MBG dalam Cerita Mereka, Harapan untuk Masa Depan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 10 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi siswa menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa cerita tersendiri bagi para siswa penerima manfaat. Selain mendapatkan makanan selama berada di sekolah, program tersebut juga membantu membentuk kebiasaan makan yang lebih teratur sekaligus memberikan pengalaman bagi siswa untuk mengenal beragam menu makanan bergizi.

Bagi siswa, guru, dan orang tua, manfaat MBG tidak berhenti pada seporsi makanan yang diterima setiap hari. Ada harapan agar program tersebut terus berkembang, menghadirkan menu yang semakin beragam dan berkualitas, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

Hal itulah yang dirasakan Muhamad Abdul Azzam, siswa kelas XI SMAN 2 Kota Serang, Banten. Menurut dia, kehadiran program tersebut membantunya mendapatkan asupan sebelum mengikuti kegiatan belajar sekaligus menjadi bagian dari rutinitas makan di sekolah.

Azzam mengaku pertama kali menerima MBG ketika duduk di kelas X. Saat itu, ia merasa penasaran sekaligus antusias karena sebelumnya hanya mendengar tentang program tersebut ketika masih duduk di bangku SMP. Sebelum mendapatkan MBG, Azzam mengaku bukan termasuk siswa yang terbiasa sarapan. Ia biasanya baru makan ketika jam istirahat sekolah dengan membeli makanan di kantin.

"Kalau saya tipenya yang enggak pernah sarapan, malas sarapan. Paling nanti makan itu jam 10-an, pas istirahat biasanya. Sebelum ada MBG ini, jajan nasi uduk di kantin, gorengan gitu," kata Azzam saat ditemui, Rabu (7/10/2026).

Kehadiran MBG kemudian membuat Azzam memiliki pilihan makanan yang bisa dikonsumsi saat berada di sekolah. Ia mengatakan makanan tersebut juga membantunya menjaga energi selama mengikuti pembelajaran.

Muhamad Abdul Azzam, siswa kelas XI SMAN 2 Kota Serang, Banten. Foto: Dok. kumparan

Menurut Azzam, kondisi perut cukup memengaruhi konsentrasinya saat belajar. Ketika belum makan, ia mengaku lebih mudah merasa lemas dan sulit berkonsentrasi. Sebaliknya, setelah mendapatkan asupan makanan, ia merasa lebih berenergi untuk mengikuti pelajaran.

"Kalau saya tipe yang harus makan dulu. Kalau belum makan itu bawaannya lemes, pusing, jadi nggak fokus belajarnya. Kalau sudah terisi lumayan ada energi, jadi bisa fokus, lebih semangat lah," tuturnya.

Tak hanya soal aktivitas belajar, Azzam juga melihat manfaat MBG dari sisi ekonomi. Menurutnya, program tersebut membantu banyak penerima manfaat dengan kondisi dan kebutuhan yang berbeda-beda.

"Kalau dari saya, sebenarnya MBG ini sedikit, tapi cukup membantu banyak orang. Karena setiap individu pasti berbeda dampak yang dirasakan. Tapi ini membantu dari sisi ekonomi juga," kata Azzam.

Meski demikian, Azzam berharap program MBG terus berkembang dengan memperhatikan kualitas dan keberagaman makanan. Ia berharap menu yang diberikan semakin bervariasi sehingga lebih banyak siswa menikmati makanan yang disediakan.

Pola Makan Siswa yang Lebih Teratur

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 2 Kota Serang Ee Sulaeman. Foto: Dok. kumparan

Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 2 Kota Serang Ee Sulaeman, sebelum MBG diterapkan, sebagian siswa memiliki pola makan yang kurang teratur. Sebagian siswa baru mendapatkan makanan ketika waktu makan siang. Kehadiran MBG kemudian membantu siswa memperoleh makanan pada waktu yang lebih teratur selama berada di sekolah.

Perubahan tersebut, kata Sulaeman, juga terlihat dari kedisiplinan siswa dalam mengikuti rangkaian pemberian MBG. Mulai dari mengambil makanan hingga mengembalikan wadah makanan setelah selesai makan, siswa semakin terbiasa mengikuti aturan yang diterapkan sekolah.

"Jadi mereka punya rasa antusias. Kalau saya perhatikan, mereka lebih disiplin, dari mulai pengambilan hingga pengembalian omprengnya pun jadi lebih teratur," tutur dia.

Tak hanya membentuk kebiasaan makan yang lebih teratur, MBG juga menciptakan momen kebersamaan bagi para siswa. Mereka dapat menikmati makanan secara bersama-sama sambil berinteraksi dengan teman-temannya. Ia menilai antusiasme siswa terhadap MBG juga masih tinggi setelah program berjalan selama satu tahun. Respons tersebut salah satunya terlihat ketika menu yang disajikan sesuai dengan selera siswa.

"Respons dari anak-anak juga bagus, mereka merasa dengan adanya MBG ini sangat bermanfaat, bisa membantu mereka, ya mungkin mengurangi uang jajan," katanya.

Ke depan, ia berharap pelaksanaan MBG terus berkembang, terutama dari sisi keberagaman menu. Menurutnya, variasi makanan dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa yang berada pada usia remaja, sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan beragam makanan bergizi.

"Untuk MBG ini adalah menu yang harus ditingkatkan dan variasi menunya juga harus banyak. Untuk ke depan, variasinya lebih banyak dan tidak terlalu sering berkutat menunya tentang ayam atau telur," ujarnya.

Sejumlah siswa mengambil lauk pauk secara prasmanan dalam Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 2 Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis, (8/10/2026). Foto: Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO

Ia juga berharap menu yang diberikan dapat membuat siswa semakin tertarik mengonsumsi makanan bergizi, termasuk sayuran yang selama ini belum menjadi pilihan favorit sebagian siswa.

"Karena ini sasarannya anak remaja, mungkin menunya harus disesuaikan dengan passion mereka. Anak zaman sekarang itu bisa dibilang agak jarang suka makan sayuran, jadi bisa dibiasakan makan sayuran," ucapnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri Kertasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Trinita Agustinasari, mengatakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu berdampak positif pada para siswa.

“Sejak digulirkannya program tersebut oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, MBG terus mendapat sambutan serta berdampak positif pada para siswa," kata Trinita.

Trinita menambahkan, dengan adanya program MBG siswa dapat memperoleh asupan makanan tanpa harus mengandalkan uang jajan. Trinita berharap program tersebut dapat terus dipertahankan, terutama dari sisi pemenuhan gizi, kualitas makanan, kebersihan, serta ketepatan waktu distribusi.

Siswa menyantap makanan saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Cirimekar 02, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (7/10/2026). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

"Memang masih terdapat sejumlah hal yang perlu ditingkat juga, supaya manfaat program MBG semakin dirasakan siswa, di antaranya variasi menu, kualitas makanan, porsi, hingga mekanisme distribusi di sekolah," ucapnya.

Orang Tua Lebih Tenang karena MBG

Kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu memberikan kepastian bagi orang tua bahwa anak-anak mereka mendapatkan makanan saat berada di sekolah. Meski sebagian siswa masih terbiasa membawa bekal dari rumah, program tersebut membuat orang tua tidak terlalu khawatir ketika anak tidak membawa makanan untuk dikonsumsi saat jam istirahat.

Zedin, salah satu orang tua siswa di Serang, Banten, mengatakan kehadiran MBG membuatnya merasa lebih tenang ketika anaknya berangkat sekolah tanpa membawa bekal. Ia tidak lagi terlalu khawatir anaknya tidak mendapatkan makanan saat jam makan siang.

"Kita bersyukur saja. Jadi enggak khawatir anak-anak enggak makan siang karena ada MBG," ujar Zedin.

Zedin, salah satu orang tua siswa di Serang, Banten. Dok. kumparan

Namun, ia mengakui masih ada hal yang menjadi perhatian orang tua, yakni kesesuaian menu MBG dengan selera anak. Dalam beberapa kesempatan, anaknya bercerita tidak menghabiskan makanan yang diberikan karena menu yang tersedia kurang sesuai dengan seleranya.

Karena itu, bekal dari rumah terkadang tetap menjadi pilihan bagi anak untuk berjaga-jaga apabila makanan MBG yang disediakan tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Zedin mengatakan, dari cerita anaknya, makanan MBG bisa dinikmati ketika menu yang disajikan sesuai selera. Sebaliknya, makanan terkadang tidak dikonsumsi ketika anak kurang menyukai menu tersebut. Meski begitu, keberadaan program tersebut tetap memberikan ketenangan karena anak memiliki alternatif makanan selama berada di sekolah.

"Ya, sebagai orang tua sebenarnya biasa saja, karena anak kebiasaannya masih suka bawa bekal dari rumah. Cuma ketika mereka enggak bawa bekal, kita enggak terlalu khawatir mereka enggak makan siang karena ada MBG itu,” katanya.

Bagi Zedin, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan MBG ke depan adalah keseimbangan antara pemenuhan gizi dan selera makan anak. Menurutnya, makanan yang diberikan tetap harus memperhatikan kandungan gizinya, tetapi juga perlu disesuaikan dengan selera anak-anak saat ini.

Ia berharap penyesuaian tersebut dapat membantu meningkatkan minat siswa untuk mengonsumsi makanan yang disediakan sehingga makanan tidak banyak tersisa.

Ilustrasi dapur MBG. Foto: Shutterstock

Program MBG Diminta Terus Disempurnakan

Ke depan, Zedin berharap pelaksanaan MBG terus disempurnakan agar tujuan program dapat dirasakan secara optimal oleh penerima manfaat. Ia menilai program pemerintah pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, sementara pelaksanaan di lapangan perlu terus diperbaiki berdasarkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat.

"Pada prinsipnya yang namanya program itu pasti baik tujuannya, semua program pemerintah itu tujuannya baik. Tinggal realisasi dan aplikasinya saja. Kalau sekarang dibilang agak terburu-buru, ya pelan-pelan diperbaiki. Kekurangannya sudah diketahui juga oleh pemerintah, mudah-mudahan itu segera diperbaiki," kata dia.

Cerita lain disampaikan Dinda Rendigariany, orang tua siswa di SMAN 1 Cianjur. Ia mengaku manfaat MBG tak hanya dirasakan siswa saja, melainkan juga orang tuanya.

“Selain membantu memenuhi kebutuhan makanan anak, program tersebut dinilai dapat mengurangi pengeluaran untuk uang jajan atau bekal selama anak berada di sekolah. Anak juga cukup antusias dengan makanan yang diberikan. Bahkan, anak kerap bercerita kepada orang tua mengenai menu MBG yang diterima di sekolah," kata Dinda.

Dinda mengaku program MBG juga cukup membantu anak mendapatkan makanan bergizi dan berkualitas selama berada di sekolah sekaligus meringankan beban orang tua dalam memenuhi kebutuhan makan anak.

"Karena, sebelum ada program ini, kebiasaan makan anak selama berada di sekolah lebih banyak bergantung pada bekal dari rumah atau uang jajan. Selama ini sih, masih cukup baik untuk program MBG ini," jelas Dinda.

Investasi Bangun Kualitas Generasi Indonesia

Pakar kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah. Foto: Dok. Pribadi

Berbagai pengalaman penerima manfaat menunjukkan bahwa kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berkaitan dengan makanan yang diterima siswa di sekolah. Program tersebut juga menjadi bagian dari kebiasaan makan, aktivitas belajar, hingga membantu meringankan pengeluaran keluarga.

Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah melihat manfaat tersebut dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya, MBG merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk membangun kualitas generasi Indonesia.

"Kalau MBG sebenarnya kan investasi peradaban, Mbak. Artinya, ini tidak hanya berlaku di Indonesia sebenarnya, di negara lain juga diterapkan: di India, di Brasil, termasuk di Jepang, di Amerika juga, di Eropa juga seperti itu," kata Trubus saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Menurut Trubus, program pemberian makanan bergizi merupakan bentuk intervensi negara sekaligus tanggung jawab pemerintah dalam mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi masa depan.

"MBG ini memang intervensi negara untuk memberi semacam tanggung jawab dalam hal masa depan bangsa dalam konteks gizi dan sebagainya," ujarnya.

Ia menilai pemenuhan gizi melalui MBG memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menyediakan makanan. Program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat dan memiliki daya saing.

"Artinya, di sini sebenarnya fungsinya lebih memberikan fungsi tanggung jawab negara dalam hal membentuk masyarakat yang di masa depan itu kompetitif sebagai bangsa," tutur Trubus.

Siswa SDN Jati Asih X menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jati Asih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/9/2026). Foto: Darryl Ramadhan/ANTARA FOTO

Menurutnya, keberadaan MBG juga penting bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, termasuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah serta penerima manfaat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"MBG ini sangat dibutuhkan untuk masyarakat Indonesia di desil 1 sampai desil 4 sebenarnya. Di satu sisi, memang ada masyarakat di kategori wilayah 3T. Jadi itu sangat membutuhkan terhadap MBG ini," katanya.

Trubus mengatakan pemenuhan makanan bergizi melalui program tersebut pada akhirnya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, mulai dari kesehatan hingga kesejahteraan dan kecerdasan.

"Memang dibutuhkan keberadaan MBG itu dalam konteks untuk meningkatkan derajat kesehatan, derajat kesejahteraan, dan kecerdasan, serta memberi pertolongan kepada masyarakat miskin atau penerima manfaat," ujarnya.

Sejumlah siswa membawa ompreng Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan disalurkan ke sekolah, di Sangkurio, Mamuju, Sulawesi Barat, Selasa (11/8/2026). Foto: Akbar Tado/ANTARA FOTO

Keberlanjutan MBG Sangat Penting

Menurut Trubus, keberlanjutan MBG menjadi penting agar manfaat yang telah dirasakan penerima dapat terus berkembang dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Ia juga menilai pengalaman penerima manfaat perlu menjadi bagian dari perjalanan program ke depan. Sebab, penerima manfaat merupakan pihak yang secara langsung merasakan manfaat kebijakan tersebut.

"Penerima manfaat ini kan katakanlah sebagai key informant, karena sesungguhnya merekalah yang menerima kemanfaatan kebijakan atau program," kata Trubus.

Menurut dia, suara penerima manfaat dapat menjadi masukan dalam pengembangan program sehingga pelaksanaan MBG semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

"Jadi dalam hal ini memang suara mereka harusnya diprioritaskan dan menjadi penentu arah keberlanjutan kebijakan ini yang akan datang," tuturnya.

Dengan demikian, harapan yang disampaikan para penerima manfaat—mulai dari keberagaman menu, kualitas makanan, hingga keberlanjutan program—dapat menjadi bagian dari perjalanan MBG untuk terus berkembang.

Bagi Trubus, ketika manfaat program dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan kebutuhan penerima manfaat terus menjadi perhatian, MBG memiliki peluang untuk memberikan dampak yang lebih luas dalam jangka panjang.

"Kalau kunci selain kualitas, menurut saya adalah partisipasi publik yang luas," kata dia.