Megawati: Kemajuan Iptek Jangan Jadi Alat Hegemoni Negara

Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menilai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) seharusnya diarahkan untuk kepentingan manusia, bukan menjadi alat hegemoni suatu negara.
Hal itu disampaikan Megawati saat bertemu dengan 10 tokoh peraih Hadiah Nobel dan 4 tokoh peraih penghargaan Turing, termasuk Presiden Timor Leste José Ramos-Horta, di kantor Megawati Institute, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (28/8).
Dalam sambutannya, Megawati menekankan pentingnya mempertemukan kemajuan ilmu pengetahuan dengan tanggung jawab politik dan kemanusiaan.
“Apakah kita masih kekurangan pengetahuan dan teknologi? Menurut saya sebenarnya sudah begitu banyak segala pengetahuan,” kata Megawati yang mengantongi belasan gelar doktor dan profesor kehormatan dari berbagai kampus di dunia ini.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan semata-mata soal keterbatasan pengetahuan dan teknologi, melainkan bagaimana kemajuan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
“Nah, makanya seperti tadi saya mengatakan mengenai AI, Artificial Intelligence, dan macam-macam yang sebetulnya harusnya dipergunakan untuk kepentingan manusia,” ujarnya.
Megawati kemudian mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan penguasaan data juga dapat digunakan sebagai instrumen kekuasaan antarnegara. Karena itu, dia meminta masyarakat bersikap kritis terhadap pemanfaatan teknologi.
“Kita harus bersikap kritis ketika teknologi dan data dijadikan alat hegemoni baru,” tutur Megawati.
Dia menilai kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu diimbangi dengan tanggung jawab kemanusiaan agar manfaatnya tidak hanya dinikmati kelompok atau negara tertentu.
“Kita juga harus memperkuat tanggung jawab kemanusiaan agar kemajuan teknologi termasuk AI juga berorientasi pada kesejahteraan antarbangsa,” pungkas Megawati.
