Marak Aksi Pengusiran Warga Asing di Afsel, Imigran Kabur ke Gunung dan Semak

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah penduduk beraktivitas di kota Oudtshoorn di Provinsi Western Cape, Cape Town, Afrika Selatan Foto: Old Mill Photography/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penduduk beraktivitas di kota Oudtshoorn di Provinsi Western Cape, Cape Town, Afrika Selatan Foto: Old Mill Photography/Shutterstock

Ratusan warga asing di Afrika Selatan (Afsel) kabur dan mencari perlindungan di berbagai balai-balai di pantai selatan. Aksi itu dilakukan usai sejumlah warga lokal mendatangi rumah-rumah mereka lalu mengusir mereka dari Afsel.

Laporan kantor AFP, sebagian besar warga yang mengalami ancaman berasal dari Malawi dan Mozambik. Pengusiran oleh warga lokal dilakukan sejak akhir pekan lalu.

Warga korban pengusiran kemudian bermalam di kawasan pegunungan dan semak belukar, sebelum mereka berhasil sampai ke pusat-pusat komunitas di berbagai kota kecil.

Protes di Afrika Selatan. Foto: Sibonelo Zungu/via REUTERS

"Mereka berkata 'kamu orang asing, kamu tidak pantas berada di Afrika Selatan, jadi kamu harus pergi'," kata Thomas Vincent Baloyi, pada Selasa (2/6) warga Mozambik, kepada AFP.

"Saya berkata, 'tidak, saya punya dokumen untuk berada di Afrika Selatan'. Mereka tidak mau tahu," kata Baloyi yang menolak diusir tapi terpaksa kabur dari rumahnya.

Baloyi adalah salah seorang korban pengusiran oleh warga lokal. Dia ditemui di Gansbaai, sekitar 110 kilometer (70 mil) tenggara salah satu kota besar di Afsel, Cape Town.

Kepada AFP, Baloyi mengaku berada di negara itu selama hampir 16 tahun. Selama di Afsel, Baloyi bekerja di bidang konstruksi dan berkebun.

Pengusiran ini merupakan buntut dari demo anti-imigran yang pecah di Afsel selama beberapa pekan. Pada akhir pekan lalu, demo di kota Mossel Bay berujung kekerasan.

Demo dipicu oleh isu bahwa warga negara asing tanpa dokumen melakukan tindak kejahatan dan merebut lapangan kerja.

Adapun kepolisian melaporkan aksi demo berujung kekerasan menyebabkan 55 gubuk milik warga asing dibakar massa.

Terdapat pula laporan kematian dua warga Mozambik. Hanya saja, kepolisian menolak menghubungkan kematian itu dengan demo anti-imigran yang pecah di Afsel.

Pemerintah Mozambik mengaku khawatir atas keselamatan warganya di Afsel. Mereka mengungkap demo di Afsel menyebabkan lima warganya kehilangan nyawa.

"Ini adalah konsekuensi langsung dari serangan xenofobia," ucap Pemerintah Mozambik.