Konten dari Pengguna

Maaf, Masih Belajar Merasa Cukup Tidak Harus Berlimpah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini hanya sebuah cerita literasi. Dulu, ada seorang pria yang setiap pagi duduk di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi. Suatu hari, seorang teman bertanya, “Kenapa cuma satu cangkir? Kalau enak, bukankah lebih nikmat minum sebanyak-banyaknya?” sang pria pun hanya tersenyum dan menjawab, “Justru karena hanya secangkir, aku bisa benar-benar menikmatinya.” Dari sana, ia mulai menyadari bahwa banyak hal dalam hidup memang terasa indah bukan karena jumlahnya banyak, melainkan karena kita mampu menikmatinya dengan penuh kesadaran.

Ia teringat pada semangkuk mie ayam yang selalu terasa begitu nikmat ketika disantap perlahan. Bukan karena porsinya besar, tetapi karena setiap suapan dinikmati tanpa terburu-buru. Begitu pula dengan pelangi. Keindahannya justru terasa istimewa karena tidak berlangsung lama. Jika pelangi muncul sepanjang hari, mungkin orang tidak lagi berhenti untuk mengaguminya. Rupanya, keterbatasan sering kali membuat sesuatu menjadi lebih berharga.

Dalam perjalanan hidup, manusia sering terjebak dalam keinginan untuk memiliki lebih banyak: lebih banyak uang, lebih banyak makanan, lebih banyak waktu, bahkan lebih banyak kesenangan. Kita mengejar semuanya tanpa sadar bahwa terlalu banyak justru bisa menghilangkan rasa. Apa yang awalnya membahagiakan dapat berubah menjadi kebiasaan yang hambar ketika dinikmati tanpa batas. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki lebih, tetapi kita perlu tahu kapan harus merasa cukup.

Maaf, saya masih belajar merasa cukup

Karenanya, hidup itu bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita miliki, melainkan seberapa dalam kita mampu mensyukuri apa yang kita punya. Kopi cukup secangkir, mie ayam cukup semangkuk, dan pelangi cukup hadir sesaat untuk membuat kita tersenyum. Karena pada akhirnya, segala sesuatu terasa lebih bermakna ketika dinikmati secukupnya, bukan semaunya.

Kopi enak karena secangkir, bukan segalon. Mie ayam nikmat karena semangkok, bukan sebaskom. Pelangi indah karena muncul sebentar, bukan sehari penuh. Dan ternyata, segala sesuatu terasa lebih baik ketika kita menikmati secukupnya, bukan semaunya. Salam literasi!