Komisi III Minta Penggunaan Sound Horeg Dievaluasi: Terlalu Banyak Mudaratnya!

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta kepolisian dan pihak terkait melarang penyelenggaraan sound horeg di jalan maupun kawasan permukiman. Permintaan tersebut disampaikan menyusul tiga orang yang meninggal dunia dalam sejumlah insiden terkait karnaval dan parade sound horeg di Jawa Timur (Jatim) sepanjang Agustus 2026.
Para korban berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kru, peserta karnaval, hingga warga yang berada di sekitar lokasi kejadian. Peristiwa terbaru terjadi di Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, ketika seorang warga tertimpa kanopi dan tembok yang diduga roboh akibat getaran sound horeg yang melintas.
Sahroni menilai penyelenggaraan sound horeg telah menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat, tidak hanya karena kebisingan, tetapi juga potensi bahaya dan gangguan terhadap warga sekitar.
“Saya rasa kalau untuk ‘hiburan’ saja ini sudah terlalu jauh ya, karena sampai memakan korban. Belum lagi warga seperti orang tua, anak bayi, orang sakit yang semakin terganggu karena adanya sound horeg di daerahnya. Gangguan seperti ini tidak bisa kita normalisasi karena lama-lama sound horeg ini ibarat aktivitas dugem yang dibawa ke jalanan," kata Sahroni kepada wartawan, Kamis (3/9).
"Yang mana seharusnya untuk umur 21+, tapi sekarang malah bisa dilihat anak kecil. Pakai dancer-dancer pula sekarang, dan kerap jadi ajang orang minum-minum alkohol. Ini jelas banyak mudaratnya bagi masyarakat sekitar,” tambah dia.
Selain korban jiwa, Sahroni menyoroti kerugian lain yang ditimbulkan akibat aktivitas sound horeg, termasuk kerusakan infrastruktur dan properti milik warga. Ia pun meminta kepolisian melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Belum lagi soal infrastruktur dan fasilitas yang dirusak. Bahkan dulu perkara truk sound horeg tidak bisa lewat, mereka sampai hancurkan jembatan dan pembatas jalan. Dan saya yakin tidak semua masyarakat setuju dengan aktivitas sound horeg seperti ini, pasti banyak yang merasa terganggu. Jadi polisi jelas harus evaluasi kegiatan ini dan mulai dilarang karena jelas banyak mudaratnya,” tandas Sahroni.
Seorang Kakek Tewas karena Sound Horeg
Sebelumnya, seorang kakek bernama Slamet Timbang (57), warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, tewas setelah tertimpa kanopi Apotek Anissa 22 di Desa Wringinanung, Kecamatan Jombang, Sabtu (29/8/2 026). Korban saat itu sedang menunggu istrinya yang antre berbelanja dan berteduh di teras apotek ketika kanopi tiba-tiba ambruk.
Kanopi yang terdiri dari baja ringan dan beton tersebut diduga runtuh akibat getaran hebat. Saat kejadian, sound horeg NH Didik sedang melintas tepat di depan apotek menuju lokasi start karnaval. Getaran dari dentuman suara sound horeg diduga menjadi salah satu faktor, meski polisi masih menyelidiki kemungkinan lain, termasuk kondisi konstruksi bangunan.
Kapolsek Jombang Iptu Imam Kusuma mengatakan polisi telah mengevakuasi jenazah korban dari reruntuhan dan memeriksa sejumlah saksi. Polisi masih mendalami penyebab pasti kanopi ambruk, termasuk meminta keterangan karyawan apotek serta warga sekitar.
