Kisah Pasutri Pedagang Sayuran di Cirebon Naik Haji: Nabung Rp 20 Ribu per Hari
ยทwaktu baca 3 menit

Kisah inspiratif perjuangan untuk bisa berangkat ibadah haji terus memotivasi mereka yang saat ini tengah mengupayakan hal yang sama.
Salah satu kisah inspiratif kali ini datang dari pasangan suami-istri asal Cirebon bernama Hasanudin Masngad Sarti (61) dan Kudaedah Abdul Hayi (60). Keduanya menabung belasan tahun hingga akhirnya bisa melunasi biaya berhaji dari hasil jualan sayuran.
Ditemui di Bandara Prince Mohammed Bin Abdulaziz, keduanya tergabung dalam kloter KJT 05 diberangkatkan lewat Bandara Internasional Kertajati. Sebelum berjualan sayur, Hasanudin bercerita sempat merantau ke Jakarta berjualan asinan buah.
"Jualan asinan mangga, kedondong, jambu. Saat itu penghasilan enggak tentu, kadang Rp 100.000, Rp 70.000, Rp 50.000. Namanya nasib kita orang susah, kadang gede kadang kecil. Hasil dari jualan itu ngumpulin terus, pokoknya ngumpulin lah. Sudah dapet ya daftar haji, ada lah jualannya 12 tahun di Jakarta," ujarnya, Sabtu (25/4) malam.
Setelah mendapat cukup modal, Hasanudin kembali pulang ke kampung halaman dan mulai berjualan sayuran.
"Saya sudah punya modal pulang ke kampung tahun 2010, berhenti jualan di Jakarta. Pindah dagang sayuran di Pasar Japura," ucapnya.
Namun, kebiasaan menabung di Jakarta itu tetap ia teruskan saat berjualan di Cirebon.
"Abis itu nabung, kan sudah daftar (haji). Nanti lunasinya darimana buat langkah selanjutnya kalau enggak nabung," ucapnya.
Penghasilan dari berjualan sayuran juga tidak menentu.
"Dari jualan sayur dapatnya sedikit, sehari Rp 200.000, Rp 300.000 paling bersihnya Rp 70.000, Rp 60.000, dipakai beli beras lauk juga habis. Tapi tetap disisihkan sedikit," imbuhnya.
Di sisi lain, pasutri ini juga berjuang membiayai tujuh orang anak. Meski demikian, tekad mereka sangat kuat untuk berhaji.
"Jualan sayuran, ada cabe, bawang, kol, tomat, palawija, kacang panjang, terong, daun bawang. Harga sayuran sekarang lagi mahal-mahal, jadi kalau untung pun sedikit," kata Kudaedah.
Biaya pendaftaran haji diingatnya senilai Rp 25,5 juta.
"Setelah daftar, tabungan haji itu ditabung terus. Enggak tentu sih, sedikit-sedikit. Nabung sehari kadang Rp 20.000, Rp 30.000, kadang kalau jualan lagi ramai ya Rp 50.000. Ibu ikut arisan di pasar, hasil nabung itu dibayarkan ke arisan. Kalau menang arisan langsung ditabung ke bank. Kalau enggak nabung takut pas ngelunasin enggak bisa bayar, darimana coba? Makanya harus nabung terus," tuturnya.
Dia dan suami berharap ibadah haji diterima Allah SWT. Mereka juga ingin mendoakan anak dan orang tua dari Tanah Suci.
"Pengin naik haji ya mudah-mudahan jadi haji mabrur. Pengin doain semuanya, anak-anak. Paling ingat terutama sama orang tua tinggal satu, kalau bapaknya sudah meninggal. Ibu sekarang tinggal sama aku. Jadi mau saya doain dari Makkah," ucapnya.
