Krisis Membaca dan Jalan Pendidikan Mangunwijaya

Doctoral Student and Researcher
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rian Antony tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam beberapa hari terakhir, skor Programme for International Student Assessment (PISA) kembali memenuhi ruang pemberitaan di berbagai media, termasuk di Indonesia.
Data dan fakta tentang kenaikan maupun penurunan skor PISA 2025 pun diulas dari beragam sudut pandang. Namun, di tengah era post-truth ada satu hal yang juga penting untuk didiskusikan bersama yaitu terkait dengan menurunnya kemampuan membaca.
Sebab, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan membaca bukan lagi tentang memahami teks, melainkan juga kemampuan memahami dan menilai apakah sebuah informasi layak dan bisa dipercaya.
Ketika kemampuan membaca anak melemah, yang dipertaruhkan tidak terbatas pada prestasi akademik, tetapi juga kemampuan memahami dunia tempat mereka berdinamika.
PISA 2025 & Post Truth
Menurut laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2026, PISA 2025 berfokus pada sains, sekaligus mengukur kemampuan membaca dan matematika serta, untuk pertama kalinya, pemecahan masalah secara komputasional.
Di satu sisi, hasilnya pun mengundang diskusi yang mendalam bagi banyak pihak, mengingat rata-rata skor negara-negara OECD turun 22 poin dalam matematika dan 28 poin dalam membaca. Namun, penurunan kemampuan membaca disorot keras karena terjadi secara signifikan pada 56 dari 74 sistem pendidikan.
Menurut OECD, penurunan itu terjadi karena siswa semakin kesulitan menghadapi teks panjang serta tugas yang menuntut evaluasi, refleksi, penggabungan informasi, dan perhatian berkelanjutan.
Sementara itu, Indonesia mengalami kenaikan tujuh poin dalam membaca, dari 359 pada 2022 menjadi 365 pada 2025. Meskipun demikian, kenaikan tersebut belum mencerminkan lompatan prestasi mengingat OECD menilai capaian Indonesia tersebut secara umum masih berada pada kisaran yang sama dengan 2022.
Di sisi lain, data PISA 2025 tersebut menjadi semakin penting jika ditempatkan dalam konteks era post-truth, di mana fakta-fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk perdebatan politik atau opini publik dibandingkan dengan daya tarik yang menyasar emosi dan keyakinan pribadi.
Di era post-truth, informasi mengalir tanpa henti. Setiap membuka gawai, kita selalu dan pasti ditawarkan beragam informasi dengan berbagai bentuk, baik melalui foto, video pendek, judul klik bait, hingga informasi yang dihasilkan artificial intelligence.
Karena itulah, kemampuan membaca menjadi bagian yang paling penting untuk menemukan bukti, membandingkan informasi, membedakan fakta dan opini, serta mempertanyakan apa yang tidak dikatakan.
Oleh karena itu, di tengah melemahnya budaya membaca, gagasan pendidikan Y.B. Mangunwijaya menawarkan pijakan yang relevan untuk kita pertimbangkan kembali.
Membangun Budaya Membaca
Bagi Mangunwijaya, pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Anak harus ditempatkan sebagai subjek yang memiliki rasa ingin tahu, yang berani bertanya, dan yang mampu menemukan pengetahuan.
Gagasan seperti koper atau kotak pertanyaan dan membaca buku bagus dapat menjadi pijakan untuk membangun kembali budaya membaca anak.
Pertama, menghidupkan budaya bertanya. Bagi Mangunwijaya, rasa ingin tahu anak perlu diberi ruang untuk tumbuh. Melalui koper, anak memiliki tempat untuk menuliskan pertanyaan tentang hal-hal yang ingin mereka ketahui.
Pertanyaan tidak dipandang sebagai gangguan dalam pembelajaran, melainkan sebagai awal dari proses menemukan pengetahuan.
Dalam konteks ini, guru tidak harus selalu menjadi pihak yang paling cepat memberikan jawaban. Justru, pertanyaan anak dapat menjadi pintu masuk untuk membaca, mencari informasi, berdialog, dan menyelidiki persoalan bersama-sama.
Bagi Mangunwijaya, kegiatan seperti ini penting dilakukan karena dunia anak berbeda dari dunia orang dewasa. Anak perlu mengalami rasa senang, tertarik, dan kagum sebelum tumbuh keinginan untuk belajar, termasuk membaca.
Kedua, membangun kebiasaan membaca. Di tengah budaya scrolling, anak perlu kembali mengalami membaca secara utuh.
Dalam hal ini, guru perlu menyediakan waktu bagi anak untuk membaca buku-buku bagus yang menarik dan bermutu yang tersedia di perpustakaan, kemudian mendiskusikannya di kelas.
Membaca buku bagus bukan sekadar menyelesaikan bacaan, tetapi melatih perhatian, memahami gagasan, dan menghubungkan bacaan dengan kehidupan.
Dengan begitu, pendidikan mampu membuat mereka anak berani berpikir kritis dan bisa membaca kenyataan dengan mendalam. Dan kemampuan itu sangat dibutuhkan saat ini.
