Mahasiswa Akuntansi Belum Tentu Pandai Mengelola Uang Sendiri

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa akuntansi terbiasa berhadapan dengan angka, mulai dari mencatat transaksi, menyusun jurnal, menghitung laba rugi, hingga membuat laporan keuangan. Di ruang kelas, mereka mempelajari bagaimana sebuah perusahaan mengelola aset, mengendalikan biaya, dan menjaga keseimbangan keuangannya. Namun, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: apakah kemampuan tersebut juga membuat mereka lebih terampil mengatur uang pribadi?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Banyak yang mampu mengerjakan soal akuntansi dengan mengikuti tahapan yang benar, tetapi masih kesulitan mengendalikan pengeluaran sehari-hari. Uang bulanan bisa habis sebelum waktunya, saldo rekening menipis tanpa disadari, atau keinginan membeli sesuatu lebih mudah mengalahkan rencana menabung yang sudah dibuat sebelumnya.
Menurut saya, keadaan tersebut menunjukkan bahwa memahami keuangan secara teori tidak selalu berarti mampu menerapkannya dalam kehidupan pribadi. Seseorang bisa mengetahui pentingnya mencatat pengeluaran, tetapi belum tentu konsisten melakukannya. Ia mungkin memahami konsep anggaran, tetapi tetap tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Pengetahuan memberikan dasar untuk mengambil keputusan, sedangkan kebiasaan menentukan bagaimana pengetahuan itu digunakan.
Kehidupan mahasiswa memang memiliki tantangan finansial tersendiri. Sebagian masih bergantung pada uang dari orang tua, sementara yang lain mulai mencari penghasilan melalui pekerjaan sampingan. Di tengah kegiatan kuliah, tugas kelompok, dan kebutuhan pergaulan, mengatur pengeluaran sering kali bukan menjadi prioritas utama. Pengeluaran kecil seperti membeli kopi, memesan makanan melalui aplikasi, membayar langganan digital, atau bepergian bersama teman dapat terlihat tidak berarti. Namun, jika dilakukan berulang kali, jumlahnya bisa cukup besar.
Persoalannya bukan berarti mahasiswa harus berhenti menikmati kehidupan. Masa kuliah juga merupakan waktu untuk bersosialisasi, mencoba pengalaman baru, dan membangun hubungan dengan orang lain. Akan tetapi, kebebasan menggunakan uang perlu disertai kesadaran mengenai kemampuan finansial masing-masing. Mengikuti gaya hidup teman tanpa mempertimbangkan kondisi rekening sendiri justru dapat menimbulkan tekanan yang sebenarnya bisa dihindari.
Di sinilah ilmu akuntansi sebenarnya dapat diterapkan secara sederhana. Mahasiswa tidak perlu membuat laporan keuangan pribadi yang rumit seperti perusahaan. Mereka bisa memulai dengan mencatat pemasukan, membedakan kebutuhan dan keinginan, menetapkan batas pengeluaran, serta mengevaluasi penggunaan uang setiap minggu. Dari catatan tersebut, pola belanja akan lebih mudah terlihat sehingga keputusan keuangan tidak hanya didasarkan pada perkiraan.
Kebiasaan ini juga membantu seseorang memahami bahwa kondisi keuangan bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya pemasukan. Uang yang terbatas masih dapat dikelola dengan lebih baik melalui perencanaan yang realistis. Sebaliknya, penghasilan yang cukup besar pun bisa cepat habis apabila tidak disertai pengendalian diri. Kemampuan mengatur prioritas menjadi bagian penting yang sering kali tidak cukup dipelajari hanya melalui rumus atau contoh soal.
Selain itu, mahasiswa perlu membangun pemahaman bahwa menabung bukan sekadar menyisihkan uang yang tersisa. Jika menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi, kemungkinan besar tidak banyak dana yang dapat disimpan. Menentukan nominal tabungan sejak awal, meskipun kecil, dapat membantu membentuk kebiasaan finansial yang lebih teratur. Dana tersebut juga bisa menjadi persiapan menghadapi kebutuhan mendadak tanpa harus selalu meminta bantuan orang lain.
Perguruan tinggi turut memiliki kesempatan untuk menghubungkan materi perkuliahan dengan persoalan nyata. Pembelajaran akuntansi tidak harus selalu berpusat pada transaksi perusahaan atau penyelesaian soal ujian. Studi kasus mengenai anggaran mahasiswa, simulasi pengelolaan uang bulanan, dan evaluasi keputusan belanja dapat membantu mahasiswa memahami manfaat ilmu yang mereka pelajari. Dengan begitu, materi perkuliahan terasa lebih dekat dengan kehidupan setelah lulus.
Kemampuan mengelola keuangan pribadi juga penting ketika mahasiswa mulai memasuki dunia kerja. Gaji pertama mungkin terasa menyenangkan, tetapi akan ada kebutuhan lain yang menyertainya, seperti biaya transportasi, tempat tinggal, tabungan, kewajiban keluarga, dan rencana masa depan. Tanpa kebiasaan finansial yang baik sejak awal, peningkatan penghasilan belum tentu membuat kehidupan menjadi lebih stabil.
Ilmu akuntansi memang memberikan bekal untuk memahami kondisi keuangan secara sistematis. Namun, keterampilan tersebut akan lebih bermakna ketika digunakan untuk mengambil keputusan sehari-hari. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menjelaskan mengapa pengeluaran harus dicatat atau mengapa anggaran perlu dibuat. Mereka juga perlu membiasakan diri menerapkan prinsip tersebut ketika menghadapi godaan belanja, tekanan pergaulan, dan kebutuhan yang terus berubah.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
