Kisah Pedagang Sayur Keliling di Lampung Naik Haji, Nabung Rp 5-10 Ribu per Hari
·waktu baca 2 menit

Impian bertahun-tahun untuk naik haji yang dipendam pedagang sayur keliling bernama Adna Yusri (58) di Desa Karang Jaya, Merbau Mataram, akhirnya akan terwujud tahun ini. Ia dijadwalkan berangkat haji pada 5 Mei 2026.
Perjalanan ini menjadi buah dari kerja keras dan ketekunannya selama puluhan tahun menabung. Ia setiap hari menyisihkan uang dalam jumlah kecil.
“Ya nabung dari uang kecil-kecil, kadang Rp 5 ribu, Rp 10 ribu. Kalau lagi ramai bisa sampai Rp 20 ribu per hari,” kata Adna.
Dengan omzet harian yang rata-rata di bawah Rp 100 ribu, ia tetap berusaha disiplin menabung. Baginya, konsistensi adalah kunci hingga tabungan tersebut perlahan terkumpul cukup untuk mendaftar haji.
Menurut Adna, cita-cita untuk berangkat ke Tanah Suci sebenarnya telah lama ia impikan, bahkan sejak sebelum menjadi pedagang sayur.
Saat masih bertani, Adna pernah berharap hasil kebunnya bisa membiayai keberangkatan haji. Namun, berbagai kebutuhan keluarga membuat impian itu sempat tertunda.
“Dulu nanam jati, nanam cokelat, pengennya buat naik haji. Tapi hasilnya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau dagang sayur ini walaupun kecil, tapi tiap hari ada pemasukan,” tuturnya.
Ingin Berangkat Haji dengan Istri
Di balik kebahagiaan tersebut, tersimpan kesedihan mendalam. Adna harus berangkat seorang diri tanpa ditemani sang istri, padahal ia sangat berkeinginan untuk berangkat bersama.
“Sebenarnya pengennya berangkat berdua. Tapi waktu itu belum cukup biaya. Istri saya yang menyuruh saya daftar duluan. Dia bilang, ‘Bapak saja yang berangkat, saya nggak apa-apa’,” katanya lirih.
Menurut Adna, keputusan tersebut bukanlah hal yang mudah. Ia merasa sedih harus meninggalkan istri yang telah berjuang bersamanya sejak awal. Namun, ia memilih pasrah dan menyerahkan semuanya kepada kehendak Tuhan.
“Kalau ingat itu saya sedih. Dari nol berjuang bersama, tapi berangkatnya sendirian. Tapi saya pasrah, kalau Allah berkehendak, nanti istri saya juga bisa menyusul,” ujar Adna.
Adna berharap, setibanya di Tanah Suci, ia dapat memanjatkan doa terbaik bagi keluarga, terutama agar sang istri juga mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji.
“Semoga anak cucu, keluarga, tetangga, dan terutama istri saya bisa dipanggil juga ke Tanah Suci,” tutupnya.
