Konten dari Pengguna

Memupuk Asa di Tengah Ekonomi yang Pelik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Erza Aimar Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pasar. Foto: Prabu Panji/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasar. Foto: Prabu Panji/Unsplash

Setiap terdapat pengumuman program-program baru pemerintah, seperti upaya perbaikan sekolah yang rusak saat pidato RAPBN 2027 hingga pembangunan tiga juta rumah, kerap mengundang skeptisisme dari masyarakat di kanal-kanal media sosial.

Setelah pidato tersebut usai hingga seminggu setelahnya, indeks IHSG dan nilai rupiah menguat, tetapi tidak ada euforia yang disambut oleh pelaku pasar, bahkan beberapa pelaku ritel malah menaruh kecurigaan terhadap fenomena ini.

Pertanyaannya, mengapa tren hilangnya kepercayaan tersebut bisa muncul di tengah masyarakat?

Padahal, situasi ekonomi yang sedang sulit memang sedang dirasakan oleh seluruh dunia, karena isu tarif, harga minyak, hingga berbagai perang yang terjadi. Juru bicara pemerintah seperti tidak bosan-bosannya mengingatkan hal ini meski ditanggapi dingin oleh sentimen publik.

Untuk melihat alasannya, mari kita kilas balik ke Tiongkok di akhir dekade 1990-an.

Saat itu, situasi ekonomi bagi warga biasa di negara tersebut terasa sangat sulit. Reformasi dan pembukaan ekonomi besar-besaran dilakukan untuk mempersiapkan masuknya negara itu ke WTO.

Banyak BUMN ditutup dan pemecatan massal terjadi terhadap belasan juta pegawainya. Arsitek dari upaya ini adalah Zhu Rongji, perdana menteri (premier) RRT periode 1998-2003.

Namun, di tengah biaya sosial yang begitu besar, masih terdapat keyakinan bahwa pengorbanan tersebut membawa Tiongkok menuju sesuatu yang lebih besar. Ucapannya yang blak-blakan dan tegas terhadap koruptor senada dengan gaya kepemimpinan Susi Pudjiastuti ketika menjadi Menteri KKP di Indonesia.

Tidak hanya pembawaannya yang mudah disukai publik, kompetensi Zhu dalam mengawal kebangkitan ekonomi Tiongkok di era globalisasi dimulai sejak 1993 melalui jabatannya sebagai wakil perdana menteri dan gubernur bank sentral. Zhu merombak BUMN, memodernisasi sistem finansial serta perpajakan, dan melawan praktik mark-up kontrak di pemerintahannya.

Zhu dengan gayanya yang unik dan kepercayaan diri yang tinggi, kerap memberi contoh melalui kehidupan pribadinya yang bersih sehingga berhasil menawarkan visi masa depan sebuah negara yang besar bagi warganya.

Asa ini tidak sia-sia, masuknya Tiongkok ke WTO membuat ekonomi dan tingkat perdagangan negara ini melaju pesat sehingga memiliki ukuran ekonomi nomor dua terbesar di dunia.

Pada 12 Agustus 2026, pemimpin teladan bagi ratusan juta warga Tiongkok tersebut, baik dari kelas pekerja maupun para intelektual, telah wafat dan terus dirindukan oleh warganya.

Hal yang menarik terjadi dari munculnya kontroversi atas kerinduan tersebut, yang ditunjukkan dengan sempurna melalui sebuah tulisan esai obituari dari seorang ekonom Tiongkok, yaitu Zhao Jian, yang merasa nostalgia akan zaman yang “penuh dengan kesempatan” itu, walau kualitas hidup saat ini sudah jauh lebih maju.

“Langit berwarna biru, hidup berjalan dengan perlahan, dan orang-orang bisa mengatakan apa yang benar-benar mereka pikirkan. Kami hidup miskin pada masa itu….

.…Daging jarang sekali tersaji di meja makan, dan lemari pakaian hanya berisi beberapa helai pakaian yang dikenakan berulang-ulang. Namun, anehnya, orang-orang tidak merasa bahwa hidup mereka begitu berat. Atau lebih tepatnya, hidup memang sulit, tetapi kesulitan itu dijalani dengan harapan….

….Ada cahaya di mata orang-orang dan rasa bahwa mereka berdiri di atas pijakan yang kokoh. Mereka bisa melihat seperti apa hari esok….

…..Lalu sekarang? Kita hidup dalam kelimpahan materi, memiliki begitu banyak pilihan, melihat langit yang dipenuhi gedung-gedung tinggi dan jalanan yang sesak oleh lalu lintas. Buka ponsel, dan hidangan dari seluruh penjuru dunia tersedia untuk dipesan….

Lalu, mengapa kita justru merasa begitu hampa di dalam diri?”

Zhao mengimplikasikan bahwa ini terjadi karena situasi sosial Tiongkok yang sekarang lebih ketat, sesak, dan tidak seterbuka dulu. Sehari setelahnya, esai tersebut sudah dihilangkan dari WeChat, tempat Zhao menaruh tulisannya.

Selanjutnya, mesin partai dan aparat berwajib bahkan memperingatkan agar peringatan belasungkawa oleh warga di penjuru Tiongkok tidak terlalu dilebih-lebihkan. Meskipun sudah tiada, warisan dari seorang pemimpin yang hebat bahkan terus membayangi pemerintahan yang bertahta saat ini.

Indonesia dapat belajar dari masa tersebut bahwa cita-cita, visi, atau aspirasi bangsa adalah sebuah proses yang holistik. Suatu kebijakan teknokratis dan upaya memperoleh kepercayaan pasar tidak dapat dipisahkan dari persepsi masyarakat terhadap pemimpinnya.

Saat hasil survei dan data ekonomi masih menunjukkan angka yang bagus, tetapi masyarakat tidak merasakannya, optimisme tidak akan langsung muncul.

Pengalaman Zhu memperlihatkan bahwa reformasi ekonomi yang berat akan tetap diterima jika masyarakat merasa masa depannya jelas dan melihat arah kepemimpinan yang meyakinkan.

Oleh karena itu, pemerintah perlu berani menjelaskan apa adanya, menetapkan tujuan yang dapat dipahami, menunjukkan pengorbanan yang harus ditanggung bersama, dan membuktikan secara konsisten bahwa janji hari ini menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan besok.

Pada akhirnya, tidak ada yang lebih kuat daripada kepercayaan bahwa hari esok dapat diprediksi, direncanakan, dan pada akhirnya menjadi lebih baik daripada hari ini.