Membaca Risiko Banjir Lebih Dekat Lewat SIDIK BANJIR: Inovasi Riset dari UM
Tulisan dari Mochamad Khoirul Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kita bertanya-tanya saat musim hujan tiba,
Mengapa ketika hujan deras mengguyur satu kota secara merata selama dua jam, ada satu ruas jalan atau komplek perumahan yang langsung tergenang setinggi lutut, sementara area lain yang hanya berjarak beberapa ratus meter di sebelahnya tetap kering dan aman?
Pertanyaan sederhana yang kerap muncul di obrolan warung kopi maupun grup percakapan warga itu sebenarnya menyentuh inti persoalan banjir di hampir seluruh kota-kota Indonesia. Banjir dan genangan bukan semata-mata urusan seberapa deras air yang jatuh dari langit. Begitu air hujan menyentuh permukaan bumi, nasibnya turut ditentukan oleh apa yang ada di darat, mulai dari kemiringan tanah, cekungan lembah, seberapa dekat lokasi tersebut dengan aliran sungai, hingga seberapa banyak tanah terbuka yang masih sanggup meresapkan air dibandingkan permukaan yang sudah tertutup beton dan aspal.
Artinya, dua tempat yang menerima curah hujan yang sama persis belum tentu memiliki tingkat bahaya dan kerentanan yang sama. Sehingga, cara kita membaca peta risiko banjir perlu ikut berbenah dan lebih mendalam.
Jebakan "Nilai Rata-Rata" dalam Membaca Risiko Wilayah
Selama ini, informasi mengenai kerawanan bencana sering kali kita jumpai dalam bentuk peta atau laporan berskala luas, misalnya per kabupaten atau per kecamatan. Satu kecamatan kerap diberi satu warna atau satu label yang seragam. Misalnya "risiko rendah", "risiko sedang", ataupun "risiko tinggi".
Sebagai gambaran umum tingkat daerah, cara tersebut tentu bermanfaat. Namun, jika digunakan untuk melihat persoalan secara lebih dekat, rata-rata satu kecamatan menyimpan celah yang cukup serius. Bayangkan sebuah kelas di sekolah yang nilai rata-rata suhu tubuh siswanya adalah 36,6 derajat Celsius. Secara rata-rata, kelas itu tampak sehat. Padahal, bisa jadi ada dua siswa di pojok kelas yang sedang demam tinggi, tetapi angkanya "tertutup" oleh puluhan siswa lain yang suhunya normal.
Hal serupa terjadi pada ruang wilayah kita. Satu kecamatan bisa saja mencakup perbukitan yang tinggi sekaligus permukiman padat di cekungan tepi sungai. Jika kecamatan tersebut secara rata-rata dilabeli "risiko sedang", misalnya, warga atau perencana dapat luput terhadap kantong-kantong sempit di bantaran sungai yang sebenarnya sangat rentan tergenang. Sebaliknya, jika seluruh kecamatan dipukul rata sebagai "zona rawan", padahal hanya sebagian titik cekungannya saja yang bermasalah, maka upaya penanganan di lapangan turut menjadi kurang terarah.
Inovasi Riset dari UM: Apa Itu SIDIK BANJIR?
Kegelisahan terhadap kesenjangan antara peta kerentanan wilayah dan kebutuhan membaca ruang secara lebih akurat, menjadi pijakan masalah yang kami diskusikan di Pusat Lingkungan, Mitigasi, dan Kebencanaan (PLMK), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Negeri Malang (UM).
Tim peneliti dari PLMK UM — yang terdiri atas Dr. Cahyo Aji Hapsoro, M.Si. (Departemen Fisika, FMIPA UM) selaku Ketua Peneliti, bersama dengan Mochamad Khoirul Rifai, M.Si. (Fisika), Dr. Adip Wahyudi, M.Pd. (Geografi), dan Muhammad Jauharul Fuady, M.T. (Teknik Informatika) — merancang sebuah prototipe sistem informasi spasial yang diberi nama SIDIK BANJIR (Spatial Information, Detection, and Inundation-risk Knowledge Platform).
Ide dasarnya dapat diibaratkan seperti menambahkan "lensa pembesar" pada peta wilayah kerentanan banjir. Dengan mengambil studi kasus di 38 kecamatan di kawasan Malang Raya (5 kecamatan di Kota Malang dan 33 kecamatan di Kabupaten Malang), kami mencoba memadukan rekaman data curah hujan satelit lintas dekade dengan informasi bentuk permukaan tanah (topografi), jarak terhadap aliran sungai, serta tutupan lahan ke dalam petak-petak analisis berukuran 30 × 30 meter (kira-kira seukuran dua kapling rumah atau sebidang lapangan bulu tangkis).
Alih-alih berhenti pada satu warna untuk satu kecamatan, pendekatan petak 30 × 30 meter ini dirancang untuk membantu empat fungsi skrining (penyaringan) awal:
Memotret Titik Prioritas di Dalam Wilayah. Membantu melihat bagian mana dari suatu kecamatan yang secara fisik lebih cekung, lebih dekat ke alur air, atau lebih padat bangunannya, sehingga diskusi penanganan tidak lagi tanpa arah dan meraba-raba.
Skrining Awal Lokasi Bangunan (Tapak). Memberi gambaran awal bagi warga atau perencana mengenai indikasi kerentanan suatu titik lahan, lengkap dengan pengingat teknis sederhana seperti perlunya peninggian lantai bangunan (freeboard) atau penyediaan sumur resapan air.
Penapisan Awal Kesesuaian Tata Ruang dan Sempadan Sungai. Membantu menandai secara cepat apakah suatu lokasi yang sedang ditinjau beririsan dengan koridor sempadan sungai atau kawasan resapan air menurut peta tata ruang, sehingga tahu kapan sebuah lokasi wajib diperiksa lebih ketat.
Membaca Kecenderungan Hujan Ekstrem Jangka Panjang. Mengolah catatan hujan satelit puluhan tahun untuk melihat pola hujan ekstrem berulang sebagai bahan pertimbangan awal dalam merencanakan kapasitas saluran air.
SIDIK BANJIR Bukan "Solusi Buta"
Dalam banyak kesempatan, satu hal yang paling sering kami tekankan kepada diri kami sendiri sekaligus kepada rekan sejawat adalah kerendahan hati ilmiah sebagai peneliti. Di era serba digital, selalu ada ruang godaan untuk menampilkan sebuah inovasi atau peta komputer yang seolah-olah mampu menjawab segala persoalan secara ajaib. Faktanya, menempatkan sistem pemetaan digital sebagai "solusi buta" justru berbahaya bagi masyarakat maupun pengambil kebijakan.
Oleh karena itu, ada tiga batasan mendasar yang sejak awal kami paparkan secara transparan guna mendorong inerpretasi hasil yang lebih valid dan berintegritas:
(1) Petak 30 × 30 Meter di Layar Tidak Bisa Melihat Sampah di Selokan
Meskipun peta di layar telah ditingkatkan ke dalam resolusi 30 × 30 meter menggunakan beragam data pendukung, data curah hujan satelit yang menjadi salah satu bahan bakunya memiliki resolusi asli yang bersifat makro (satu petak data hujan satelit mewakili area sekitar 5 kilometer).
Lebih dari itu, model machine learning yang bekerja menggunakan data sekunder dapat memberikan keputusan atau hasil yang tidak sepenuhnya akurat. Model mesin tidak bisa melihat apakah gorong-gorong di depan gang sedang tersumbat tumpukan sampah, apakah ada saluran drainase lokal yang menyempit, apakah warga baru saja membangun tanggul swadaya, atau apakah minggu lalu baru berdiri tembok bangunan baru yang mengubah belokan air. Oleh karena itu, peta ini memotret kecenderungan sifat ruang, bukan potret fisik selokan yang up-to-date pada saat itu juga.
(2) Sekadar "Lampu Kuning" Skrining, Bukan Vonis Izin atau Hitungan Asuransi Otomatis
Platform SIDIK BANJIR menyediakan fitur untuk mengecek indikasi kesesuaian tata ruang (seperti kedekatan dengan sempadan sungai) maupun gambaran awal risiko pada bangunan. Namun, keluaran tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai keputusan hukum otomatis untuk menolak atau meloloskan izin bangunan dan bukan pula tarif premi asuransi resmi.
Aturan garis sempadan sungai di dunia nyata jauh lebih kompleks dan sangat bergantung pada kondisi fisik sungai tersebut. Seperti, apakah bertanggul atau tidak, seberapa dalam palung sungainya, dan bagaimana aturan daerah setempat mengaturnya. Demikian pula dengan perizinan bangunan yang wajib melalui pengukuran fisik oleh petugas dinas berwenang.
Sehingga, jika SIDIK BANJIR memunculkan tanda peringatan pada suatu titik, tanda itu berfungsi ibarat "lampu kuning". Sebuah pengingat bahwa titik tersebut perlu diprioritaskan untuk dicek langsung ke lapangan, bukan vonis mati di atas meja.
(3) Bukan Peramal Banjir Harian (Real-Time)
Platform SIDIK BANJIR bukanlah alat peramal cuaca atau sistem peringatan dini (early warning system) yang bisa memberi tahu bahwa "besok sore pukul empat akan terjadi banjir di jalan A". Sistem ini dirancang dan dibangun sebagai pijakan untuk dapat membaca pola kerentanan ruang jangka panjang, khususnya terhadap genangan akibat luapan sungai dan limpasan hujan perkotaan.
Menempatkan Teknologi secara Proporsional
Sebagai penutup, menyusun SIDIK BANJIR memberi kami pelajaran berharga bahwa teknologi pemetaan spasial, sebaik apa pun, pada prinsipnya hanyalah alat bantu berpikir, bukan pengganti manusia dan bukan pula pengganti kerja lapangan.
Proses pemetaan yang lebih rinci membantu kita agar tidak lagi melihat wilayah secara kabur. Teknologi yang membantu warga menjadi lebih sadar akan karakter lingkungan tempat tinggalnya, dan membantu perencana memiliki daftar prioritas yang lebih masuk akal mengenai lokasi mana yang harus menjadi prioritas lebih utama bagi pemangku kebijakan.
Lebih dari itu, langkah terpenting tetap berada di dunia nyata tempat kita bersosial dan bercengkerama dengan memeriksa kondisi saluran air di lingkungan kita, menjaga kawasan resapan agar tidak habis tertutup beton, menghormati ruang sempadan sungai, hingga memverifikasi setiap kebijakan langsung di lapangan, bukan sekadar dari meja lembar peraturan.
Melalui tulisan sederhana ini, kami ingin membagikan gagasan SIDIK BANJIR kepada pembaca luas bukan sebagai produk yang sudah sempurna, melainkan sebagai bahan diskusi bersama, bahwa memahami risiko bencana selalu dimulai dari kemauan untuk melihat ruang hidup kita secara lebih dekat sebagai manusia.

