Megawati: Kemajuan Iptek Jangan Jadi Alat Hegemoni Negara

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta dan Presiden RI ke-5 sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama sejumlah tamu undangan di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta dan Presiden RI ke-5 sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama sejumlah tamu undangan di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menilai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) seharusnya diarahkan untuk kepentingan manusia, bukan menjadi alat hegemoni suatu negara.

Hal itu disampaikan Megawati saat bertemu dengan 10 tokoh peraih Hadiah Nobel dan 4 tokoh peraih penghargaan Turing, termasuk Presiden Timor Leste José Ramos-Horta, di kantor Megawati Institute, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (28/8).

Dalam sambutannya, Megawati menekankan pentingnya mempertemukan kemajuan ilmu pengetahuan dengan tanggung jawab politik dan kemanusiaan.

Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta, Megawati Soekarnoputri, dan sejumlah peserta pertemuan berfoto bersama di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

“Apakah kita masih kekurangan pengetahuan dan teknologi? Menurut saya sebenarnya sudah begitu banyak segala pengetahuan,” kata Megawati yang mengantongi belasan gelar doktor dan profesor kehormatan dari berbagai kampus di dunia ini.

Menurutnya, tantangan saat ini bukan semata-mata soal keterbatasan pengetahuan dan teknologi, melainkan bagaimana kemajuan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

“Nah, makanya seperti tadi saya mengatakan mengenai AI, Artificial Intelligence, dan macam-macam yang sebetulnya harusnya dipergunakan untuk kepentingan manusia,” ujarnya.

Megawati kemudian mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan penguasaan data juga dapat digunakan sebagai instrumen kekuasaan antarnegara. Karena itu, dia meminta masyarakat bersikap kritis terhadap pemanfaatan teknologi.

“Kita harus bersikap kritis ketika teknologi dan data dijadikan alat hegemoni baru,” tutur Megawati.

Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta, Megawati Soekarnoputri, dan para peserta pertemuan berfoto bersama di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dia menilai kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu diimbangi dengan tanggung jawab kemanusiaan agar manfaatnya tidak hanya dinikmati kelompok atau negara tertentu.

“Kita juga harus memperkuat tanggung jawab kemanusiaan agar kemajuan teknologi termasuk AI juga berorientasi pada kesejahteraan antarbangsa,” pungkas Megawati.