Melihat Populasi Orang Utan yang Kini di Ambang Kepunahan

Di Indonesia, orang utan semakin sulit bertahan hidup. Sampurna, salah satunya, mati usai berjuang melawan asap karhutla di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 4 September 2026. Hasil nekropsi menunjukkan ada kerusakan pada paru-paru, jantung, dan ginjal.
Sementara itu, di India, otoritas setempat menemukan lima bayi orang utan yang diduga hasil penyelundupan di sebuah kawasan hutan di Distrik Balasore, Odisha. Satwa yang hanya bisa ditemukan di Sumatera dan Kalimantan itu diduga diselundupkan dari Asia Tenggara oleh jaringan internasional.
Indonesia sendiri memiliki tiga spesies orang utan, yaitu:
Orang Utan Sumatra (Pongo abelii)
Hidup di Pulau Sumatera, memiliki bulu yang lebih cerah dan panjang, serta jantan dewasa mempunyai kantung pipi yang panjang.
Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus)
Menempati Pulau Kalimantan, berukuran paling besar di antara jenis lainnya, dan sering turun ke tanah.
Orang Utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)
Ditemukan di ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara. Merupakan spesies dengan populasi paling sedikit serta paling mengkhawatirkan saat ini.
Populasi Orang Utan di Indonesia
Pada 18 Juli 2026 lalu, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merilis hasil survei populasi terbaru untuk orang utan Sumatera (Pongo abelii) dan orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), dalam Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi orang utan Sumatera dan orang utan Tapanuli Secara Kolaboratif di Medan. Sayangnya, survei ini tidak menghitung populasi Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Berdasarkan survei periode 2021-2023, populasi orang utan Sumatera diperkirakan tinggal 11.694 individu. Sementara orang utan Tapanuli diperkirakan mencapai 716 individu.
Hasil survei ini disebut bakal menjadi dasar penyusunan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orang Utan Sumatera dan Tapanuli tahun 2026, sekaligus memperbarui Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) kedua spesies.
"Konservasi orang utan merupakan tanggung jawab bersama. Keberhasilannya hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, mitra konservasi, dunia usaha, dan masyarakat. Data ilmiah yang dihasilkan melalui survei ini menjadi landasan penting dalam menyusun kebijakan konservasi yang tepat sasaran," ujar Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dalam siaran pers dikutip kumparan, Jumat (11/9)
Berdasarkan catatan Forum Konservasi Orang Utan Indonesia (FORINA), PHVA teranyar ada di tahun 2016. Kala itu, populasi Orang Utan Sumatera masih ada di angka 14.470 individu. Artinya, angka 11.694 individu dalam survei terbaru menunjukkan populasi Orang Utan Sumatera menyusut sekitar 19 persen dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
Sementara itu, populasi orang utan Tapanuli dalam PHVA 2016 diperkirakan mencapai 800 individu. Angka tersebut jauh lebih banyak dibanding survei terbaru yakni 716 individu.
Adapun orang utan Kalimantan pada PHVA 2016 diperkirakan mencapai sekitar 57.350 individu. Berdasarkan catatan Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS), populasi orang utan Kalimantan pada 1973 diperkirakan masih mencapai 288.500 individu. Artinya, terdapat penurunan sebanyak 80 persen dalam 53 tahun terakhir.
Kehilangan Hutan
Peneliti IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Dr Dede Aulia Rahman menyebut kehilangan hutan menjadi faktor dominan di balik penurunan populasi orang utan. Menurutnya, ada penelitian yang menunjukkan sekitar 76 persen variasi perubahan populasi antar-metapopulasi dapat dijelaskan oleh hilangnya tutupan hutan.
Sepanjang 2011-2023, kata dia, sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orang utan hilang akibat ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, hingga perambahan ilegal.
Namun, lanjutnya, hilangnya habitat bukan satu-satunya ancaman. Konflik manusia-orang utan, perburuan, perdagangan ilegal, dan fragmentasi habitat saling memperkuat satu sama lain. Menurutnya, hutan yang menyusut mendorong orang utan masuk ke kebun dan permukiman warga, yang pada gilirannya memicu konflik, penangkapan, hingga pembunuhan seperti yang berulang kali terjadi di lapangan.
"Karena itu, menurut saya, tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat. Kehilangan habitat dan fragmentasi mendorong orang Uuan memasuki kebun dan permukiman, kemudian meningkatkan konflik, penangkapan, dan pembunuhan," kata Dede dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, dikutip Jumat (11/9).
Ditambah lagi, kata dia, orang utan punya laju reproduksi yang sangat lambat. Betina umumnya hanya melahirkan satu anak dengan jarak antarkelahiran sekitar tujuh hingga sembilan tahun. Kondisi ini membuat populasinya sulit pulih begitu ada kematian individu atau kehilangan habitat.
Satwa Dilindungi
Di Indonesia, orang utan dilindungi oleh No. 32 Tahun 2024, P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Orang utan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di daratan Asia. Kerabat terdekat lainnya berasal dari Afrika, yaitu simpanse, gorilla, dan bonobo.
Namun sebetulnya pada 1990, orang utan sudah lebih dulu ditetapkan sebagai satwa dilindungi lewat Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Bahkan, upaya perlindungannya sudah dimulai sejak zaman kolonial. Pada 1931, pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 233 yang melindungi orang utan.
Di tingkat global, orang utan termasuk dalam kategori Kritis (Critically Endangered) oleh IUCN karena populasinya di alam semakin berkurang, sebagai akibat dari perburuan, perdagangan, deforestasi dan konflik dengan manusia. Selain itu CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) memasukkan orang utan dalam Appendix I, yaitu dilarang untuk diperjualbelikan dalam bentuk apa pun.
Berdasarkan catatan Kemenhut, orang utan merupakan satwa endemik yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis. Sebagai keystone species, orang utan berperan dalam penyebaran biji yang mendukung regenerasi hutan serta menjaga keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, keberadaan orang utan menjadi salah satu indikator penting kesehatan ekosistem hutan Indonesia.
