Masih Ada 616 Sekolah Terdampak Bencana Sumatera yang Perbaikannya di Bawah 50%

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendagri Tito Karnavian dan Mendikdasmen Abdul Mu'ti memberikan keterangan pers bersama usai Rapat Koordinasi di Kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Foto:  Nabilah Siti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mendagri Tito Karnavian dan Mendikdasmen Abdul Mu'ti memberikan keterangan pers bersama usai Rapat Koordinasi di Kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Foto: Nabilah Siti/kumparan

Pemerintah terus melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap ribuan sekolah yang rusak terdampak bencana di tiga provinsi yakni Aceh, Sumatera, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada November 2025. Dari 4.922 sekolah, sebanyak 616 sekolah yang perbaikannya masih di bawah 50 persen.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Rehabilitasi-Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Abdul Mu'ti.

"Ada yang sudah selesai 100%, ada juga yang masih 70 sampai 99%, dan ada 616 di bawah 50%," kata Tito saat konferensi pers, Rabu (23/9).

Total sekolah yang menjadi sasaran rehab-rekon mencapai 4.922 unit di tiga provinsi terdampak. Menurut Tito, pengerjaannya dilakukan dengan skema berbeda-beda, mulai dari swakelola dengan transfer anggaran langsung ke sekolah, hingga kerja sama dengan TNI Angkatan Darat (AD).

Tito menjelaskan, salah satu penyebab lambannya progres di ratusan sekolah tersebut adalah kebutuhan relokasi.

Setidaknya ada 97 titik sekolah yang harus dipindahkan karena lahannya hilang akibat longsor, banjir, atau berada di kawasan rawan bencana.

"Ini perlu ada koordinasi dengan Pemda untuk pengadaan tanahnya," ujarnya.

Selain itu, akses jalan menuju sejumlah sekolah juga masih perlu diperbaiki, yang rencananya akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Kendala lain yang memperlambat progres adalah munculnya bencana susulan di sejumlah titik yang sama dengan lokasi terdampak sebelumnya.

Tito mencontohkan banjir bandang yang kembali terjadi di Aceh Tenggara dan Solok, serta longsor berulang di jalur Bireuen Gayo Lues yang sebelumnya sudah dibuka menggunakan alat berat.

"Ini bukan bencana kemudian selesai, tapi bencana ada lagi bencana-bencana susulan di lokasi yang kadang-kadang sama. Kita semua bekerja keras, tapi ini adalah salah satu hambatan, salah satu kendala yang perlu kita tangani," kata Tito.

Karena Proses fisik di ratusan sekolah tersebut belum rampung, Tito menegaskan hal terpenting adalah kegiatan belajar-mengajar di 4.922 sekolah terdampak saat ini sudah 100 persen kembali berjalan, baik di sekolah asal, menumpang di sekolah lain, maupun menggunakan fasilitas darurat, dengan jumlah siswa yang masih belajar di tenda kini nyaris tidak ada.

Menteri Dikdasmen Abdul Mu'ti menambahkan, pihaknya berupaya mempercepat penyelesaian rehab-rekon sekolah, khususnya menjelang pelaksanaan tes kemampuan akademik bagi siswa kelas 12 yang akan digelar Oktober mendatang, agar seluruh siswa terdampak dapat mengikutinya dengan kondisi belajar yang lebih layak.

Reporter: Nabilah Siti Nurhikmah