Mahasiswa Zaman Sekarang Banyak Baca, Tapi Kok Makin Susah Mikir Kritis?

Mahasiwa Unpam Sistem Informasi 02SIFP006
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Teguh muchlisin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, kemampuan literasi menjadi salah satu modal paling penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Literasi tidak lagi sekadar diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan mencakup kemampuan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara kritis. Bagi mahasiswa, literasi adalah kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah kompleksitas dunia akademik maupun dunia kerja yang terus berubah.
Literasi Bukan Sekadar Membaca Buku
Banyak orang masih memahami literasi secara sempit, yaitu sebatas kebiasaan membaca buku. Padahal, dalam konteks pendidikan tinggi, literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Ada literasi informasi, yaitu kemampuan mencari dan menyaring sumber yang kredibel. Ada literasi digital, yaitu kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Ada pula literasi data, yang menjadi semakin relevan ketika hampir semua bidang ilmu kini bersinggungan dengan angka, statistik, dan visualisasi data.
Mahasiswa yang memiliki literasi yang baik tidak hanya mampu membaca teks akademik dengan cepat, tetapi juga mampu memilah mana informasi yang valid dan mana yang menyesatkan. Kemampuan ini menjadi semakin krusial mengingat banjirnya informasi di media sosial, yang sering kali tidak disertai dengan verifikasi yang memadai.
Tantangan Literasi di Kalangan Mahasiswa
Sayangnya, tingkat literasi mahasiswa Indonesia masih menjadi sorotan. Berbagai survei menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia, termasuk kalangan terdidik, masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain. Hal ini diperparah dengan kebiasaan instan dalam mengonsumsi informasi, misalnya hanya membaca judul berita tanpa membaca isi secara menyeluruh, atau mengandalkan ringkasan singkat tanpa menelusuri sumber aslinya.
Kemunculan teknologi kecerdasan buatan turut membawa tantangan baru. Di satu sisi, teknologi ini mempermudah akses terhadap informasi dan mempercepat proses belajar. Namun di sisi lain, ada risiko ketergantungan yang membuat mahasiswa kehilangan kebiasaan berpikir mendalam dan menganalisis secara mandiri. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran literasi yang kuat, kemudahan ini justru dapat melemahkan daya pikir kritis mahasiswa itu sendiri.
Mengapa Literasi Penting bagi Mahasiswa
Pertama, literasi yang baik mendukung keberhasilan akademik. Mahasiswa yang terbiasa membaca dan menganalisis teks secara kritis akan lebih mudah memahami materi kuliah, menyusun argumen dalam tugas maupun skripsi, serta berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas.
Kedua, literasi membentuk kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang literat tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, propaganda, atau opini yang tidak berdasar. Mereka mampu mempertanyakan sumber informasi, mencari bukti pendukung, dan membentuk pandangan berdasarkan data yang valid.
Ketiga, literasi menjadi bekal penting menghadapi dunia kerja. Banyak perusahaan saat ini mencari lulusan yang tidak hanya menguasai bidang ilmunya, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan menyusun laporan, presentasi, maupun analisis tertulis sangat bergantung pada fondasi literasi yang kuat sejak masa kuliah.
Langkah Membangun Budaya Literasi di Kampus
Membangun budaya literasi tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan memerlukan kebiasaan yang dibangun secara konsisten. Mahasiswa dapat memulai dengan menyisihkan waktu khusus untuk membaca, baik buku teks, jurnal ilmiah, maupun bacaan umum yang memperluas wawasan. Kebiasaan ini akan jauh lebih bermakna jika disertai dengan diskusi, baik dengan teman sebaya maupun dosen, sehingga pemahaman yang diperoleh dapat diuji dan diperdalam.
Pemanfaatan perpustakaan kampus maupun sumber digital yang kredibel, seperti jurnal akademik dan basis data ilmiah, juga perlu lebih dioptimalkan. Selain itu, organisasi mahasiswa dan unit kegiatan kampus dapat berperan aktif dengan menginisiasi forum diskusi, klub baca, maupun pelatihan literasi digital yang dapat meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya kemampuan ini.
Tidak kalah penting, mahasiswa perlu melatih diri untuk selalu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, terutama di media sosial. Kebiasaan sederhana ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi langkah awal untuk membentuk masyarakat yang lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang keliru.
