KNKT Ungkap Info yang Diterima Masinis KA Argo Bromo: Rem Sedikit & Semboyan 35

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menhub Dudy Purwagandhi (tengah) bersama Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono (kiri) dan Wamen PU Diana Kusumastuti (kanan) memaparkan materi saat rapat kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menhub Dudy Purwagandhi (tengah) bersama Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono (kiri) dan Wamen PU Diana Kusumastuti (kanan) memaparkan materi saat rapat kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

KNKT mengungkap instruksi yang diterima masinis KA Argo Bromo Anggrek pada saat melaju menuju Stasiun Bekasi Timur.

Pada saat itu, di dekat Stasiun Bekasi Timur, ada KRL arah Jakarta yang menabrak taksi Green SM di perlintasan yang membuat orang berkerumun. Hal itu kemudian membuat satu KRL arah Cikarang terhenti di Stasiun Bekasi Timur. KRL arah Cikarang itu kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo.

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut Pusat Pengendali (pusdal) hanya meminta masinis KA Argo Bromo Anggrek untuk mengurangi kecepatan dan memperbanyak Semboyan 35 setelah menerima informasi adanya tabrakan KRL dengan taksi listrik. Semboyan 35 adalah semboyan suara berupa bunyi suling (klakson) lokomotif panjang yang dibunyikan oleh masinis.

Soerjanto menjelaskan, masinis sebenarnya sudah melakukan pengereman setelah menerima informasi adanya insiden di depan jalur. Namun, pusdal saat itu belum mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan karena informasi yang diterima hanya melalui komunikasi suara.

“Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman. Cuma karena situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya karena komunikasinya kan lewat suara saja, lewat voice,” kata Soerjanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5).

Ia mengatakan, pengendali operasi di Pusdal tidak memperoleh gambaran visual mengenai kondisi di lokasi kejadian. Karena itu, instruksi yang diberikan kepada masinis hanya berupa pengurangan kecepatan dan membunyikan semboyan 35.

“Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia enggak tahu, cuma memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35,” ujarnya.

Petugas menggunakan alat berat mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Menurut Soerjanto, masinis kemudian menjalankan instruksi yang diberikan oleh pengendali operasi.

“Nah itu aja yang disampaikan, sehingga masinis sudah melakukan merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai,” katanya.

KNKT juga menjelaskan alasan mengapa Pusdal tidak langsung menginstruksikan penghentian penuh terhadap laju kereta.

“Ya karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa, mereka belum tahu kondisi lapangannya seperti apa, maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan banyak-banyak memberikan semboyan 35 atau memberi klakson,” ujarnya.