Matinya Abu Lahab, Sang Pembenci Nabi

- Alumni LIPIA Jakarta - Pimpinan Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh - Ketua FKPP Kota Payakumbuh - Menyukui membaca dan menulis
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Roni Patihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Abu Lahab sebenarnya adalah paman kandung Rasulullah, saudara kandung ayahnya Rasulullah, Abdullah. Abu Lahab pernah memerdekan budak di hari lahir Rasulullah, sakin gembiranya. Ia juga adalah besannya Rasulullah, karena kedua putri Rasulullah, Ummu Kaltsum dan Ruqayya dinikahi oleh dua putra Abu Lahab; Ummu Kaltsum dinikahi Utaibah, dan Rauqayya dinikahi Utbah.
Akan tetapi kedekatan nasab, keturunan dan kekerabatan tidak membuat Abu Lahab menjadi pembela Rasulullah. Yang terjadi justru malah sebaliknya, ia adalah penentang Rasulullah yang paling keras, yang paling berani mencendrai Rasulullah, dan pembenci Islam sejati. Ia dan juga istrinya.
Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, surat Al Lahab turun berkaitan dengan dirinya. Suatu hari Rasulullah keluar menuju Bathha’ dan naik ke atas bukit seraya berseru, “Wahai sekalian manusia.” Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Kemudian beliau bertanya, “Bagaimana, sekiranya aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh di balik bukit ini akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya.”
Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.” Abu Lahab kemudian muncul seraya berkata dengan nada mengejek, “Apakah hanya karena ini kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakanlah bagimu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya ia akan binasa.” Hingga akhir ayat surat Al Lahab.
Surat ini seolah menggambarkan dua hal, pertama doa kecelakaan untuknya, dan yang kedua, ini seolah mengabarkan tentang kehidupan dan ajalnya nanti. Bahwa ia akan mati dalam keburukan, dibenci dan dihinakan.
Matinya Abu Lahab
Abu Sufyan, salah seorang pemimpin Quraisy, baru saja tiba di kota Makkah, setelah mengalami kegetiran yang sangat pasca kekalahan telak dan memalukan dari pasukan kaum Muslimin di Badar. Ia langsung menuju Ka’bah dan di situlah ia bertemu Abu Lahab. Abu Lahab sebenarnya adalah pamannya Abu Sufyan, karena Al Harits, ayahnya Abu Sufyan, adalah saudara kandung Abu Lahab.
Abu Lahab sedang duduk di sebuah tenda tidak jauh dari Ka’bah, yang dikenal dengan tenda Zamzam. Ia memanggil keponakannya itu untuk bergabung bersamanya di dalam tenda. Abu Lahab lantas bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan sangat jelas dan terang Abu Sufyan memulai kisahnya, “Kami berhadapan dengan musuh dan berbalik, tetapi mereka terus menyerang kami dan mengambil tawanan semau mereka. Aku tidak bisa menyalahkan orang-orang kami, karena kami tidak hanya menghadapi mereka, akan tetapi juga pasukan berbaju putih dengan kuda belang di antara langit dan bumi. Pasukan itu tidak menyisakan sedikitpun, hingga tak ada lagi yang bisa bertahan menghadapi mereka.”
Saat itu Ummu Fadl, istri paman Nabi ‘Abbas bin Abdul Muthalib, sedang duduk di salah satu sudut tenda membuat anak panah bersama budak ‘Abbas, Abu Rafi’. Ummu Fadl telah memeluk Islam dan termasuk pemeluk Islam yang pertama, begitu juga Abu Rafi’. Namun mereka menyembunyikan keislamannya.
Namun Abu Rafi’, didorong oleh rasa gembiranya atas kemenangan Nabi dan pasukannya dalam perang Badar, tidak dapat menahan diri untuk berkomentar, “Mereka itu pasukan Malaikat.” Komentarnya yang tiba-tiba itu membuat Abu Lahab naik pitam dan bangkit untuk menghajarnya berkali-kali, merobohkannya ke tanah dan menginjaknya dengan keras.
Apa daya, Abu Rafi’ hanyalah seorang budak yang lemah dan kurus, sementara Abu Lahab berbadan besar dan gemuk. Abu Rafi’ pasrah dan tak sanggup melawan. Wajahnya terluka parah.
Tapi Ummu Fadl tak bisa membiarkan kedzaliman itu terjadi di depan matanya. Ia bangkit dan segera mengambil kayu penopang tenda dan memukulkannya sekeras - kerasnya ke kepala iparnya itu. Akibatnya kulit kepala Abu Lahab robek dan menimbulkan luka parah yang tak mungkin disembuhkan lagi.
“Seenaknya saja kamu berbaut kejam di luar batas,” teriak Ummu Fadl, “kamu kira tak ada majikannya yang akan membelanya?” Abu Lahab surut dan gentar.
Tapi luka akibat hantaman kayu penopang tenda itu tak dapat disembuhkan lagi, malah semakin membusuk. Setelah kejadian itu, seluruh tubuhnya digerogoti luka bernanah beraroma busuk yang membuatnya dijauhi kaumnya. Iapun mati gara-gara itu, seminggu kemudian.
Jasadnya yang telah beraroma busuk ketika ia hidup, kini bertambah lebih busuk lagi setelah ia mati. Tak ada orang yang ingin mengurus jenazahnya, hingga terlantar selama tiga hari. Orang-orang takut terjangkiti penyakit menular jika mendekati jasadnya. Padahal ia adalah pemuka Quraisy yang dihormati semasa hidupnya.
Dengan rasa malu, keluarga Abu Lahab akhirnya menggali lubang besar di dekat jasadnya. Lalu memasukkan jasad Abu Lahab ke dalam peti kayu dengan cara mendorongnya dengan kayu panjang, mereka takut mendekat dan menyentuh jasadnya.
Badannya yang besar dan gemuk, ditambah bau busuk yang begitu menyengat, sungguh sangat merepotkan kaumnya untuk menguburkannya. Peti kayu itu mereka masukkan ke dalam lubang dari kejauhan, lalu mereka lempari lubang itu dengan batu dan tanah hingga rata.
Abu Lahab tinggal di sebuah bukit yang diberi nama dengan namanya, Bukit Abu Lahab. Di situlah ia dikuburkan. Ia yang merupakan salah seorang pemimpin Quraisy paling dihormati semasa hidupnya, begitu terhina dan terkutuk ketika matinya. Tubuhnya beroma busuk menyengat menjelang matinya. Orang-orang tak mau mengurus jenazahnya. Dan hingga kini, kuburannya masih mengeluarkan aroma busuk menyengat bagi orang-orang yang melintas di dekatnya.
