Konsep Placemaking MRT di Jakarta, Bikin Blok M Jadi Punya 'Jiwa'

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pengunjung saat berwisata pada libur Natal di Kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pengunjung saat berwisata pada libur Natal di Kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

PT MRT Jakarta tak hanya diberi mandat untuk menyediakan layanan transportasi massal di Jakarta. Namun, juga diberi tugas untuk menghidupkan kembali sebuah kawasan, baik secara bisnis maupun aktivitasnya.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta, mengungkap konsep placemaking untuk mewujudkan misi tersebut.

Samuel menyatakan bahwa placemaking adalah konsep menghadirkan ruang untuk mengekspresikan diri seseorang usai menjalankan peran utamanya sehari-hari.

“Supaya masyarakat sebelum pulang atau setelah dari kantor atau sekolah itu bisa stay dulu di tempat itu, berkumpul dengan komunitas atau temannya, dan nanti mereka baru pulang kembali ke rumah masing-masing,” kata Samuel saat bicara dalam MFP MRT Jakarta, Rabu (9/9).

Samuel menyebut bahwa merancang konsep placemaking tak sekadar hanya membuat atau menyediakan ruang, tapi juga mengelolanya. Tujuannya, membuat warga Jakarta memiliki keterikatan emosional dengan sebuah kawasan.

“Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema dan harus inklusif, bisa untuk siapa pun,” katanya.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo. Foto: Sifa Maulida/kumparan

Samuel mencontohkan kawasan dengan konsep placemaking yang saat ini terbilang sukses dikelola PT MRT Jakarta, yaitu Blok M. Di sini, kata Samuel, masyarakat dari usai tua hingga muda bisa berkumpul menjadi satu dengan berbagai alasan dan tujuan.

Blok M pun akhirnya diyakini oleh warga Jakarta sebagai kawasan "kultur skena" bagi anak muda, sekaligus nostalgic bagi orang tua.

“Kalau di Blok M kan temanya mungkin placemaking-nya anak-anak culture, anak skena. Tapi sebenarnya orang-orang yang dulu mungkin angkatan ayah ibu kita dulu juga suka ke Blok M. Jadi yang menikmati nggak cuma anak-anak mudanya,” sambung Samuel.

Singkatnya, kata Samuel, placemaking adalah bagaimana pengelola memberi “soul” atau “jiwa” pada sebuah tempat. Supaya, warga akan selalu ingat dan akan pergi ke tempat itu untuk melakukan aktivitas.

Kawasan Blok M pun kini dimanjakan dengan banyaknya dan mudahnya akses transportasi publik yang saling terintegrasi. Revitalisasi juga dilakukan di beberapa titik dengan pendekatan berorientasi transit (TOD). Itu membuat Blok M semakin naik daun. Jumlah pengunjungnya capai 40 ribu orang per hari, dan bisa tembus 60 ribu-80 ribu di hari libur.

Selain Blok M, MRT Jakarta juga akan mulai fokus merancang konsep placemaking untuk kawasan Kota Tua di Jakarta Barat, mengingat pengembangan rute MRT Jakarta Fase 2A akan sampai ke kawasan yang kental akan sejarah tersebut.