Masyarakat Sehat Indonesia Kuat, Saatnya Mengubah Kebiasaan untuk Masa Depan
Tulisan dari Darbi Pirmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah sejarah pernah menjadi acuan arah perubahan pola pikir kesehatan dunia di mana Pada tahun 1854, wabah kolera melumpuhkan Kota London. Ribuan orang meninggal dunia. Saat itu, hampir semua orang percaya bahwa wabah disebabkan oleh udara buruk (miasma). Seorang dokter bernama John Snow memiliki pemikiran berbeda. Ia memilih untuk tidak mengobati pasien terlebih dahulu. Namun yang ia lakukan adalah memetakan, mengamati dan mencari pola yang muncul.
Dari hasil pengamatannya, ia menemukan bahwa sebagian besar pasien/korban terjangkit dikarenakan menggunakan air dari pompa umum di Broad Street. Setelah pompa itu ditutup, jumlah kasus kolera berangsur menurun. Hal inu bukan hanya mengubah ilmu epidemiologi saat itu tetapi juga ikut mengubah cara manusia untuk berpikir. Kisah itu mengajarkan satu pelajaran sederhana tetapi sangat mendasar. Perubahan besar dalam dunia kesehatan tidak selalu dimulai dari ditemukannya obat baru, melainkan dari keberanian untuk memahami penyebab masalah dan mencegahnya sejak awal.
Peradaban modern lahir ketika manusia berhenti menunggu bencana, lalu mulai belajar mencegahnya.
Lebih dari satu setengah abad berlalu sejak peristiwa tersebut. Teknologi berkembang sangat pesat. Rumah sakit semakin modern, alat diagnostik semakin canggih, dan berbagai penyakit yang dahulu mematikan kini dapat ditangani dengan lebih baik. Indonesia pun mengalami perkembangan yang signifikan.
Jaringan puskesmas telah menjangkau hampir seluruh wilayah, rumah sakit terus bertambah, dan sistem Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan menjadi salah satu program perlindungan kesehatan terbesar di dunia. Pemerintah juga mulai memperkuat layanan promotif dan preventif melalui berbagai program skrining kesehatan, imunisasi, edukasi gizi, serta deteksi dini penyakit tidak menular.
Namun sebuah paradoks dalam dunia kesehatan masih tetap bertahan. Sebagian besar masyarakat baru datang ketika penyakit telah mengambil terlalu banyak waktu untuk tumbuh dan memperparah keadaan. Mengapa itu bisa terjadi? Apakah karena fasilitas kurang? Atau apakah ada alasan lain yang melatarbelakangi hal tersebut? Sebagian orang pasti akan menjawab iya.
Namun bila hanya fasilitas yang menjadi jawaban, mengapa di banyak kota dengan layanan yang relatif mudah diakses orang tetap menunda pemeriksaan? Barangkali masalah terbesar kesehatan Indonesia tidak berada di ruang tunggu rumah sakit. Ia berada di dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.
Selama ribuan tahun peradaban manusia berkembang karena satu kemampuan yaitu Memprediksi. Beberapa contohnya seperti Petani menanam sebelum musim hujan, Insinyur membangun bendungan sebelum banjir, Bank menilai risiko sebelum memberi kredit, Meteorolog memperkirakan kapan akan terjadi badai, Militer berlatih sebelum terjadinya perang. Seluruh kemajuan manusia dibangun di atas satu prinsip sederhana yaitu mengantisipasi lebih murah daripada memperbaiki.
Namun, semua logika tersebut seolah tidak lagi berlaku ketika menyangkut kesehatan diri sendiri. Kita mengetahui bahwa mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, tetapi justru memilih menunggu hingga tubuh memberi tanda bahaya. Mengapa manusia bersikap demikian? Psikologi perilaku memberikan penjelasan bahwa sering kali kita hidup dalam berbagai ilusi yang memengaruhi cara mengambil keputusan.
Psikologi perilaku menjelaskan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan secara rasional. Salah satu penyebabnya adalah optimism bias, yaitu kecenderungan seseorang merasa bahwa hal buruk lebih mungkin menimpa orang lain daripada dirinya sendiri. Ketika mendengar kabar tentang penyakit jantung atau stroke, banyak orang berpikir bahwa risiko tersebut masih jauh dari kehidupannya. Akibatnya, pola makan tidak dijaga, aktivitas fisik diabaikan, dan pemeriksaan kesehatan terus ditunda.
Selain itu, terdapat pula present bias, yaitu kecenderungan manusia lebih menghargai kenyamanan hari ini dibanding manfaat yang baru akan dirasakan di masa depan. Berolahraga, mengurangi konsumsi gula, berhenti merokok, atau menjalani pemeriksaan kesehatan memang memerlukan usaha. Hasilnya pun tidak langsung terlihat. Sebaliknya, menikmati makanan tinggi gula, mengabaikan waktu istirahat, atau menunda pemeriksaan terasa jauh lebih mudah dilakukan. Tanpa disadari, kebiasaan kecil tersebut dapat menjadi awal munculnya berbagai penyakit kronis.
Ada pula faktor psikologis lain yang sering luput dari perhatian, yaitu rasa takut mengetahui hasil pemeriksaan. Tidak sedikit orang yang sebenarnya menyadari pentingnya pemeriksaan kesehatan, tetapi memilih menghindarinya karena khawatir akan menerima kabar buruk. Padahal, mengetahui kondisi kesehatan sejak dini justru memberikan peluang yang lebih besar untuk memperoleh pengobatan yang efektif dan mencegah komplikasi.
Dengan kata lain, sering kali yang kita hindari bukanlah penyakit Melainkan sebuah kebenaran tentang penyakit itu sendiri. Setiap penyakit yang terlambat ditemukan bukan hanya tentang persoalan medis. Ia juga tentang kehilangan produktivitas, Pendapatan keluarga, Kesempatan belajar, serta Pertumbuhan ekonomi. Dalam ekonomi modern, kesehatan bukanlah sebuah biaya Ia adalah modal pembangunan. Karena itu mungkin ukuran atau indikator sebuah negara sehat selama ini sudah keliru.
Kita sering bangga membangun rumah sakit sebagai indikator pertumbuhan infrastruktur untuk mengatasi permasalahan kesehatan. Padahal tanpa disadari semakin banyaknya rumah sakit adalah bukti bahwa seseorang telah gagal dicegah. Keberhasilan sistem kesehatan bukan diukur dari banyaknya pasien yang berhasil diobati. Tetapi dari sedikitnya orang yang harus menjadi pasien.
Bayangkan Indonesia pada tahun 2045. Jika budaya hidup sehat telah ditanamkan sejak hari ini, kita akan menyaksikan lahirnya generasi yang terbiasa mengenali dan memahami kondisi kesehatannya sendiri. Anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa menjaga kesehatan sama pentingnya dengan menuntut ilmu. Perangkat pintar yang mereka kenakan mampu memberikan peringatan dini ketika terdeteksi perubahan pada kondisi tubuh, sementara kecerdasan buatan membantu menganalisis gejala dan mengidentifikasi risiko penyakit sejak tahap awal. Dalam situasi seperti itu, puskesmas tidak lagi dipandang semata-mata sebagai tempat berobat, melainkan menjadi pusat edukasi, konsultasi, dan literasi kesehatan bagi masyarakat. Rumah sakit pun benar-benar menjadi pilihan terakhir, karena sebagian besar penyakit telah berhasil dicegah sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Kisah John Snow mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa dimulai ketika masyarakat berhenti menunggu masalah datang dan mulai bertindak sebelum semuanya terlambat. Semangat itulah yang perlu kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga kesehatan bukan sekadar tanggung jawab pemerintah atau tenaga medis, melainkan tanggung jawab setiap individu.
Rumah sakit bukan lagi menjadi tujuan utama. Pada saat itu, masyarakat tidak lagi berkata, "Saya belum pernah ke rumah sakit." Sebaliknya, mereka akan berkata, "Saya menjaga diri agar tidak perlu ke rumah sakit." Itulah revolusi budaya yang perlu ditanamkan dalam pola pikir masyarakat sejak dini.
Selama ini, mungkin kita terlalu sibuk membangun gedung, padahal bangsa yang besar tidak dibangun oleh beton, melainkan oleh kebiasaan. Kebiasaan untuk memeriksakan kesehatan sebelum terlambat, mencari informasi sebelum penyakit datang, dan menjaga tubuh sebelum pengobatan menjadi pilihan.
Pada akhirnya, Indonesia yang kuat bukanlah Indonesia yang memiliki rumah sakit paling megah, melainkan Indonesia yang berhasil mengubah satu kebiasaan sederhana: dari menunggu sakit menjadi membiasakan diri mencegah penyakit. Di situlah makna terdalam dari upaya yang kita suarakan hari ini, "Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat." Bukan sekadar slogan, tetapi sebuah arah baru menuju peradaban yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan.

