Kita Tidak Benar-Benar Sibuk, Kita Hanya Takut Terlihat Tidak Produktif

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nida Nurfadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada masa ketika kita menganggap kesibukan sebagai sesuatu yang melelahkan. Kita berharap memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat, bertemu teman, atau sekadar menikmati hari tanpa dikejar pekerjaan. Namun, ketika akhirnya memiliki waktu luang, muncul perasaan tidak nyaman. Rasanya seperti ada sesuatu yang seharusnya dikerjakan.
Akhirnya, kita kembali mencari kesibukan.
Membuka laptop meski pekerjaan sebenarnya sudah selesai. Membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja. Mengisi akhir pekan dengan berbagai agenda. Bahkan ketika tidak ada kewajiban yang harus diselesaikan, kita tetap merasa perlu melakukan sesuatu agar hari tidak terasa sia-sia.
Tanpa sadar, kita mulai menganggap sibuk sebagai bukti bahwa hidup sedang berjalan dengan baik.
Padahal, belum tentu.
Di tengah budaya produktivitas yang semakin kuat, kesibukan sering kali menjadi sesuatu yang dibanggakan. Kita terbiasa mendengar orang mengatakan, "Lagi sibuk banget," seolah-olah kesibukan adalah tanda bahwa seseorang sedang berada di jalur yang benar. Sebaliknya, ketika memiliki banyak waktu luang, kita justru merasa tertinggal atau kurang produktif.
Masalahnya, sibuk dan produktif bukanlah hal yang sama.
Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop tanpa menyelesaikan pekerjaan yang benar-benar penting. Kita bisa berpindah dari satu tugas ke tugas lain, membalas banyak pesan, mengikuti berbagai rapat, dan tetap merasa seharian penuh aktivitas. Namun, ketika hari berakhir, kita justru bingung apa yang sebenarnya sudah diselesaikan.
Kesibukan akhirnya menjadi aktivitas yang terus bergerak tanpa selalu menghasilkan kemajuan.
Cal Newport, dalam gagasannya mengenai slow productivity, mengkritik budaya kerja yang membuat manusia merasa harus terus menghasilkan sesuatu dalam jumlah sebanyak mungkin. Menurutnya, produktivitas seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat, tetapi dari kemampuan menghasilkan sesuatu yang benar-benar bernilai tanpa mengorbankan kehidupan secara keseluruhan.
Persoalannya, kita hidup di tengah lingkungan yang sering memberikan penghargaan pada orang yang terlihat sibuk. Orang yang selalu membalas pesan dengan cepat dianggap responsif. Orang yang bekerja hingga malam dianggap berdedikasi. Orang yang memiliki jadwal penuh dianggap memiliki kehidupan yang produktif.
Akibatnya, kita tidak hanya berusaha menjadi produktif. Kita juga mulai berusaha terlihat produktif.
Di sinilah kesibukan bisa berubah menjadi semacam identitas.
Kita merasa perlu mengatakan bahwa kita sedang sibuk agar merasa memiliki nilai. Ketika tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan, muncul rasa bersalah. Ketika melihat orang lain bekerja lebih lama, kita merasa harus mengejar. Bahkan saat tubuh membutuhkan istirahat, pikiran tetap sibuk mencari sesuatu yang bisa dikerjakan.
Padahal, manusia memiliki batas.
Penelitian mengenai pemulihan dari pekerjaan menunjukkan bahwa kemampuan seseorang untuk melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan dan mendapatkan waktu istirahat sangat penting bagi kesejahteraan. Tanpa pemulihan yang cukup, seseorang justru dapat mengalami kelelahan dan kehilangan energi untuk menjalani aktivitas berikutnya.
Artinya, berhenti bukan berarti kehilangan produktivitas.
Kadang-kadang, berhenti justru merupakan bagian dari produktivitas itu sendiri.
Sayangnya, kita sering mengukur hari berdasarkan berapa banyak hal yang berhasil dilakukan. Hari yang penuh aktivitas dianggap lebih berharga daripada hari yang berjalan dengan tenang. Padahal, tidak semua hal penting dalam hidup dapat dimasukkan ke dalam daftar pekerjaan.
Mengobrol dengan keluarga tidak selalu menghasilkan sesuatu.
Berjalan-jalan tanpa tujuan tidak selalu memiliki manfaat yang bisa diukur.
Tidur lebih lama di akhir pekan tidak selalu berarti membuang waktu.
Namun, semuanya tetap memiliki nilai. Mungkin, yang membuat kita lelah bukan hanya banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Bisa jadi, kita juga lelah karena merasa harus selalu membuktikan bahwa kita sedang melakukan sesuatu.
Kita takut terlihat malas.
Takut dianggap tidak berkembang.
Takut tertinggal.
Takut ketika orang lain bertanya, "Sekarang lagi sibuk apa?"
Seolah-olah kita harus selalu memiliki jawaban yang menunjukkan bahwa hidup kita sedang berjalan. Padahal, hidup tidak selalu harus terlihat sibuk untuk memiliki arti.
Ada kalanya kita memang perlu bekerja keras. Ada masa ketika kesibukan tidak bisa dihindari. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa penuh kalender kita atau seberapa cepat kita membalas pesan pekerjaan.
Mungkin, kita tidak benar-benar membutuhkan lebih banyak waktu. Kita hanya perlu berhenti merasa bersalah ketika menggunakan waktu yang kita miliki untuk hidup.
Sebab, pada akhirnya, hidup yang produktif bukanlah hidup yang setiap menitnya terisi. Bisa jadi, hidup yang produktif adalah hidup yang mampu membedakan kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti.
Dan mungkin, tidak apa-apa jika suatu hari nanti kita tidak punya banyak hal untuk diceritakan tentang betapa sibuknya kita. Mungkin, itu justru berarti kita sedang belajar menjalani hidup dengan lebih tenang.
