kawasan hutan. Mereka justru dilibatkan untuk ikut menjaga dan merawat kawasan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning terus bergerak memadamkan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai.Foto: kumparan

Dari Pemburu Jadi Pelindung

Perubahan itu terlihat dalam perjalanan Paguyuban Silihwangi Majakuning.

Sejak Oktober 2022, paguyuban tersebut resmi berdiri sebagai mitra TNGC. Salah satu pilar utamanya berfokus pada pembentukan relawan Masyarakat Peduli Api (MPA).

Di balik keberadaan para relawan itu, ada cerita tentang perubahan cara pandang masyarakat terhadap hutan. Warga yang sebelumnya bergantung pada hasil buruan perlahan mengambil peran berbeda: menjaga kawasan yang dahulu mereka datangi untuk berburu.

Nandar melihat perubahan tersebut sebagai salah satu hasil penting dari proses pendampingan dan kemitraan konservasi.

"Alhamdulillah, anggota-anggota kita yang dulunya suka berburu, sekarang jadi anggota MPA. Mereka berpaling menjadi pemanfaat hasil hutan bukan kayu yang lebih lestari," tutur Nandar.

Kini, secara administratif tercatat ada 1.076 anggota yang tersebar di 28 desa. Kantor utama Paguyuban berada di Setianegara, Kuningan, serta memiliki basis posko di Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Majalengka.

Para relawan bergerak menopang tiga pilar utama, yaitu Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan.

Ketiganya menjadi bagian dari upaya menjaga Ciremai dengan melibatkan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Foto: kumparan

Menghijaukan Lahan, Menghalau Api

Menjaga hutan tidak selalu berarti berhadapan dengan kobaran api. Jauh sebelum api muncul, para relawan juga bekerja menyiapkan kembali kehidupan yang tumbuh dari tanah.

Di sektor pengawetan, mereka mengelola pembibitan pohon endemik seperti kihujan dan kijamuju. Tanaman produktif seperti nangka dan petai juga ikut dibudidayakan.

Di Setianegara saja, kapasitas pembibitan mampu menampung hingga 100.000 pohon. Jumlah tersebut cukup untuk mendukung penghijauan sekitar 100 hektare area.

Namun, ketika ancaman si jago merah datang, peran mereka berubah menjadi lebih mendesak. MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning menjadi salah satu garda terdepan dalam menghadapi kebakaran yang mengintai kawasan Ciremai.

Luas kawasan TNGC mencapai 15.000 hektare. Dari luasan tersebut, data Balai TNGC mencatat sekitar 35 persen atau 5.000 hektare di antaranya merupakan area rawan kebakaran.

Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning terus bergerak memadamkan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai.Foto: kumparan

Karena itu, patroli menjadi bagian penting dari keseharian para relawan. Mereka menyusuri titik-titik rawan untuk mencegah munculnya titik api sekaligus mengantisipasi pembalakan liar dan perburuan.

Ketika kebakaran terjadi di Pasawahan, tugas tersebut kembali diuji. Di tengah asap dan medan yang tidak mudah dilalui, para relawan harus memastikan api tidak terus menjalar dan bara yang tersisa tidak kembali membesar.

"Kita di sini lebih ke optimasi patroli, terutama di daerah-daerah rawan kebakaran. Ini cara kita menjaga kawasan," pungkas Nandar.

Kebakaran di Pasawahan menjadi pengingat bahwa menjaga Gunung Ciremai bukan pekerjaan satu pihak. Ada petugas, relawan, aparat, dan masyarakat yang harus bergerak bersama ketika api mulai mengancam.

Bagi Paguyuban Silihwangi Majakuning, menjaga gunung juga berarti menjaga hubungan masyarakat dengan hutan. Kemitraan konservasi membuka jalan agar warga tidak lagi diposisikan berseberangan dengan kawasan konservasi, melainkan menjadi bagian dari upaya merawatnya.

Di antara asap yang perlahan menipis dan medan terjal yang kembali sunyi, para relawan meninggalkan satu pesan sederhana, Ciremai akan lebih kuat dijaga oleh mereka yang merasa memiliki hubungan dengan gunung itu.