Komisi A DPRD DIY Napak Tilas Jejak Pengasingan Bung Karno di Bengkulu
·waktu baca 3 menit

Komisi A DPRD DIY melakukan studi lapangan ke Museum Pengasingan Bung Karno dan rumah kelahiran Fatmawati di Bengkulu, Kamis (11/6).
Kegiatan tersebut bertujuan menggali semangat perjuangan Bung Karno selama masa pengasingan sekaligus memperkuat semangat kebangsaan dalam tata kelola pemerintahan dan keterbukaan informasi publik.
Studi lapangan diawali di Museum Pengasingan Bung Karno, lokasi tempat Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menjalani masa pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1938–1942.
Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarief Guska Laksana, mengatakan kunjungan tersebut menjadi momentum untuk meneladani semangat perjuangan Bung Karno.
“Juni ini, bertepatan dengan Bulan Bung Karno, kami melaksanakan napak tilas perjuangan Bung Karno. Meski dalam keterbatasan, beliau tetap teguh pada prinsip dan terus menyebarkan gagasan kepada masyarakat. Harapannya, nilai nasionalisme ini bisa bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintahan, baik di DIY maupun Bengkulu,” ujar Syarif dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/6).
Pengelola rumah pengasingan, Safrida Hanum, menjelaskan bangunan yang didirikan pada 1918 tersebut masih menyimpan berbagai peninggalan asli.
“Seluruh perabotan di dalam rumah ini masih asli, termasuk tempat tidur, kursi, meja, hingga sepeda. Ada juga kostum teater Monte Carlo yang didirikan Bung Karno. Di sinilah awal pertemuan Bung Karno dengan Ibu Fatmawati,” jelasnya.
Sejarawan Agus Setianto menambahkan bahwa masa pengasingan dimanfaatkan Bung Karno untuk membangun kesadaran nasionalisme masyarakat.
“Bung Karno tiba di Bengkulu pada 1938 setelah dipindahkan dari Ende. Di sini beliau mengubah keterbatasan menjadi peluang dengan melatih generasi muda melalui seni teater, olahraga, hingga diskusi. Tujuannya untuk menumbuhkan semangat nasionalisme di tengah pengawasan ketat Belanda,” ungkapnya.
Dari Museum Pengasingan Bung Karno, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke rumah kelahiran Fatmawati yang merupakan tempat kelahirannya pada 1923. Pengurus rumah, Marwan Ahmad Nadin, mengatakan bangunan tersebut masih mempertahankan bentuk aslinya.
“Di dalam rumah ini terdapat mesin jahit bersejarah yang menjadi saksi peran Ibu Fatmawati dalam perjuangan, termasuk dalam pembuatan bendera Merah Putih,” ujarnya.
Anggota Komisi A DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, menyampaikan kekagumannya terhadap sosok Fatmawati. Menurutnya, Fatmawati dikenal sudah memiliki semangat perjuangan dan kepedulian sosial yang tinggi sejak masih muda.
“Ini menjadi inspirasi bagi generasi muda dan para ibu dalam mendampingi perjuangan,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD DIY lainnya, Yuni Satia Rahayu, menekankan pentingnya belajar dari sejarah.
“Kita tidak boleh melupakan sejarah. Dari sanalah kita belajar tentang semangat persatuan yang dibangun oleh para pendiri bangsa. Nilai-nilai ini harus terus kita jaga untuk Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Komisi A DPRD DIY menegaskan komitmennya mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan dalam tata kelola pemerintahan, khususnya terkait integritas, keterbukaan informasi, dan pelayanan publik, sekaligus memperkuat sinergi dengan media massa dalam menyampaikan informasi yang transparan dan edukatif kepada masyarakat.
