Kisah Penumpang Usai Bandara Soetta Kembali Dibuka: dari Cancel-Kejar Flight

Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) kembali beroperasi pada Selasa (8/9). Namun, sejumlah penumpang yang penerbangannya dibatalkan akibat dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih harus berpacu mencari penerbangan pengganti.
Salah satunya Toha (42) dan rombongan calon mahasiswa Al-Azhar asal Cilacap. Mereka seharusnya terbang dari Soetta menuju Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa pukul 05.00 WIB. Namun, penerbangan tersebut dibatalkan setelah sebelumnya Soetta terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Padahal, Kuala Lumpur hanya menjadi titik transit sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Kairo, Mesir, pada Selasa malam.
Toha mengatakan, ia bersama rombongan tiba di bandara sekitar pukul 23.00 WIB, Senin (7/9), untuk mempersiapkan keberangkatan. Setelah penerbangan dibatalkan, mereka harus mencari penerbangan pengganti.
“Sedang menunggu penerbangan lanjutan yang kemarin atau tadi malam sempat di-cancel karena ya faktor yang hari ini sedang terjadi. Jadi kita harus reschedule ulang. Tapi ini tadi sudah diminta apa sama tim, sudah sedang diusahakan untuk lanjutan ke tiket ke Kuala Lumpur,” kata Toha saat ditemui kumparan di Terminal 3 Bandara Soetta, Selasa (8/9).
Toha menjelaskan, penerbangan menuju Kuala Lumpur hanya merupakan perjalanan transit. Tujuan akhir rombongan adalah Kairo, Mesir, untuk mendampingi sejumlah calon mahasiswa yang akan melanjutkan studi di Al-Azhar.
“Ya, kalau di Kuala Lumpur hanya transit. Kita tujuan akhirnya ada di Mesir, Al-Azhar Kairo. Kita ada berapa calon mahasiswa Al-Azhar yang mau studi di sana,” jelas Toha.
Berpacu Mengejar Penerbangan ke Kairo
Menurut Toha, rombongan harus sudah tiba di Kuala Lumpur sekitar pukul 16.00 WIB. Sebab, mereka memiliki penerbangan lanjutan menuju Mesir yang dijadwalkan berangkat pukul 19.00 WIB.
“Iya, sedang nyari. Semoga sih nanti nemu karena kita sudah harus di Kuala Lumpur itu jam 4, sudah harus terbang. Karena di Kuala Lumpur ini sudah (ada pesawat) menunggu nanti di jam 7 malam (ke Mesir),” ungkap Toha.
Karena itu, Toha dan rombongan berpacu mencari penerbangan pengganti yang memungkinkan mereka tiba di Kuala Lumpur tepat waktu.
Jika tidak mendapatkan penerbangan yang sesuai, mereka harus menjadwalkan ulang perjalanan.
“Ya kita harus schedule ulang. Iya, kemungkinan terburuk ya apa kita cari jadwal terbaru,” ujarnya.
Terkait biaya, Toha mengatakan informasi yang diterimanya, tiket penerbangan yang dibatalkan dapat direfund 100 persen.
“Biaya refund 100 persen. Informasi yang kita dapet gitu,” katanya.
Taty Keluar Biaya Lebih dari Rp 10 Juta
Dampak pembatalan penerbangan juga dirasakan Taty, warga Putrajaya, Malaysia. Ia datang ke Indonesia bersama lima anggota keluarganya untuk berlibur di Bandung.
Penerbangan Taty menuju Malaysia sebelumnya dijadwalkan pada Senin (7/9) pukul 17.00 WIB. Namun, setelah tiba di bandara, ia mendapat pemberitahuan bahwa penerbangannya dibatalkan.
“Actually saya mengalami cancel. Sepatutnya flight saya semalam jam 5. Saat kami dari Bandung ke sini, masih on-schedule. Tetapi sesampainya di sini terus update dari online travel agent canceled,” tutur Taty.
Karena pembatalan tersebut, Taty dan keluarganya mencari penginapan untuk bermalam. Mereka mendapatkan homestay di kawasan PIK 2 karena penginapan di sekitar bandara disebut sudah penuh.
“Di sekitar PIK 2. Yang di sini semua sudah full sold-out. Semalam kan semua flight canceled,” sebut Taty.
Taty mengatakan pihak maskapai memberikan pilihan untuk mengganti jadwal penerbangan atau melakukan refund. Mereka memilih mengganti jadwal.
“Alhamdulillah bagi tukar flight atau di-refund, tapi kami memilih untuk tukar flight,” ujarnya.
Namun, Taty mengatakan biaya penginapan tidak mendapatkan kompensasi dari maskapai. Ia dan keluarga harus menanggung biaya tambahan untuk penginapan, makan, dan transportasi selama menunggu kepulangan.
Untuk enam orang, biaya tambahan yang dikeluarkan Taty mencapai lebih dari Rp 10 juta.
“Tapi because of kita dilanjutkan karena flight cancel, jadi kami kena tanggung itu penginapan, makan, dan transport. Jadi banyak juga, lebih 10 juta untuk enam orang,” beber Taty.
Ia mengaku pengeluaran tersebut tidak terduga karena uang yang dibawa sebelumnya sudah hampir habis digunakan selama berlibur di Bandung.
“Unexpected sangat, terkejut. Jadi cari uang ‘tabungan ayamnya’ mana nak dikorek (jadi harus mengorek tabungan yang ada),” ujar dia.
Pada Selasa (8/9), Taty dan keluarganya kembali datang ke bandara untuk memastikan kondisi penerbangan setelah Soetta kembali beroperasi.
“Tapi yang pentingnya kami mau tahu flight kami di sini macam mana sebab dalam pemberitaan, ada kata bandara sudah dibuka. Jadi kami langsung ke sini untuk cek flight,” terang Taty.
Taty mengatakan penerbangan mereka sebelumnya telah dijadwalkan ulang ke Kamis (10/9). Namun, setelah mendapat informasi terbaru di bandara, ada kemungkinan mereka bisa berangkat pada Rabu (9/9) dini hari.
Ikhwan Dua Kali Alami Pembatalan
Kondisi serupa dirasakan Ikhwan, warga Malaysia yang datang bersama tiga anggota keluarganya.
Ikhwan mengatakan seharusnya mereka pulang pada Minggu (6/9) pukul 05.00 WIB. Namun, setibanya di bandara, ia mendapat pemberitahuan bahwa penerbangannya dibatalkan dan dijadwalkan ulang menjadi Senin (8/9).
“Enggak nyangka lah. Datang flight, datang ke airport dan diberi tahu cancel, postponed, delayed kepada tanggal 8,” tutur Ikhwan.
Ia kemudian mencari hotel di Jakarta karena penerbangannya ditunda. Biaya penginapan harus ditanggung sendiri.
Pada Senin (7/9), penerbangannya yang dijadwalkan berangkat pukul 11.00 WIB kembali dibatalkan.
“Canceled lagi. Dua kali canceled,” lanjutnya.
Ketika ditanya mengenai alasan pembatalan, Ikhwan menyebut kondisi cuaca dan bencana alam.
“Alasannya karena cuacanya, bencana alam. Gunung erupsi,” sebut dia.
Setelah mengalami pembatalan kedua, Ikhwan dan keluarganya kembali harus mencari hotel.
“Sekarang family lagi cari hotel untuk nginep. Cari hotel lagi, balik lagi. Ongkosnya aduh,” ujar dia.
Sementara itu, Toha berharap kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau segera mereda sehingga perjalanan mereka dan penumpang lainnya dapat kembali berjalan lancar.
