Konten dari Pengguna

Kukang Jawa di Blok Lodadi, Taman Nasional Meru Betiri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
11
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zainal Azhar Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto tim pengamatan melakukan kegiatan pengamatan langsung pada malam hari (direct nocturnal observation) untuk mencari dan mengidentifikasi keberadaan Kukang Jawa di Blok Lodadi, Taman Nasional Meru Betiri. (Sumber : Dokumentasi Netra Nocturna Expedition UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
zoom-in-whitePerbesar
Foto tim pengamatan melakukan kegiatan pengamatan langsung pada malam hari (direct nocturnal observation) untuk mencari dan mengidentifikasi keberadaan Kukang Jawa di Blok Lodadi, Taman Nasional Meru Betiri. (Sumber : Dokumentasi Netra Nocturna Expedition UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Dua individu Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) ditemukan selama pengamatan malam di Blok Lodadi, Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Keduanya ditemukan pada hari kedua pengamatan. Penemuan ini menjadi informasi penting karena Kukang Jawa merupakan satwa yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan banyak hidup serta beraktivitas di atas pohon (arboreal). Kukang cenderung sulit ditemukan karena pergerakannya yang lambat serta perilakunya yang tersembunyi. Keberadaan kedua individu tersebut juga menunjukkan bahwa Blok Lodadi masih dimanfaatkan sebagai habitat oleh Kukang Jawa, dengan dukungan vegetasi rapat, sumber pakan, pohon besar, dan tajuk yang saling terhubung.

Hasil Penilaian Cepat Habitat (Rapid Habitat Assessment atau RHA) pada tiga jalur menunjukkan adanya berbagai tumbuhan pakan, seperti beringin, bendo, bungur, karet, dan sengon. Kukang dapat memanfaatkan buah, bunga, daun muda, serta getah atau eksudat tumbuhan. Keanekaragaman tersebut membantu kukang memenuhi kebutuhan makanan ketika jenis tumbuhan tertentu tidak berbuah. Dua individu ditemukan beraktivitas di pohon bungur, yaitu H2 WP7 K1 dan H2 WP8 K2. Keterangan titik tersebut adalah H = Hari, WP = Waypoint (titik lokasi pengamatan), dan K = Kukang. Jadi, H2 WP7 K1 berarti kukang pertama yang ditemukan pada waypoint 7 di hari kedua, sedangkan H2 WP8 K2 berarti kukang kedua pada waypoint 8 di hari kedua.

Foto Kukang Jawa ditemukan pada pohon bungur di Waypoint 8 pada hari kedua pengamatan di Blok Lodadi, Taman Nasional Meru Betiri. Temuan ini merupakan individu kedua (K2) yang berhasil dijumpai selama kegiatan pengamatan malam hari. (Sumber : Dokumentasi Netra Nocturna Expedition UIN Syarif Hidayatullah Jakarta )

Foto menunjukkan individu K2 yang berada di antara ranting dan vegetasi rapat pada malam hari. Posisi tersebut memperlihatkan karakter Kukang Jawa sebagai satwa arboreal yang memanfaatkan vegetasi sebagai ruang untuk beraktivitas dan berlindung.

Tajuk pohon juga penting karena menjadi jalur pergerakan bagi kukang. Pohon besar seperti beringin, bendo, dan besule membantu membentuk jalur yang memungkinkan kukang berpindah tanpa turun ke tanah. Beberapa titik, yaitu H1 WP8, H2 WP6, H2 WP7, dan H2 WP10, berada di sekitar sumber air yang turut mendukung kondisi vegetasi habitat.

Pengamatan dilakukan dengan metode pengamatan langsung pada malam hari (direct nocturnal observation) selama tiga hari, dengan jarak penjelajahan 5,6 kilometer. Ditemukan dua individu Kukang Jawa dengan tingkat perjumpaan sekitar 0,3 individu/km atau satu individu setiap 2,8 kilometer. Nilai tersebut tergolong rendah, tetapi tidak langsung menunjukkan kondisi habitat buruk karena kukang sulit dideteksi akibat sifatnya yang nocturnal, arboreal, bergerak lambat, dan sering berada di vegetasi yang rapat.

Pengamatan menggunakan metode Focal Animal Sampling (FAS) dengan interval 10 menit. Hasilnya sebagai berikut:

Sumber : Dokumen Netra Nocturna Expedition UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sumber : Dokumen Netra Nocturna Expedition UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pada K2 yang ditemukan di H2 WP8, aktivitas beristirahat (resting) menjadi perilaku yang paling banyak tercatat, yaitu 50 persen, diikuti bergerak (moving) 35 persen dan makan (feeding) 15 persen. Hal ini menunjukkan bahwa selama periode pengamatan, K2 lebih banyak beristirahat dibandingkan bergerak atau mencari makanan.

Blok Lodadi tetap menghadapi ancaman berupa penebangan liar, perambahan hutan, perubahan lahan menjadi kebun, fragmentasi habitat, gangguan manusia, perburuan, dan perdagangan satwa liar. Kerusakan habitat dapat mengurangi sumber makanan serta memutus konektivitas tajuk yang dibutuhkan kukang untuk berpindah.

Konservasi perlu dilakukan melalui perlindungan habitat, patroli, pencegahan penebangan dan perburuan, serta restorasi kawasan yang rusak. Penanaman pohon pakan dan pohon penghubung tajuk dapat membantu memulihkan habitat. Pemantauan berkala menggunakan RHA, direct nocturnal observation, dan Focal Animal Sampling (FAS) diperlukan untuk mengetahui perubahan populasi, habitat, dan perilaku. Keterlibatan masyarakat melalui edukasi juga penting untuk mendukung konservasi.

Secara keseluruhan, Blok Lodadi menunjukkan karakteristik habitat yang masih mendukung keberadaan Kukang Jawa karena memiliki sumber makanan, pohon besar, vegetasi rapat, tajuk yang cukup terhubung, dan sumber air. Ditemukannya dua individu dalam penjelajahan 5,6 kilometer membuktikan bahwa kawasan tersebut masih digunakan oleh Kukang Jawa. Hasil ini dapat menjadi data awal untuk pemantauan berikutnya dan dasar dalam menentukan upaya perlindungan habitat secara berkelanjutan.