Mahasiswa UGM Geruduk Diskusi yang Dihadiri Nusron-Sudaryono-Budiman Sudjatmiko
·waktu baca 6 menit

Sejumlah mahasiswa menggeruduk acara diskusi di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara ini dihadiri Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid; Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono; dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko.
Dalam video yang beredar, mahasiswa meneriaki "revolusi" hingga menggebrak-gebrak mobil.
Acara diskusi ini semula berjalan lancar. Ketiga narasumber bicara di atas panggung. Lalu saat Budiman membahas soal eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto—bahwa jangan ada yang menyentuh Tiyo, sejumlah mahasiswa naik ke panggung.
Spanduk dibentangkan mulai dari "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim". Teriakan "Satuan Penjilat Prabowo-Gibran" pun berulang kali terdengar.
Terpantau pula sempat terjadi pelemparan gelas air mineral. Ketiga pejabat ini lalu dievakuasi ke luar, namun, mahasiswa telah mengadang di sekitar mobil para pejabat.
Di luar, Nusron dan Sudaryono menemui mahasiswa. Sementara itu, Budiman tak tampak.
"Mana Budiman!?" teriak mahasiswa.
Nusron dan Sudaryono sempat berdebat dengan mahasiswa. Salah satunya ketika salah seorang mahasiswa bertanya soal ratusan ribu hektare lahan di Papua yang dialihfungsikan sehingga masyarakat tergusur.
"Ratusan ribu hektare habis. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak kan?" kata mahasiswa.
Nusron merespons dengan mengajak mahasiswa ke Papua. Namun, itu tak bikin puas mahasiswa.
"Sekarang gini, Mas, kalau Anda mengatakan saya menggusur Papua, kapan kamu mau tak ajak ke sana (Papua)," ujar Nusron.
Nusron dan Sudaryono kemudian beranjak. Sempat terjadi kejar-kejaran. Rombongan Nusron dan Sudaryono dievakuasi meninggalkan lokasi dengan mobil patwal.
Kata Sema UGM
Ketua Serikat Mahasiswa UGM, Mesa, mengatakan para narasumber diskusi ini tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat.
"Selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat," kata Mesa kepada wartawan.
Mesa mengatakan Budiman Sudjatmiko merupakan simbol pengkhianat. Menurutnya, Budiman dulunya adalah inspirasi, sekarang dia justru mengkhianati adik-adiknya.
"Persetan bicara bahwa pengentasan kemiskinan itu baik ketika orang-orang miskin justru dibunuh secara struktur, orang-orang miskin dibunuh secara ekonomi, dan orang-orang miskin justru dianggap dan diakui ketika per harinya hanya memiliki Rp 20 ribu. Di atas dari itu, mereka tidak diakui sebagai orang miskin," ucap dia.
Soal gesekan yang sempat terjadi, Mesa mengatakan karena para pejabat yang datang disebut banyak berbohong.
"Mereka justru mengatakan kepada kami di depan UGM sana, jika ingin berbicara Papua, mari jadi volunteer. Bukan itu jawabannya. Mereka punya kekuasaan, mereka punya tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan itu, bukan kita sebagai rakyat," kata dia.
Sementara terkait aksi kejar-kejaran yang juga sempat terjadi, Mesa mengatakan, ini dilakukan karena para pejabat menghindari mahasiswa.
"Kami tidak akan mengejar-ngejar mereka seandainya mereka menjawab satu pertanyaan sederhana saya, apakah mereka merasa bersalah? Tidak. Mereka justru memberikan pertanyaan balik dan juga secara eksplisit merasa tidak bersalah. Itu adalah konsekuensi dari tindakan mereka," tutur Mesa.
Menurutnya, keributan yang terjadi adalah hal yang wajar dalam berdemokrasi. Apalagi, menurut Mesa, para pejabat tidak bisa dibisiki, tetapi harus diteriaki.
"Mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu. Bahkan ketika itu dilakukan, tidak ada jaminan bahwa mereka merasa bersalah," ujarnya.
Mesa mengatakan, mahasiswa harus terus bersuara sebagai tanggung jawabnya mengingatkan para penguasa.
"Mengingatkan penguasa bahwa mereka itu bukan untuk berkuasa, tapi harus menjalankan pemerintahan ini dengan sebaik-baiknya, dengan seadil-adilnya, sesuai dengan Pancasila," ungkap Mesa.
Tanggapan Sudaryono
Sudaryono memberikan klarifikasi terkait insiden yang terjadi. Ia mengaku datang bersama narasumber lain membawa niat untuk berdialog terbuka dan demokratis dengan mahasiswa.
"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," kata Sudaryono dalam keterangan tertulisnya.
Sudaryono bilang, dirinya dan narasumber lain membuka ruang dialog terhadap pertanyaan maupun kritik mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah.
"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah," ujarnya.
Sudaryono melanjutkan, di tengah forum, ada sekelompok peserta yang tak ingin diskusi dilanjutkan. Situasi menurutnya jadi tidak kondusif.
"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," katanya.
Ia sempat tetap bertahan di lokasi. Akan tetapi terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.
"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ucap Sudaryono.
"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," lanjutnya.
Diakui Sudaryono, dalam diskusi spontan tersebut, mahasiswa menyampaikan kritik terkait isu pertanahan dan dugaan penggusuran. Sudaryono terbuka untuk memverifikasi langsung setiap persoalan yang disampaikan.
"Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya," ujar Sudaryono.
Sudaryono menegaskan, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terbuka terhadap kritik dan menjunjung tinggi demokrasi.
Dia meminta maaf kepada mahasiswa yang hadir dengan niat berdiskusi namun tidak dapat mengikuti forum secara optimal akibat situasi ini. Sudaryono siap kembali jika diundang berdiskusi di Yogyakarta maupun Jakarta.
"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.
Respons Nusron
Sementara itu, Nusron Wahid mengaku datang ke acara tersebut untuk berdialog dengan siapa saja dan dengan topik apa pun.
"Kami dari pemerintah sudah menyiapkan diri untuk memang siap untuk di-bully, siap untuk dicaci maki di hadapan siapa pun karena itu konsekuensi dari jabatan," kata Nusron.
Namun, Nusron menyebut, rupanya pada malam itu ada sekelompok orang yang tidak siap berdialog.
"Rupa-rupanya pada malam ini takdir berkata lain. Ada sekelompok orang yang ademokratis. Yang tidak siap berdialog, yang tidak siap berdemokrasi, dan tidak siap untuk menerima dialog pemikiran yang memaksakan kehendak dan mengedepankan kekerasan," ungkap Nusron dalam sebuah video.
Nusron menyayangkan peristiwa semalam. Forum seharusnya berjalan baik seperti kampus-kampus lain.
"Tidak ada motivasi mengebiri, tapi kita justru siap dikritik. Kalau ada yang salah kita siap mengoreksi. Kalau ada masukan kita tindaklanjuti. Tapi ternyata digagalkan oleh sekelompok orang tertentu," tutur dia.
Nusron mengajak semua pihak untuk menegakkan demokrasi dengan cara yang berkeadaban.
"Karena itu ruang diskusi dan ruang untuk berdebat di berbagai forum apa pun tidak boleh ditutup dan tidak boleh monolog dengan menciptakan opini tunggal dari kelompok-kelompok tertentu," ujarnya.
