Konten dari Pengguna

Konflik Yaman dan Dilema Keamanan Saudi Arabia di Era Vision 2030

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farellia Rizki Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asap mengepul dari kilang Saudi Aramco di Jazan, Arab Saudi, 26 Juli 2026, setelah serangan Houthi dari Yaman. Foto: Gallo Images/Orbital Horizon/Copernicus Sentinel Data 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Asap mengepul dari kilang Saudi Aramco di Jazan, Arab Saudi, 26 Juli 2026, setelah serangan Houthi dari Yaman. Foto: Gallo Images/Orbital Horizon/Copernicus Sentinel Data 2026.

Arab Saudi sedang berusaha meninggalkan bayang-bayang masa lalunya sebagai negara yang bergantung pada minyak. Lewat Vision 2030, Riyadh membangun berbagai sektor baru, mulai dari pariwisata, teknologi, hiburan, hingga investasi internasional.

Tetapi ada satu persoalan yang belum bisa begitu saja ditinggalkan: keamanan.

Di tengah ambisi tersebut, konflik di Yaman kembali memanas. Pada awal Oktober 2026, kelompok Houthi kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Arab Saudi. Serangan tersebut menyasar beberapa lokasi strategis, termasuk bandara, sementara pasukan yang didukung Saudi juga meningkatkan operasi militer di Yaman.

Situasi ini memperlihatkan satu kontradiksi yang semakin sulit diabaikan. Saudi Arabia sedang membangun masa depan ekonominya, tetapi pada saat yang sama masih berhadapan dengan konflik bersenjata tepat di perbatasannya.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah Saudi mampu menghadapi Houthi secara militer. Pertanyaan yang lebih besar adalah: seberapa jauh konflik Yaman dapat mengganggu ambisi Vision 2030?

Ketika Perang Datang dari Selatan

Yemenis collect their usable belongings after Saudi-led airstrikes hit Hamdan district of Sanaa, Yemen, on June 04, 2015. (Photo by Mohammed Hamoud/Anadolu Agency/Getty Images)

Konflik Yaman bukan sesuatu yang baru bagi Arab Saudi.

Sejak 2015, Riyadh telah terlibat langsung dalam konflik Yaman dengan mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi. Selama bertahun-tahun, perang tersebut menghasilkan korban jiwa dalam jumlah besar dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang serius.

Dalam beberapa tahun terakhir, situasinya sempat lebih tenang. Arab Saudi bahkan mendorong jalur diplomasi dan deeskalasi dengan Houthi.

Namun, ketegangan tidak benar-benar hilang.

Kembalinya serangan Houthi menunjukkan bahwa konflik tersebut masih memiliki potensi untuk berubah menjadi ancaman langsung terhadap Saudi Arabia. Serangan terhadap wilayah dan fasilitas strategis Saudi membuat perang Yaman tidak lagi terasa sebagai konflik yang jauh dari pusat pemerintahan di Riyadh.

Bagi negara yang sedang mendorong investasi dan pariwisata dalam skala besar, kondisi seperti ini jelas bukan situasi ideal.

Investor mungkin tertarik dengan potensi ekonomi Saudi. Tetapi mereka juga akan mempertimbangkan risiko yang muncul ketika negara tersebut berada di tengah lingkungan regional yang tidak stabil.

Vision 2030 Membutuhkan Rasa Aman

Ada alasan mengapa stabilitas menjadi sangat penting bagi Vision 2030.

Program tersebut bukan hanya tentang mengurangi ketergantungan Saudi terhadap minyak. Riyadh ingin menciptakan sumber pertumbuhan baru melalui sektor pariwisata, manufaktur, teknologi, logistik, olahraga, dan investasi.

Proyek-proyek seperti NEOM bahkan dirancang untuk menjadi simbol transformasi Saudi Arabia di mata dunia.

Namun, proyek sebesar itu membutuhkan kepercayaan.

Wisatawan perlu merasa aman. Perusahaan membutuhkan kepastian. Investor membutuhkan lingkungan politik yang dapat diprediksi.

Karena itu, konflik Yaman memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar persoalan militer.

Arab Saudi tidak harus mengalami perang di dalam wilayahnya untuk merasakan dampaknya. Cukup dengan meningkatnya ketegangan di sekitar perbatasan, jalur perdagangan, atau infrastruktur strategis, persepsi terhadap risiko kawasan dapat berubah.

Di sinilah keamanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda ekonomi Saudi.

Bab el-Mandeb dan Risiko yang Lebih Besar

Persoalannya menjadi semakin kompleks karena posisi geografis Yaman.

Di sebelah barat Yaman terdapat Laut Merah dan Bab el-Mandeb, sebuah selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini merupakan salah satu jalur perdagangan penting yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.

Ketika konflik Yaman meningkat, perhatian tidak hanya tertuju pada Saudi Arabia dan Houthi. Ada kepentingan perdagangan internasional yang ikut dipertaruhkan.

Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat meningkatkan biaya transportasi dan mendorong kapal untuk menggunakan rute yang lebih panjang. Pada akhirnya, konflik yang terlihat lokal dapat menciptakan konsekuensi ekonomi yang jauh lebih luas.

Bagi Saudi Arabia, persoalan ini memiliki arti khusus.

Riyadh sedang berusaha mengembangkan sektor logistik dan menjadikan negaranya sebagai salah satu pusat perdagangan global. Tetapi pada saat yang sama, salah satu jalur laut strategis yang berada di dekat wilayahnya kembali menghadapi ketidakstabilan.

Ada ironi di sini.

Saudi ingin menjadi pusat ekonomi dunia, tetapi lingkungan geopolitiknya masih penuh dengan persoalan keamanan yang tidak mudah dikendalikan.

Saudi Berada di Tengah Dilema

Kondisi ini menempatkan Saudi Arabia dalam posisi yang sulit.

Jika Riyadh tidak memberikan respons terhadap serangan Houthi, ancaman terhadap keamanan wilayahnya dapat semakin besar. Tetapi jika respons tersebut berkembang menjadi keterlibatan militer yang lebih dalam, Saudi berisiko kembali terseret ke dalam konflik yang selama bertahun-tahun sulit diselesaikan.

Keduanya memiliki konsekuensi.

Respons militer mungkin diperlukan untuk melindungi wilayah dan masyarakat Saudi. Tetapi perang berkepanjangan dapat menghabiskan sumber daya dan perhatian pemerintah yang seharusnya digunakan untuk menjalankan agenda domestik.

Inilah dilema keamanan yang dihadapi Saudi Arabia.

Masalahnya bukan memilih antara keamanan atau ekonomi. Keduanya sama-sama penting.

Justru persoalannya adalah bagaimana menjaga keamanan tanpa membuat agenda ekonomi kehilangan momentum.

Saudi Tidak Bisa Mengendalikan Semua yang Terjadi di Sekitarnya

Vision 2030 sering kali digambarkan sebagai proyek yang sepenuhnya berada di tangan pemerintah Saudi Arabia.

Padahal, keberhasilannya juga dipengaruhi oleh kondisi di luar batas negara.

Saudi Arabia tidak bisa menentukan sendiri apa yang dilakukan Houthi. Riyadh juga tidak bisa sepenuhnya mengendalikan dinamika Iran, Yaman, Laut Merah, ataupun konflik lain di kawasan.

Yang dapat dilakukan adalah mengelola dampaknya.

Karena itu, pendekatan Saudi terhadap Yaman ke depan kemungkinan tidak hanya akan ditentukan oleh pertimbangan militer. Diplomasi regional juga menjadi semakin penting.

Saudi membutuhkan lingkungan keamanan yang memungkinkan proyek-proyek ekonominya berjalan tanpa gangguan.

Artinya, deeskalasi bukan hanya persoalan politik luar negeri. Ia juga memiliki nilai ekonomi.

Masa Depan Vision 2030 Ditentukan di Luar Riyadh

Perempuan Saudi berdiri di depan paviliun Vision 2030 Arab Saudi dalam pameran Gitex di Dubai, Uni Emirat Arab, 16 Oktober 2018. Foto: Karim Sahib/AFP via Getty Images.

Arab Saudi memang memiliki sumber daya yang besar untuk menjalankan Vision 2030. Investasi terus diarahkan ke sektor nonminyak dan pemerintah berusaha membangun ekonomi yang lebih beragam.

Namun, transformasi ekonomi tidak pernah berlangsung dalam ruang kosong.

Apa yang terjadi di Yaman dapat memengaruhi keamanan Saudi. Keamanan dapat memengaruhi persepsi investor. Sementara kondisi keamanan regional dapat memengaruhi posisi Saudi sebagai pusat perdagangan dan investasi.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa geopolitik dan pembangunan ekonomi Saudi tidak dapat dipisahkan.

Konflik Yaman mungkin tidak secara otomatis menggagalkan Vision 2030. Tetapi jika eskalasi terus berlanjut, konflik tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat perjalanan menuju 2030 semakin sulit.

Saudi Arabia ingin dikenal sebagai negara yang sedang melihat ke masa depan.

Namun, untuk sampai ke sana, Riyadh masih harus menyelesaikan persoalan yang datang dari masa lalu.

Vision 2030 membutuhkan lebih dari sekadar uang dan pembangunan. Ia membutuhkan kawasan yang cukup aman untuk membuat ambisi tersebut benar-benar berjalan. Dan selama Yaman kembali menjadi titik panas, pertanyaan mengenai keamanan akan terus mengikuti ambisi besar Saudi Arabia.