Kronologi 172 PPDS FK Unair Keracunan Makanan saat Pradik di RSUD dr Soetomo

Sebanyak 172 Peserta Didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) diduga mengalami keracunan makanan.
Keracunan ini diduga usai para peserta berjumlah 289 menyantap nasi kotak dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) lantai 7 RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Senin (28/9).
Berikut kronologi awal keracunan:
Senin, 28 September
Pukul 09.00 WIB
Kabag Diklat RSUD dr. Soetomo Surabaya, Astindari, mengatakan awalnya nasi kotak pesanan dari vendor katering tiba di Fakultas Kedokteran (FK) Unair dan diantar ke Gedung GPDT Soetomo.
"Jadi untuk konsumsi nasi kotaknya itu datang jam 09.00 WIB ya diantar dari FK ke GPDT lantai 2," kata Astindari di RSUD dr Soetomo Surabaya, Selasa (29/9).
Pukul 09.15 WIB
Selang 15 menit kemudian, nasi kotakan tersebut kemudian dibawa oleh panitia ke lantai 7 Gedung GPDT.
"Kemudian jam 09.15 WIB dinaikkan ke GPDT lantai 7 tempat pengerjaan," ucapnya.
Pukul 09.30 WIB
Setelah itu, panitia menyusun nasi kotak tersebut di atas meja di dalam area Gedung GPDT lantai 7 tersebut.
"Kemudian jam 09.30 WIB ditata di meja dalam hall GPDT," ujar dia.
Pukul 11.30 WIB
Selanjutnya, nasi kotak itu dibagikan kepada seluruh peserta PPDS dan disantap secara bersamaan.
"Jam 11.30 WIB nasi kotak mulai dibagikan ke peserta dan dikonsumsi saat istirahat jam 11.30 WIB tersebut," kata dia.
Selang 30 menit kemudian, beberapa peserta mulai mengeluh pusing, mual dan sakit perut. Diduga, mereka mengalami keracunan dari nasi kotak yang mereka makan.
"Dan gejala yang dialami PPDS, onset-nya itu mulai kurang lebih 30 menit sampai 4 jam setelah mengonsumsi makanan tersebut," ujar Astindari.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD dr Soetomo, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, mengatakan bahwa menu pada nasi kotak itu berupa telur, sayur, acar dan daging.
"Menunya, saya kalau enggak salah ada telur rebus, sayur, dan acar, dan daging ya. Jadi, rendang. Jadi kalau dari kawan-kawan yang vegetarian, yang makan telur dan sayur itu aman. Mungkin, tadi pengolahan, mungkin, tapi kita tentu tidak bisa memastikan sebelum ada hasil lab. Jadi itu hanya dugaan," kata Cita.
Namun, ia belum bisa memastikan penyebab dari keracunan tersebut. Kini, sampel makanan telah dikirim ke Puslabfor Polda Jawa Timur, Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk diperiksa lebih lanjut.
"Sampai saat ini, penyebab pasti belum dapat disimpulkan. Oleh karena itu, kejadian ini masih disebut sebagai dugaan keracunan atau gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan, sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," ucapnya.
