Kopi Pensiunan: Sibuk Mengejar, Lupa Merawat yang Ada

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Keinginan manusia untuk memiliki lebih banyak seolah tidak pernah menemukan garis akhir. Hari ini kita menginginkan sesuatu, besok kita kembali mengincar hal yang lain. Kita sering berpikir bahwa hidup akan lebih bahagia jika memiliki rumah lebih besar, penghasilan lebih tinggi, atau kehidupan yang terlihat lebih hebat daripada orang lain. Tanpa sadar, kita terlalu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki hingga lupa menikmati apa yang sudah ada. Padahal, kebahagiaan tidak selalu datang dari menambah sesuatu, tetapi juga dari kemampuan menghargai apa yang telah kita genggam.
Sering kali, kita begitu mudah terpukau oleh kehidupan orang lain. Melihat keberhasilan mereka, kita merasa tertinggal. Menyaksikan kemewahan mereka, kita merasa kekurangan. Padahal, kita hanya melihat bagian indah dari perjalanan mereka, tanpa mengetahui perjuangan, pengorbanan, dan beban yang mungkin mereka sembunyikan. Terus membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain hanya akan membuat hati lelah. Kita sibuk mengejar standar orang lain, sementara kebahagiaan yang sebenarnya ada di sekitar kita perlahan terabaikan.
Karena itu, mulai dan belajarlah merawat apa yang sudah ada sebelum sibuk mengejar apa yang belum dimiliki. Rawatlah kesehatan selagi tubuh masih mampu bergerak, peliharalah hubungan baik dengan keluarga dan sahabat, jagalah pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan, serta syukuri rezeki yang hadir setiap hari. Jangan sampai kita baru menyadari berharganya kesehatan ketika jatuh sakit, pentingnya keluarga ketika kehilangan kebersamaan, atau nikmatnya ketenangan ketika hidup dipenuhi masalah. Banyak hal yang kita anggap biasa hari ini justru merupakan sesuatu yang sangat berharga ketika suatu saat tidak lagi kita miliki.
Merawat yang ada bukan berarti berhenti bermimpi atau menyerah pada keadaan. Kita tetap boleh memiliki cita-cita, bekerja keras, dan berusaha memperbaiki kehidupan. Namun, jangan sampai seluruh waktu dan tenaga habis hanya untuk mengejar sesuatu yang belum tentu membuat kita bahagia. Teruslah bertumbuh tanpa kehilangan rasa syukur, teruslah berusaha tanpa meremehkan pencapaian sendiri, dan teruslah melangkah tanpa harus menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran keberhasilan. Sebab, hidup bukan perlombaan untuk memiliki paling banyak, melainkan perjalanan untuk menemukan makna dari apa yang kita miliki.
Ternyata, hidup yang kaya bukanlah hidup yang selalu memiliki sesuatu yang baru, melainkan hidup yang mampu menjaga dan menghargai sesuatu yang berharga. Belajarlah menikmati rezeki yang ada, menjaga orang-orang yang menyayangi kita, serta merawat ketenangan yang telah susah payah dibangun. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai, dan jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai merasa bahagia. Sebab, bisa jadi kebahagiaan yang selama ini kita cari jauh-jauh ternyata sudah berada di dekat kita. Kita hanya perlu berhenti membandingkan, membuka mata, dan merawatnya dengan sepenuh hati.
Begitulah renungan saya saat berada di Kopi Pensiunan (Saung Purna) di Puncak 2 Sukamakmur. Tempat ngopinya pekerja lelah dan pensiunan di tepi sungai. Salam ngopi! #KopiPensiunan #SaungPurna #LiterasiKopi
