Malam Tak Pernah Usai: Perspektif Filsafat Sains di Night Always Comes (End)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

IV. Ketika Infrastruktur Menjadi Senjata
Mengapa rumah itu begitu penting bagi Lynette hingga ia rela menghancurkan dirinya sendiri untuk mempertahankannya? Jawabannya tidak hanya terletak pada soal tempat berlindung. Jawabannya terletak pada asumsinya tentang apa yang akan terjadi pada lingkungannya jika ia tidak berhasil membelinya.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal SSM — Population Health (2025), yang memberikan dasar ilmiah kuat bagi intuisi tentang perubahan sosial di lingkungan perkotaan tersebut, kemudian dilakukan terhadap 26.498 wilayah sensus di seluruh Amerika Serikat dengan menggunakan data longitudinal dari American Community Survey dan Google Street View. Penelitian ini menemukan bahwa ketersediaan infrastruktur pejalan kaki seperti trotoar secara signifikan berkaitan dengan meningkatnya peluang terjadinya gentrifikasi.
Mekanismenya adalah ironi yang menyedihkan, seperti perbaikan yang secara nominal bertujuan meningkatkan keselamatan dan kenyamanan warga justru menjadi sinyal bagi investor dan pengembang properti bahwa suatu kawasan sedang mengalami kenaikan nilai ekonomi. Masuknya modal ini kemudian mendorong harga properti dan sewa naik, sementara penduduk lama yang tidak memiliki aset akhirnya terdorong keluar secara bertahap.
Portland dalam film ini adalah kota yang sedang mengalami proses itu secara bersamaan. Kota yang bercahaya adalah kota yang sedang mengusir. Dan Lynette memahami hal itu. Jika ia tidak berhasil membeli rumah itu malam ini, kemungkinan besar tidak akan ada kesempatan kedua di masa depan.
V. Kemunafikan Aturan Main: Žižek, Chomsky, dan Anatomi Sistem yang Memilih Korbannya
Ada sebuah momen dalam film yang terasa seperti tuduhan langsung kepada penonton kelas menengah yang menontonnya dari kursi bioskop yang nyaman. Setelah semua yang ia lakukan malam itu, Lynette duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan tangan yang masih berdarah. Seorang petugas administrasi dengan sopan memintanya mengisi formulir asuransi. Lynette tidak memilikinya. Ia tidak pernah mampu membelinya. Namun dunia tetap berjalan seolah-olah itu hanya masalah pribadinya.
Filsuf Slovenia Slavoj Žižek pernah menjelaskan adanya kontradiksi mendasar dalam cara kapitalisme global bekerja. Dalam berbagai tulisan dan kuliahnya tentang ideologi ekonomi neoliberal, ia menunjukkan bahwa sistem ini sering membuat aturan yang pada praktiknya sulit dipatuhi oleh orang-orang yang berada di posisi lemah.
Lynette berusaha hidup mengikuti aturan itu dengan tekun, tetapi justru harus membayar harga yang sangat mahal. Ketika akhirnya ia melanggar aturan tersebut, ia melakukannya bukan karena keserakahan, melainkan karena ia hanya ingin menyediakan tempat tinggal bagi keluarganya.
Žižek pernah menulis bahwa ada aturan-aturan dalam masyarakat yang sebenarnya dibuat sedemikian rupa sehingga orang hampir pasti akan melanggarnya.
"There are rules which you are expected to violate." — Slavoj Žižek, dalam analisisnya tentang kontradiksi kapitalisme global
Sementara itu, pemikiran Noam Chomsky tentang neoliberalisme membantu menjelaskan kondisi Lynette dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam Profit Over People: Neoliberalism and Global Order (1999), Chomsky menjelaskan bahwa kebijakan ekonomi neoliberal sering memperburuk ketimpangan sosial melalui kebijakan yang disebut sebagai fleksibilitas tenaga kerja.
Istilah “fleksibilitas” ini dalam wacana resmi sering dipuji sebagai bentuk inovasi dan pemberdayaan. Namun dalam praktiknya, hal itu berarti pekerja dapat dipekerjakan atau diberhentikan kapan saja, upah dapat ditekan oleh tekanan pasar, dan perusahaan tidak memiliki tanggung jawab jangka panjang terhadap kesejahteraan pekerjanya.
Lynette adalah gambaran nyata dari pekerja yang hidup dalam sistem tersebut. Ia cukup terdesak untuk menerima pekerjaan apa pun yang tersedia. Ia juga cukup terisolasi sehingga tidak memiliki kekuatan untuk melawan atau berorganisasi bersama pekerja lain.
Sistem ini tidak perlu secara langsung memaksanya bekerja keras. Sistem hanya perlu memastikan bahwa berhenti bekerja bukanlah pilihan yang bisa ia ambil.
Hal yang membuat Night Always Comes lebih dari sekadar drama sosial adalah kesadaran bahwa musuh Lynette tidak memiliki wajah yang jelas. Tidak ada pengusaha jahat atau politisi korup yang bisa ditunjuk sebagai satu-satunya penyebab penderitaannya. Yang ada hanyalah pasar perumahan yang dianggap “efisien”, pasar tenaga kerja yang disebut “fleksibel”, kebijakan kota yang diklaim “progresif”, dan seorang ibu yang telah terlalu lama dihancurkan oleh sistem yang sama sehingga tidak lagi mampu menjadi penopang bagi anaknya.
VI. Tentang Kekalahan yang Lebih Dalam dari Kemiskinan
Dalam psikologi klinis, terdapat sebuah konsep yang disebut learned helplessness, yaitu keadaan ketika seseorang yang terus-menerus mengalami situasi di luar kendalinya akhirnya berhenti mencoba untuk berubah, bahkan ketika kesempatan untuk memperbaiki keadaan sebenarnya ada.
Penelitian awal oleh Martin Seligman, menunjukkan bahwa dampak kondisi ini tidak hanya merusak motivasi seseorang, tetapi juga memengaruhi kemampuannya untuk melihat peluang yang mungkin sebenarnya tersedia.
Dalam kerangka ini, ibu Lynette bukanlah tokoh yang gagal secara moral. Ia adalah korban dari proses yang sama, hanya saja ia mengalaminya lebih lama. Ketika ia berkata, “saya ingin membakarnya”, kalimat itu bukanlah bentuk kekejaman, tapi sebuah ungkapan dari seseorang yang sudah kehilangan kemampuan untuk membayangkan bahwa kehidupan bisa berubah menjadi lebih baik.
Inilah bagian terdalam dari film ini, juga merupakan bagian yang paling sulit diukur dengan angka, tetapi mudah dipahami oleh siapa pun yang pernah hidup dekat dengan keterbatasan ekonomi. Kemiskinan tidak hanya mengambil uang. Ia juga merampas keyakinan bahwa masa depan adalah sesuatu yang bisa direncanakan.
Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan kondisi ini melalui konsep habitus, yaitu cara berpikir dan cara melihat dunia yang terbentuk dari pengalaman hidup seseorang. Ketika seseorang hidup terlalu lama dalam kondisi yang keras dan tidak pasti, harapan dan aspirasi yang dianggap wajar bagi kelompok sosial lain bisa menjadi sesuatu yang bahkan sulit dibayangkan. Hal ini bukan karena kurangnya motivasi. Hal ini terjadi karena pengalaman hidup seseorang terlalu sering menunjukkan bahwa berharap justru bisa berakhir dengan kekecewaan.
Lynette tidak hanya berjuang untuk mendapatkan sebuah rumah. Ia juga berjuang untuk mempertahankan hak yang paling dasar: hak untuk berharap. Dan film ini dengan jujur menunjukkan betapa mahal harga dari sekadar memiliki harapan tersebut.
VII. Penutup
Night Always Comes adalah film yang sulit untuk dicintai dan tidak mungkin untuk dilupakan. Ia tidak memberikan resolusi yang memuaskan. Yang ia berikan adalah sesuatu yang lebih penting dan lebih langka dalam sinema kontemporer, yaitu sebuah kebenaran tentang bagaimana kemiskinan benar-benar terasa dari ari dalam kehidupan seseorang. Kemiskinan tidak digambarkan sebagai kegagalan pribadi, dan juga bukan sekadar nasib buruk. Film ini menunjukkan bahwa kemiskinan sering kali merupakan hasil dari sistem sosial dan ekonomi yang bekerja secara terus-menerus.
Dari data laporan Joint Center for Housing Studies tentang krisis perumahan, penelitian British Journal of Sociology tentang ketidakpastian kerja, serta studi SSM — Population Health tentang gentrifikasi menunjukkan bahwa pengalaman Lynette bukanlah sekadar cerita fiksi. Kisahnya mencerminkan pengalaman nyata jutaan orang yang hidup dalam sistem yang membuat mereka terus berjuang tanpa kepastian.
Film ini akhirnya meninggalkan sebuah pertanyaan penting. Pertanyaannya bukan lagi apakah sistem ini bekerja dengan cara yang kejam. Pertanyaan yang lebih penting adalah tentang siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh kekejaman yang berlangsung secara teratur ini, dan apa yang harus kita lakukan ketika kita sudah mengetahui jawabannya. (**)
Referensi
Benjamin Caron. Night Always Comes. Film. Netflix. 2024.
Joint Center for Housing Studies of Harvard University. The State of the Nation's Housing 2025. Harvard University. 2025.
Arnaud Lepinteur, Rachel P. Walsh, dan kolaborator. Gig Economy Platform Dependence and Mental Health: A Longitudinal Analysis of Within-Person Change. British Journal of Sociology. 2025.
Matthew C. Kondo, Eugenia South, dan kolaborator. The Role of Sidewalk Availability in Gentrification: A Nationwide Longitudinal Study of 26,498 Census Tracts. SSM – Population Health. 2025.
Slavoj Žižek. The Sublime Object of Ideology. Verso Books. 1989.
Noam Chomsky. Profit Over People: Neoliberalism and Global Order. Seven Stories Press. 1999.
Pierre Bourdieu. The Logic of Practice. Stanford University Press. 1990.
