Kisah Para Polwan Dunia di IAWP 2026: Bicara Tantangan hingga Kesetaraan Gender

Ratusan polisi wanita (polwan) dari berbagai negara di dunia mendatangi Bali pada Minggu (20/9). Mereka mengikuti konferensi pelatihan tahunan ke-63 dari International Association of Women Police (IAWP) 2026.
Ajang forum internasional untuk polwan tersebut diikuti oleh 450 peserta dari 43 negara. Jumlah peserta terbesar adalah dari Indonesia sebanyak 164 peserta, disusul Tanzania sebanyak 48 peserta dan Kanada sebanyak 36 peserta.
"Kegiatan ini terjadi tukar-menukar informasi, pengalaman, dan tentunya juga semangat untuk meningkatkan kapasitas kepolisian, khususnya polisi wanita untuk terus bisa mengembangkan karier dan kemampuannya," ucap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, ketika sesi konferensi pers saat IAWP Annual Training Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/9).
Dalam ajang tersebut, Listyo juga berharap polwan di Indonesia dapat menduduki posisi strategis atau bahkan pucuk kepemimpinan, seperti halnya Australia, Belanda, dan Barbados. Hingga saat ini, terdapat 29 ribu personel polwan atau 6,2 persen dari total 450 ribu personel Polri.
Salah satu kisah sukses polwan Indonesia datang dari Wadirreskrimum Polda Lampung, AKBP Heti Patmawati. Saat masih menjabat sebagai Kapolres Lampung Timur, Heti mendapatkan penghargaan di bidang kepemimpinan (Leadership Award) dari IAWP.
Menurutnya, polwan dapat bersaing bersama polisi laki-laki dan dapat menunjukkan bahwa seorang polwan juga dapat menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik.
"Kita polwan tidak hanya menjadi polisi, tapi menjadi ibu rumah tangga dan istri. Dari Bapak Kapolri sudah sangat memperhatikan kesetaraan gender bagi polisi Indonesia," ucapnya.
Di sisi lain, Inspektur Nicole Simpson dari Royal Canadian Mounted Police (RCMP), menyebut bahwa di Kanada sendiri, para polwan berkomitmen untuk menambah jumlah personel perempuan di jajaran kepolisian. Namun, Nicole yakin, perubahan tersebut juga dibawa oleh jajaran kepolisian lainnya di dunia.
"Saya kira, kami sedang mempersempit kesenjangan antara rekan laki-laki dan perempuan. Menurut saya, kami mendapatkan kesempatan yang 20 tahun lalu mungkin tidak akan diberikan kepada kami," kata Nicole.
Tantangan yang Nicole rasakan sebagai seorang polwan adalah keraguan terhadap diri sendiri. Menurutnya, sebagai wanita, terkadang sulit untuk merayakan keberhasilan yang telah diraihnya.
"Saya rasa kami cenderung sedikit lebih rendah hati. Terkadang saya merasa apakah saya pantas berada di sana? Terkadang dibutuhkan seseorang yang baik untuk mengingatkan saya bahwa saya pantas berada di meja itu," ungkapnya.
Dari benua Eropa, Amy Nagy, Head of Media and Digital at Counter Terrorism Policing of United Kingdom, mengungkap polwan di seluruh dunia sudah memberikan kontribusi yang besar, tetapi kurang mendapatkan perhatian yang serius.
Di Inggris, Amy berhasil mengembangkan sebuah podcast tentang kepolisian yang membahas mengenai kontraterorisme. Dari siniar tersebut, terdapat kisah para perempuan dalam kepolisian, perjalanan karier mereka, dan berbagai peran yang mereka jalankan.
"Ini untuk mengapresiasi perjalanan dan peran mereka dalam kepolisian. Setiap orang memiliki cerita, setiap orang memiliki kisah luar biasa tentang apa yang telah mereka lakukan, apa yang membawa mereka hingga berada di posisi dan menjalani karier mereka saat ini," jelasnya.
Amy menilai, membagikan kisah tersebut menjadi penting karena tidak banyak masyarakat yang mengetahui sosok-sosok yang bekerja di kepolisian, terutama yang bertugas secara langsung untuk melindungi masyarakat.
"Jadi itu merupakan pengalaman yang luar biasa dan itulah alasan saya bisa berada di sini," lanjut Amy.
Cerita lainnya datang dari Nigeria, Afrika. Assistant Commissioner (ACP) of Nigerian Police, Uduak Edet, mengungkap profesi kepolisian merupakan profesi yang didominasi oleh laki-laki. Oleh sebab itu, tantangan yang dialaminya tidak berbeda jauh dengan negara lainnya.
"Sebagian besar tantangan yang kami hadapi adalah mendapatkan penerimaan, serta memperoleh penilaian dan kesempatan yang setara dengan laki-laki, terutama ketika menjalankan tugas tertentu, seperti tugas operasional dan membawa senjata," ucap Uduak.
Selain itu, Uduak menyebut tantangan bagi polwan juga termasuk menyeimbangkan kehidupan di rumah dengan pekerjaan. Namun, dia bersyukur bahwa Kepala Kepolisian Nigeria, Inspector General of Police (IGP) Olukayode Adeolu Egbetokun, mendukung isu kesetaraan gender.
"Kepolisian telah mengalami perubahan arah dengan adanya keterlibatan perempuan yang lebih inklusif," kata dia.
Uduak juga menyampaikan pesan untuk terus menjadi diri sendiri dan melakukan apa yang benar. Dengan demikian, kita dapat meninggalkan jejak yang baik di dunia.
"Kita sebenarnya sudah memiliki tempat. Hanya saja, kita belum menyadarinya dan belum mengambil tempat tersebut. Teruslah melakukan apa yang benar," ujarnya.
