Korpri yang Terlambat Kupakai untuk Ibu

Seorang part-time writer, full-time life learner. Seseorang yang percaya bahwa menulis bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Imam Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu warna yang selalu identik dengan Ibu dalam ingatanku. Ya betul, cokelat khaki. Bukan karena ia suka warna itu, tapi karena warna itulah yang menemaninya menyeberangi laut setiap pagi, menuju sebuah sekolah dasar di Bajo Pulau, sepenggal daratan kecil di ujung timur Pulau Sumbawa. Sejauh yang bisa kukenang, hampir satu dekade Ibu melakukannya. Berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, pulang ketika gelombang mulai tenang, demi anak-anak di pulau yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian.
Aku, anak bungsu dari keluarga itu, memilih jalan yang sedikit berbeda. Sejak kuliah, aku merantau ke Tanah Jawa, meninggalkan rumah untuk mengejar hidup yang kupikir harus kutempuh sendiri. Setelah lulus, aku pun menetap dan bekerja di sana. Tanah Jawa yang selama ini selalu kuelu-elukan, tanah yang dalam bayanganku menyimpan semua kemungkinan yang tidak kutemukan di kampung halaman.
Tahun demi tahun berlalu, dan tanpa kusadari, jarak dengan rumah perlahan berubah menjadi kebiasaan. Aku mulai terbiasa dengan hidup yang jauh, sampai lupa bahwa ada rumah yang selalu menungguku pulang. Hingga suatu hari, suara Ibu di ujung telepon perlahan mengusik kebiasaan itu. Dengan nada yang sederhana, hampir seperti sebuah permintaan kecil, Ibu berkata,
"Ikut rekrutmen ASN saja, ya. Biar kamu bisa dekat, bisa pulang."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, tanpa kusadari, mungkin itulah cara Ibu memintaku untuk menemukan jalan pulang.
Aku mengiyakan, tapi jujur saja, hanya untuk menggugurkan kewajiban. Aku mendaftar tanpa niat sungguh-sungguh, mengisi formulir formasi sekadar supaya Ibu berhenti bertanya. Dalam hati aku sudah menyiapkan alasan kalau nanti gagal.
Masih terekam jelas dalam ingatanku, Kamis pagi, 30 November 2023, sebelum berangkat ke lokasi ujian, aku sempatkan video call dengannya. Wajahnya di layar kecil itu tampak biasa saja, tapi kalimat yang ia sampaikan masih terngiang hingga sekarang,
"Semangat ya! Jangan lupa berdoa, ibu yakin kamu bisa."
Kalimat sederhana, diucapkan seperti basa-basi pagi, tapi entah kenapa membuat dadaku sesak sepanjang perjalanan menuju tempat ujian.
Aku mengerjakan soal-soal itu tanpa ekspektasi apa pun. Setelah mengisi soal terakhir, nilai muncul di layar. Aku menatapnya sejenak, mencoba mengingat-ingat dan membandingkan dengan nilai kandidat lain yang sempat kulihat sebelumnya, dan aku tahu, nilaiku yang tertinggi. Ada perasaan lega dan tidak percaya. Dari kakak perempuanku, aku tahu Ibu menangis, bukan tangis biasa, melainkan tangis syukur yang tak henti-henti, seolah semua penantian selama ini akhirnya menemukan jawabannya. Untuk pertama kalinya aku merasa, keputusan setengah hati yang dulu kuambil justru berbuah sesuatu yang begitu berarti bagi orang yang paling kucintai. Korpri, seragam yang selama ini melekat pada Ibu akhirnya akan melekat juga padaku. Dan itulah yang selama ini benar-benar ia dambakan, bukan gengsi status, bukan pula gelar, melainkan kedekatan. Anaknya, pulang, dan berdiri di barisan pengabdian yang sama dengannya.
Hidup sepertinya punya cara sendiri untuk menguji rasa syukur. Belum genap seminggu sejak hasil bahagia itu, kondisi kesehatan Ibu tiba-tiba menurun drastis. Meski logikaku terus meyakinkan bahwa semua baik-baik saja, namun hati menuntunku pulang.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa termenung. Pikiranku melayang ke mana-mana, dari ruang tunggu bandara hingga kursi pesawat, dipenuhi kecemasan yang tak bisa kutitipkan pada pundak siapa pun di sebelahku. Aku sudah pasrah kepada Tuhan atas apa yang akan terjadi. Tapi dalam hati, aku terus berbisik, keinginanku untuk berbakti masih panjang. Aku belum selesai membalas semua perjalanan lautnya, membalas semua tahun-tahun yang ia serahkan untuk menuntun anak-anak di ujung pulau menemukan huruf dan angka pertamanya, membalas peluh yang menetes setiap kali ia menyeberangi gelombang demi murid-muridnya.
Sesampainya di rumah sakit, aku mendapati Ibu terbaring di ICU, dikelilingi selang-selang yang seketika menyadarkanku betapa rapuhnya waktu yang tersisa. Semalaman aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya, mencoba menjadi anak yang berbakti dengan cara apa pun yang masih bisa kulakukan. Aku tahu, semua itu jauh dari cukup dibanding pengorbanannya selama ini.
Namun takdir memilih jalannya sendiri. Ibu berpulang sebelum sempat melihatku mengenakan seragam Korpri yang begitu ia dambakan. Seragam yang menjadi alasan aku pulang, alasan aku akhirnya berdiri di jalur pengabdian yang sama dengannya justru tidak pernah sempat ia saksikan dengan matanya sendiri.
Kini, setiap kali menjalankan tugas sebagai abdi negara, aku selalu teringat perahu kecil yang membawa Ibu menyeberangi laut setiap pagi. Aku teringat betapa pengabdian sejati sering kali tidak terlihat, tidak dielu-elukan, hanya dijalani dengan sunyi oleh orang-orang seperti dirinya. Semangatnya menjadi api yang terus kubawa dalam setiap tugas, setiap keputusan, dan setiap hari yang kujalani.
Sampai hari ini, tidak ada yang benar-benar sembuh dari kehilangan itu. Yang ada hanyalah luka yang perlahan kupelajari untuk kurasakan dan kunikmati, sebagai pengingat bahwa di balik setiap seragam Korpri, ada cerita, ada pengorbanan, dan ada seseorang yang mungkin tidak sempat melihatnya, tapi selalu ada dalam setiap langkah perjalanannya.
Ma, aku sudah pulang. Aku sudah memakai seragam itu. Hanya saja, kali ini, kaulah yang tidak pulang bersamaku.
