Mahasiswa KKN UTA’45 Jakarta Edukasi Warga RW 09 Kebon Bawang Mengenai Hoaks

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta yang sedang berkegiatan KKN di Kelurahan Kebon Bawang, RW 09, Tanjung Priok, Jakarta Utara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dwi Nurwiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meningkatkan Kewaspadaan Warga Kebon Bawang terhadap Hoaks
Kelurahan Kebon Bawang, Jakarta Utara – Di era globalisasi saat ini, teknologi digital berkembang dengan cepat dan memudahkan seseorang mendapatkan serta menyebarkan informasi. Dengan smartphone, banyak berita dapat diterima dan disebarkan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini harus dilandasi dengan sikap kritis agar masyarakat tidak langsung percaya atau menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Melalui program Pendamping Ekosistem Digital Sehat (PEDAS), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 8 Sore Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, melakukan sosialisasi mengenai bahaya hoaks kepada warga di RW 09, Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Sosialisasi ini bermaksud untuk meningkatkan kesadaran warga dalam menyaring informasi, terutama yang datang melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Masyarakat diajak untuk tidak hanya menerima informasi, namun juga menilai apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau malah menyesatkan.
Selama kegiatan, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa hoaks adalah informasi tidak benar atau keliru yang disajikan seolah-olah itu fakta. Bentuk hoaks ada berbagai macam seperti: berita palsu, pesan berantai, klaim hadiah palsu, hingga foto atau video yang dimanipulasi.
Penyebaran hoaks bukan hanya masalah informasi salah. Informasi palsu dapat menimbulkan kepanikan, memicu kesalahpahaman dan konflik, menyebarkan kebencian, bahkan dimanfaatkan pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan dari masyarakat.
Untuk membantu warga mengenali informasi mencurigakan, mahasiswa KKN menjelaskan beberapa ciri hoaks. Di antaranya judul yang berlebihan, bahasa memancing emosi, tawaran hadiah tidak masuk akal, dan pesan yang mendesak penerima bertindak segera.
Warga juga perlu memeriksa sumber informasi. Dari mana sumber info berasal dari sumber tak jelas, tak mencantumkan siapa penulisnya atau berasal dari lembaga tepercaya, serta foto atau video tanpa konteks jelas harus dipertanyakan sebelum dipercaya atau dibagikan oleh masyarakat.
Sebagai cara sederhana menghadapi info yang belum terverifikasi, mahasiswa KKN memperkenalkan metode “BERHENTI – PERIKSA – BAGIKAN.” Langkah pertama, berhenti: jangan terburu-buru dengan langsung menyebarkan informasi. Selanjutnya, periksa info dengan melihat pengirim, sumber, tanggal publikasi, dan bukti pendukung. Info juga dapat dibandingkan dengan sumber lainnya yang lebih tepercaya untuk memastikan kebenarannya. Setelah diperiksa dan dinyatakan benar dan valid, barulah informasi dapat dibagikan kepada orang lain.
Dengan kegiatan ini, mahasiswa KKN UTA’45 Jakarta berharap warga RW 09 Kebon Bawang menjadi lebih bijak dalam memakai media digital. Dengan melalui sikap yang tak mudah percaya dan kebiasaan memeriksa sebelum membagikan info menjadi langkah awal yang penting dalam melawan dampak negatif hoaks: kepanikan, ketakutan, konflik sosial, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi.
Sosialisasi bahaya hoaks lewat Program PEDAS adalah kontribusi mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta dengan memberikan pondasi awal pada kesadaran digital di masyarakat. Melalui kebiasaan berhenti, memeriksa, lalu membagikan info, masyarakat dapat ikut menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab.
