Komunikasi sebagai Jembatan dalam Membangun Hubungan
Tulisan dari Dicky Mahardhika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunikasi dalam kehidupan manusia merupakan bagian penting yang menjadi salah satu fondasi dalam membangun serta menjaga hubungan dengan orang lain. Setiap hari kita komunikasi bersama keluarga, teman, pasangan, rekan kerja, maupun orang-orang sekitar. Namun, tidak selalu komunikasi berjalan baik. Perbedaan cara berpikir, perasaan, keinginan, dan sudut pandang sering kali menimbulkan kesalahpahaman yang kemudian berkembang menjadi konflik.
Memahami Akar Konflik dalam Komunikasi
Konflik sering muncul saat seseorang merasa tidak dipahami atau tidak dihargai. Dalam sebuah percakapan, di waktu-waktu tertentu kita terlalu sibuk membuktikan bahwa pendapat kita benar. Ini menyebabkan kita tidak memberikan ruang kepada orang lain untuk memberikan pendapat mereka.
Ada perbedaan pendapat sudah sewajarnya. Dua orang tidak selamanya memiliki pemikiran yang sama dalam setiap hal. Masalah muncul ketika perbedaan tersebut disikapi emosi, saling menyalahkan, atau keinginan untuk memenangkan perdebatan.
Oleh karena itu, langkah awal untuk menciptakan komunikasi yang lebih bebas konflik adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Atas kesadaran itu kita belajar menerima perbedaan tanpa langsung menganggapnya sebagai ancaman.
Pentingnya Mendengarkan
Salah satu kunci komunikasi yang sehat adalah kemampuan mendengarkan. Mendengarkan bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara, tetapi berusaha memahami maksud dan perasaan yang ingin disampaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali sudah memikirkan jawaban sebelum lawan bicara selesai berbicara. Bahkan, terkadang kita menyela karena merasa sudah mengetahui apa yang akan dikatakan. Kebiasaan itu bikin orang lain merasa tak dihormati.
Menjadi pendengar yang baik butuh kesabaran. Sesekali biarkan orang lain menyampaikan pikiran secara utuh. Dengan mendengarkan kita mampu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda sehingga kecil kemungkinan terjadi salah paham.
Menyampaikan Perasaan Tanpa Menyalahkan
Saat merasa kecewa atau marah, seseorang cenderung menggunakan kalimat yang menyalahkan. Misalnya adalah “Kamu memang selalu seperti ini” atau “Kamu tidak pernah mengerti aku.” Kalimat seperti ini mengakibatkan lawan bicara merasa diserang sehingga lebih memilih membela diri dibanding memahami masalah.
Lebih baik lagi, jujur mengungkapkan perasaan dan kebutuhan diri sendiri. Daripada mengatakan seseorang "selalu" melakukan kesalahan, kita dapat menjelaskan tindakan spesifik yang membuat kita tidak nyaman dan apa yang kita harapkan.
Perubahan cara berbicara tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan dampak besar. Ketika seseorang tidak merasa diserang, ia cenderung lebih terbuka untuk mendengarkan dan mencari solusi bersama.
Mengendalikan Emosi Saat Berkomunikasi
Emosi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Ketika sedang marah, kecewa, atau terluka, kita terkadang mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin kita katakan. Selesai emosi, perkataan itu menimbulkan penyesalan.
Mengontrol emosi merupakan bagian penting dari komunikasi bebas konflik. Ketika suasana semakin panas, mengambil jeda sejenak dapat menjadi pilihan yang lebih baik daripada terus memaksakan percakapan.
Mengendalikan emosi bukan berarti menyingkirkan perasaan. Di sisi lain kita perlu mengenal perasaan itu dan mencari cara yang tepat untuk mengekspresikan. Harapannya komunikasi dapat berjalan terus tanpa berubah menjadi pertengkaran.
Menghargai Perbedaan Pendapat
Tidak semua perbedaan berakhir pada seseorang yang menang dan seseorang yang kalah. Perbedaan pendapat dalam hubungan yang sehat menjadi kesempatan untuk saling memahami.
Menghargai pendapat orang lain tidak berarti kita harus setujui semuanya. Kita boleh punya pendirian sendiri, tapi kita juga sadar kalau orang lain punya alasan dan pengalaman yang berbeda.
Sikap menghargai juga dapat ditunjukkan melalui pilihan kata. Menghindari ejekan, sindiran yang berlebihan, dan perkataan yang meremehkan membantu menciptakan komunikasi yang lebih aman. Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan lebih mudah menyampaikan pendapat secara terbuka.
Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Prinsip komunikasi bebas konflik dapat digunakan dalam berbagai hubungan. Contohnya dalam lingkungan keluarga, ibu-bapak dan anak-anak belajar untuk saling mendengarkan, bukan hanya memberi perintah. Dalam pertemanan seseorang dapat menyatakan rasa kecewa tanpa langsung memutuskan hubungan. Di tempat kerja, perbedaan pendapat boleh saja terjadi asalkan fokus pada orientasi masalah bukan serangan pribadi.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan sosial lainnya. Komunikasi yang baik membutuhkan latihan secara terus-menerus. Ya memang, kita tidak selalu bisa menghindari konflik, tetapi kita belajar cara yang lebih sehat untuk menghadapi konflik itu.

