Literasi Perpustakaan Dumai: Langkah Kecil Menuju Indonesia Emas 2045

Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara STIA Lancang Kuning
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari salmabatubara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membangun sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal. Akses terhadap buku, informasi, dan ruang belajar juga memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat. Karena itu, layanan literasi perpustakaan menjadi salah satu upaya yang dapat mendukung pembangunan manusia di Kota Dumai.
Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Dumai, masyarakat dapat mengakses layanan perpustakaan sebagai sarana belajar dan memperoleh informasi. Peran perpustakaan tidak seharusnya berhenti pada peminjaman buku, tetapi juga mendorong masyarakat untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.
Literasi dan Visi Pembangunan Kota Dumai
Pemerintah Kota Dumai memiliki visi pembangunan 2025–2029, yaitu mewujudkan Kota Industri yang Unggul, Sejahtera dan Berkelanjutan Berlandaskan Budaya Melayu Tahun 2029. Salah satu misi yang berkaitan dengan layanan literasi adalah mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Arah pembangunan tersebut dituangkan dalam RPJMD Kota Dumai Tahun 2025–2029.
Dalam konteks ini, perpustakaan dapat menjadi salah satu sarana pendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui akses terhadap bahan bacaan dan informasi, masyarakat memiliki kesempatan untuk menambah pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan memperluas wawasan.
Arah tersebut juga berkaitan dengan Rencana Strategis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Dumai serta Rencana Kerja tahunannya. Renstra menjadi pedoman perencanaan jangka menengah, sedangkan Renja menjabarkan rencana kerja perangkat daerah untuk satu tahun anggaran. Keduanya diperlukan agar layanan perpustakaan berjalan sesuai tujuan dan prioritas pembangunan daerah.
Dari Kebiasaan Membaca Menuju Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 menempatkan peningkatan kualitas manusia sebagai bagian penting dari pembangunan nasional. Pada tahap pertama RPJPN 2025–2045, pemerintah menekankan penguatan transformasi, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemenuhan layanan dasar pendidikan.
Literasi memiliki hubungan dengan tujuan tersebut. Masyarakat yang memiliki akses terhadap informasi dan kesempatan belajar dapat memperluas pengetahuan serta meningkatkan kemampuan untuk menghadapi perubahan.
Bayangkan seorang pelajar yang ingin memahami pelajaran, tetapi memiliki keterbatasan membeli buku tambahan. Perpustakaan dapat menjadi tempat untuk mencari bahan bacaan tanpa harus membeli semua buku yang dibutuhkan. Begitu pula masyarakat yang ingin mempelajari keterampilan baru atau mencari informasi untuk mengembangkan usaha.
Gambaran tersebut merupakan ilustrasi, bukan kisah pengguna perpustakaan tertentu di Dumai. Namun, contoh itu menunjukkan bahwa layanan perpustakaan dapat memberikan manfaat nyata ketika koleksi, fasilitas, dan pelayanannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Tantangan: Membuat Perpustakaan Lebih Dekat dengan Masyarakat
Menurut saya, tantangan layanan literasi bukan hanya menyediakan buku, tetapi juga membuat masyarakat tertarik untuk memanfaatkannya. Perpustakaan perlu hadir sebagai ruang belajar yang nyaman, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan berbagai kelompok usia.
Kegiatan seperti membaca bersama anak, pengenalan literasi digital, diskusi buku, serta kerja sama dengan sekolah dan komunitas dapat menjadi pilihan pengembangan layanan. Pemanfaatan perpustakaan digital juga dapat memperluas akses informasi bagi masyarakat yang tidak selalu bisa datang langsung.
Meski demikian, keberhasilan layanan tersebut perlu dinilai berdasarkan pelaksanaannya. Jumlah pengunjung, pemanfaatan koleksi, partisipasi dalam kegiatan literasi, dan kepuasan pengguna dapat menjadi bahan evaluasi sesuai indikator yang ditetapkan dalam dokumen perencanaan instansi.
Dengan demikian, program literasi tidak cukup dinilai dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Hal yang lebih penting adalah apakah kegiatan tersebut benar-benar membantu masyarakat memperoleh pengetahuan dan membangun kebiasaan belajar.
Membangun Generasi Berkualitas dari Sekarang
Literasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan manusia. Pendidikan yang berkualitas, kesehatan, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan ekonomi juga diperlukan. Namun, akses terhadap bacaan dan informasi dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Bagi Kota Dumai, pengembangan layanan perpustakaan dapat mendukung visi pembangunan daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sementara itu, dalam lingkup nasional, penguatan budaya literasi sejalan dengan cita-cita membangun masyarakat yang berpengetahuan, produktif, dan mampu bersaing menuju Indonesia Emas 2045.
Pada akhirnya, perpustakaan tidak hanya tentang buku yang tersusun di rak. Perpustakaan juga tentang kesempatan bagi masyarakat untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan masa depan. Dari kebiasaan belajar yang dibangun hari ini, kualitas generasi mendatang dapat terus diperkuat.
