Kisah Para Sopir Bajaj di Gambir: Dari Ditipu Penumpang hingga Asuh Anak Yatim

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Deretan bajaj terparkir di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Deretan bajaj terparkir di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Gambir, deretan bajaj terparkir di area kedatangan menunggu penumpang. Para sopir duduk di balik kemudi, berharap ada orang yang membutuhkan jasa mereka. Namun, dari pagi hingga malam, tak ada jaminan berapa uang yang bisa mereka bawa pulang.

Suratno (54), salah satu sopir bajaj yang mangkal di kawasan Stasiun Gambir, sudah sekitar 20 tahun menjalani pekerjaan tersebut. Sebelum menjadi sopir bajaj, ia bekerja di kawasan Tanah Abang sebelum kemudian berpindah ke Gambir sekitar 10 tahun lalu.

Bajaj yang dikemudikannya bukan milik sendiri. Setiap hari, Suratno harus membayar setoran sekitar Rp 70 ribu kepada pemilik kendaraan.

Namun, setoran itu tak selalu mudah dipenuhi. Saat ditemui kumparan, Suratno mengaku baru memperoleh Rp30 ribu dari mengantarkan seorang penumpang. Sebagian uang tersebut sudah ia gunakan untuk makan.

“Rp 30 ribu, buat makan Rp 20 ribu. Tinggal Rp 10 ribu ini,” kata Suratno saat ditemui kumparan di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9).

Suratno menyebut pendapatan sopir bajaj semakin sulit diperoleh dalam beberapa tahun terakhir. Menurut pengalamannya, jumlah penumpang berkurang sejak pandemi COVID-19. Persaingan dengan ojek dan mobil online juga turut memengaruhi penghasilannya.

“Nyari Rp 100 ribu aja enggak bisa. Setoran sudah numpuk,” bebernya.

Suratno (54), pengemudi bajaj yang telah bekerja sekitar 20 tahun, saat menunggu penumpang di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Ia bercerita pernah menunggu sejak pukul 04.00 WIB hingga sekitar pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan penumpang pertama. Dalam kondisi tertentu, ia bahkan pernah menginap di sekitar stasiun karena tidak memiliki cukup uang untuk pulang.

“Pernah kemarin enggak pulang seminggu karena enggak dapat duit. Nginap di sini digigit nyamuk,” tuturnya.

Di tengah pendapatan yang tak menentu, Suratno juga pernah mengalami kejadian tak mengenakkan.

Kala itu, enam penumpang naik bajajnya menuju Kebon Jeruk. Namun, setelah tiba di tujuan, seluruh penumpang tersebut kabur tanpa membayar ongkos.

“Begitu naik nyampe sono, enam anak lari. Enggak bayar! Lari satu-satu,” heran Suratno.

“Saya saking jengkelnya, teriak ‘Rampok’, ‘Maling’ gitu,” lanjutnya.

Alih-alih mengejar para penumpangnya, Suratno memutuskan untuk mengikhlaskan kejadian tersebut.

“Saya ikhlasin aja. Ya Allah Semoga dibukakan pintu hatinya tuh anak-anak jangan mengulang lagi,” tutur Suratno.

Meski sedang kesulitan mendapatkan penumpang, Suratno juga mengaku tetap bersedia mengantar penumpang yang memiliki uang terbatas.

“Kadang ada nenek-nenek punya duit Rp 4 ribu saya bawa. Enggak apa-apa, apalagi bawa orang hamil, seikhlasnya gitu loh. Ya kalau saya hidup cuma bisa begitu aja, bantu yang enggak punya duit,” ucapnya.

Meski kerap menghadapi kesulitan, Suratno masih berharap kondisi pekerjaannya membaik dan semakin banyak orang kembali menggunakan jasa bajaj.

“Ya semoga sehat sekeluarga, semoga bangkit lagi rezeki kita, banyak yang naik lagi lah,” harap Suratno dengan matanya yang berkaca-kaca.

Yusuf (41), pengemudi bajaj yang telah bekerja sekitar 15 tahun, saat menunggu penumpang di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Cerita lain datang dari Yusuf (41), yang akrab disapa Bang Demang. Ia telah bekerja sebagai sopir bajaj selama 15 tahun.

Pada awal bekerja sebagai sopir bajaj, Yusuf menilai kendaraan tersebut masih diminati penumpang. Ia bahkan pernah memiliki empat bajaj sebelum kondisi pekerjaannya berangsur-angsur berubah.

Namun, seluruh bajaj tersebut telah dijual. Kini, Yusuf kembali menarik bajaj milik orang lain dengan sistem setoran harian.

“Sekarang aja saya nyodok-nyodok punya orang, bajaj. Boro-boro punya bajaj,” kata Yusuf.

Setoran harian yang harus dibayar Yusuf berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu. Namun, menurutnya, pendapatan dari menarik penumpang tidak selalu cukup untuk menutup setoran, apalagi setelah dipotong biaya makan dan kebutuhan sehari-hari.

“Setoran tuh kadang ada yang Rp 60 ribu, ada yang Rp 50 ribu. Rp 50 ribu juga dari pagi sampai malam belum tentu dapat,” tuturnya.

Dari penghasilannya, Yusuf biasanya mengutamakan membeli beras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Misalkan dapat Rp 80 ribu, saya paling cukup Rp 10 ribu atau Rp 8 ribu buat rokok kopi. Sisanya 2 liter beras di rumah, yang penting beras,” jelasnya.

Saat tidak mendapat bajaj untuk dikemudikan selama sekitar tiga bulan, Yusuf pernah beralih menjadi pemulung. Ia memilih membawa gerobak untuk mengumpulkan barang bekas daripada meminta uang kepada orang lain.

“Lebih baik saya malu tapi ada hasil, daripada saya malu minta,” imbuhnya.

Di tengah perjuangannya mencari nafkah, Yusuf juga mengasuh empat anak yatim dan membesarkan dua anak kandungnya.

Dua anak yatim tersebut merupakan anak dari seorang teman yang telah meninggal dunia. Sementara dua lainnya ia temui ketika sedang menarik bajaj di kawasan Tanah Abang.

Sebagian penghasilannya digunakan untuk membiayai anak-anak tersebut. Kini, beberapa di antaranya sudah bisa menghidupi diri sendiri.

Yusuf mengaku tetap berusaha mencari nafkah di tengah keadaan yang sulit karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan anak-anak yang pernah diasuhnya.

“Alasannya itu cuma satu, keyakinan. Kalau kita yakin sama Allah, yakin dapat makan walaupun sebutir beras,” terang Yusuf.

Yusuf berharap suatu hari bisa kembali memiliki bajaj sendiri agar tidak perlu membayar setoran setiap hari. Menurut perkiraannya, ia membutuhkan sekitar Rp 15 juta untuk membeli bajaj.

“Kalau ada rezeki, itu kalau ada. Kalau enggak ada rezeki ya kadang pinjam sana-sini aja susah,” ujarnya.

Untuk sementara ini, ia masih bertahan menarik bajaj sambil mencari peluang pekerjaan lain. Ke depannya, ia berharap bisa memperoleh penghasilan yang lebih stabil untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membayar tunggakan kontrakan.

“Jangan buang waktu, dapat uang enggak dapat uang, yang penting keluar dari rumah dari gelap ketemu gelap,” pungkasnya.