Kisah Sengit Petani Bawang yang Tergusur Hukum Pasar

Mahasiswa: Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Akbardin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), adalah tanah yang diberkati. Letakkan benih apa saja di atas tanahnya, maka bumi Bima akan menyambutnya dengan kesuburan yang luar biasa. Sebagai pria kelahiran Bima yang kini berusia 32 tahun, saya menyaksikan sendiri bagaimana alam kami memberi penghidupan. Sifat tanah inilah yang membawa saya menceburkan diri ke dunia pertanian dari tahun 2018 hingga 2023.
Di antara sekian banyak komoditas, pilihan saya jatuh pada bawang merah. Alasan pragmatisnya sederhana: waktu panen yang relatif lebih singkat dibanding tanaman lain. Namun, di balik kalkulasi bisnis itu, ada cinta yang tumbuh di dalam lumpur dan peluh.
Menjadi seorang petani memberikan kepuasan batin yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Ada kebahagiaan magis yang membuncah di dada setiap kali melihat tunas-tunas hijau yang saya rawat dengan penuh ketelitian tumbuh subur, tegak menantang matahari. Setiap helai daunnya adalah bukti kerja keras, doa, dan harapan. Saya sangat mencintai profesi ini.
Namun, romansa menjadi petani di negeri ini sering kali berakhir tragis saat musim yang paling dinanti tiba: Panen Raya.
Paradoks Panen Raya: Berkah yang Menjelma Menjadi Musibah
Bagi petani bawang seperti saya, panen raya adalah momen yang membingungkan. Di satu sisi, hamparan bawang merah siap panen adalah pemandangan yang indah. Di sisi lain, ia adalah awal dari kecemasan yang mencekik leher.
Pada hari-hari biasa, bawang merah kami dihargai dengan layak, berkisar antara Rp25.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Angka yang cukup untuk memutar modal dan menghidupi keluarga dengan senyuman. Namun, begitu panen raya tiba dan pasokan melimpah, harga langsung terjun bebas ke titik nadi terendah: Rp9.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
Sebuah Ironi Ekonomi:
Sebagai petani, saya sangat paham hukum dasar ekonomi supply and demand—ketika barang terlalu banyak, harga pasti jatuh. Saya tidak buta akademis untuk mengerti hal itu. Namun, yang membuat hati saya kesal dan meradang adalah: Di mana peran negara saat hukum pasar mencekik produsen pangannya sendiri?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya setiap kali melihat hasil keringat berbulan-bulan dihargai begitu murah. Apakah tidak ada intervensi? Bisakah pemerintah membangun sistem resi gudang (cold storage) yang memadai agar kami tidak dipaksa menjual cepat? Bisakah ada regulasi harga acuan bawah yang benar-benar melindungi kami dari permainan pasar?
Memilih Kalah dan "Kabur" ke Jakarta
Kekecewaan yang menumpuk selama lima tahun akhirnya mencapai titik jenuh pada tahun 2023. Rasa bangga dan kepuasan batin merawat tanaman tidak lagi mampu membayar realita ekonomi yang terus merugi setiap kali panen raya datang. Ironis, tanah Bima begitu subur, tetapi kesejahteraan petaninya kering kerontang.
Dengan berat hati, saya memutuskan berhenti. Saya meninggalkan cangkul, meninggalkan bau tanah Bima yang khas, dan memilih "kabur" ke belantara Jakarta.
Jakarta, dengan segala beton dan polusinya, kini menjadi tempat pelarian saya. Pilihan ini adalah bentuk protes sunyi, sekaligus benteng pertahanan terakhir untuk bertahan hidup. Kisah saya mungkin hanya satu dari ribuan kisah petani muda yang terpaksa gulung tikar.
Melalui artikel ini, saya hanya ingin menitipkan pesan dari jauh: jika pemerintah terus membiarkan paradoks panen raya ini tanpa solusi nyata, jangan kaget jika suatu hari nanti, tanah tersubur di Indonesia hanya akan menumbuhkan gedung-gedung tua, karena para petaninya telah habis berpindah ke ibu kota.
Surat Terbuka untuk Pemerintah: Beri Kami Solusi, Bukan Sekadar Teori
Saya pergi ke Jakarta bukan karena benci bertani, melainkan karena lelah berjuang sendiri tanpa perlindungan sistemik. Oleh karena itu, dari ibu kota ini, saya ingin mengetuk pintu hati para pemangku kebijakan.
Petani tidak butuh kasihan, kami butuh solusi konkret. Ketika panen raya tiba, pemerintah seharusnya bisa hadir melalui beberapa langkah nyata:
Optimalisasi Sistem Resi Gudang & Cold Storage: Agar bawang merah kami bisa disimpan lebih lama saat harga jatuh, dan baru dikeluarkan saat pasar stabil.
Penetapan Harga Enceran Terendah (HET) yang Tegas: Pemerintah harus berani menjamin harga beli di tingkat petani tidak boleh merosot di bawah biaya produksi modal kami.
Hilirisasi Produk: Membantu kelompok tani mengolah bawang mentah menjadi produk turunan (bawang goreng, pasta bawang, minyak bawang) agar memiliki nilai jual tinggi saat pasokan melimpah.
Mengumpulkan Asa: Saya Akan Kembali
Melarikan diri ke Jakarta ternyata justru mempertegas satu hal di dalam hati saya: Jiwa saya tetaplah seorang petani. Kota beton ini mungkin memberikan pelarian sementara, tetapi ia tidak bisa memberikan kepuasan batin yang sama seperti saat saya melihat pucuk-pucuk bawang merah tumbuh subur di Bima.
Kekecewaan saya di masa lalu kini telah berubah menjadi sebuah rencana dan harapan baru. Saya memutuskan bahwa Jakarta hanyalah tempat persinggahan untuk mengumpulkan energi, modal, dan sudut pandang baru.
Saya berencana untuk kembali ke Bima.
Saya akan kembali mencangkul, kembali mencium aroma tanah yang subur, dan kembali menanam bawang merah. Namun, kembalinya saya nanti membawa sebuah asa besar: saya berharap pemerintah sudah mulai berbenah. Saya berharap ketika saya dan para petani Bima menggelar panen raya berikutnya, wajah-wajah kami tidak lagi layu karena harga yang anjlok, melainkan cerah penuh senyuman karena negara hadir melindungi keringat kami.
Sebab bagi saya, sejauh apa pun kaki ini melangkah, tanah subur Bima adalah tempat saya memberi arti pada hidup.
