Konten dari Pengguna

KKN UTA’45 Jakarta Kelompok 8 Perkenalkan Eco-Enzyme kepada Warga RW 09

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Nurwiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Praktik Pembuatan Eco-enzyme (sumber: Dokumentasi KKN UTA'45 Jakarta)
zoom-in-whitePerbesar
Praktik Pembuatan Eco-enzyme (sumber: Dokumentasi KKN UTA'45 Jakarta)

Edukasi dan praktik pembuatan eco-enzyme bersama warga Kebon Bawang

Kelurahan Kebon Bawang RW 09, Jakarta Utara — Sisa sampah organik berupa kulit buah atau sayuran yang biasanya dibuang setelah digunakan ternyata menyimpan segudang manfaat. Limbah organik tersebut dapat diolah melalui proses fermentasi menjadi cairan eco-enzyme, cairan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

Pemanfaatan limbah organik melalui pembuatan eco-enzyme diperkenalkan kepada warga RW 09, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Kelompok 8 Sore melalui penyampaian materi dan praktik pembuatan eco-enzyme bersama warga.

Warga juga diajak untuk mempraktikkan langsung pembuatan eco-enzyme, tidak hanya menerima materi. Bahan yang digunakan pun sederhana dan mudah diperoleh, mulai dari air dan gula merah hingga sisa kulit buah yang berasal dari sisa sampah rumah tangga.

Pembuatan eco-enzyme dalam kegiatan ini menggunakan perbandingan 3:1:10, yang terdiri dari tiga bagian bahan organik berupa sisa kulit buah, satu bagian gula merah atau bisa juga diganti molase, dan sepuluh bagian air, bisa air ac atau air hujan yang sudah didiamkan semalaman. Bahan yang digunakan meliputi 150 gram sisa kulit buah atau sayuran, 50 gram gula merah, serta 500 ml air. Kulit buah dan sayuran kemudian dicampurkan ke dalam wadah bersama larutan gula dan air. Wadah tidak diisi hingga penuh untuk memberikan ruang yang cukup selama proses fermentasi berlangsung.

Setelah semua bahan dimasukkan, campuran diaduk secara perlahan hingga tercampur. Wadah kemudian disimpan di tempat yang dingin, kering, dan memiliki ventilasi udara. Selama bulan pertama, wadah dibuka setiap tiga hari untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama proses fermentasi.

Proses tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Setelah masa fermentasi selesai, eco-enzyme dapat dipanen dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Eco-enzyme memiliki berbagai kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Cairan hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pembersihan, seperti membersihkan lantai, pakaian, piring, dan kloset. Selain itu, eco-enzyme juga dapat digunakan untuk membantu menyegarkan udara di dalam rumah.

Jonision A. Sigalingging, mahasiswa KKN UTA’45 Jakarta Kelompok 8 Sore yang memberikan materi dalam kegiatan tersebut, mengatakan bahwa sampah organik yang sering terbuang masih dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Dengan memanfaatkan sampah organik yang sering kali terbuang percuma, kita dapat menciptakan produk yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Selain mengurangi volume sampah, eco-enzyme juga dapat menjadi solusi ramah lingkungan untuk berbagai masalah. Dengan membuat eco-enzyme, tidak hanya berkontribusi dalam menjaga lingkungan, tetapi juga mendapatkan produk alami yang bermanfaat bagi rumah tangga.”

Pembuatan eco-enzyme memiliki prinsip yang serupa dengan proses pembuatan kompos. Perbedaannya, pembuatan eco-enzyme menggunakan air sebagai media fermentasi sehingga menghasilkan produk akhir berupa cairan yang lebih praktis untuk digunakan.

Bagi warga, kegiatan ini menjadi salah satu pengenalan terhadap cara memanfaatkan kembali limbah organik yang berasal dari rumah tangga. Kulit buah dan sisa sayuran yang sebelumnya langsung dibuang, kini dapat dikumpulkan dan diolah melalui proses fermentasi.

Dengan kegiatan tersebut, mahasiswa berharap pengetahuan yang diperoleh warga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan rumah dengan memilah dan memanfaatkan kembali limbah organik yang masih memiliki nilai guna.