Menbud: Pemugaran Yasti Borobudur Ditargetkan Rampung 24 Oktober, Tak Pakai APBN

Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, didanai melalui donasi umat Buddha dan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pekerjaan ini dilakukan setelah ditemukan pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan di bagian puncak candi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, pendanaan pemugaran berasal dari partisipasi publik. Hal itu ia sampaikan dalam Taklimat Media Pemugaran Stupa Borobudur dan Peresmian Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (13/10).
“Donaturnya dari umat Buddha. Seperti yang saya bilang, bukan dari APBN, kita kan membuka skema ini, partisipasi publik,” kata Fadli.
Menurut Fadli, kerusakan Yasti teridentifikasi melalui pemantauan dan kajian teknis pada 2026. Pemugaran dilakukan untuk memulihkan kestabilan struktur, terutama karena Yasti berada di bagian tertinggi candi dan berisiko terdampak gempa bumi.
“Ada pula risiko abu vulkanik dan pergeseran lainnya yang bisa mengakibatkan kerusakan, bahkan berpotensi menimbulkan korban, misalnya pengunjung yang berada di sekitar lokasi. Apalagi, Yasti berada di posisi puncak,” terang Fadli.
Fadli menjelaskan, pemugaran menggunakan material asli yang sudah ada. Setiap batu yang ditangani didokumentasikan dan diberi nomor agar dapat dikembalikan ke posisi semula.
“Sejauh ini, tidak ada material baru yang digunakan dan tidak ada pembongkaran secara menyeluruh,” ujarnya.
Perbaikan hanya difokuskan pada bagian Yasti yang membutuhkan penanganan, sedangkan bagian lainnya menjalani konservasi.
Menurut Fadli, pekerjaan ini penting karena bagian Mahastupa belum pernah diperbaiki sejak pemugaran yang dilakukan arsitek Belanda, Theodoor van Erp, pada 1907-1911.
Pemugaran Ditargetkan Rampung 24 Oktober
Fadli menargetkan pemugaran Yasti berlangsung sekitar satu bulan. Setelah pekerjaan selesai, perancah atau scaffolding yang terpasang di bagian puncak akan dilepas.
“Untuk Yastinya berjalan kurang lebih kita targetkan karena itu tadi, kita berharap ini juga tidak mengganggu kunjungan, itu kita lakukan dalam waktu targetnya sebulan lah. Sebulan habis itu kita copot lagi,” tuturnya.
Selama pengerjaan, pengunjung reguler dan peserta program ziarah atau pilgrim masih dapat naik hingga tingkat delapan. Sementara itu, pengunjung program matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) tetap dapat mengakses hingga lantai sembilan.
Adapun pelataran utara ditutup sementara karena termasuk zona kerja pemugaran.
Fadli menargetkan pemugaran Yasti dan konservasi Mahastupa rampung pada 24 Oktober 2026. Setelah pekerjaan selesai, area tersebut akan dibuka kembali untuk wisatawan.
“Setelah itu, area akan dibuka kembali bagi wisatawan,” ucapnya.
Perubahan Iklim Jadi Tantangan Pelestarian
Selain pemugaran Yasti, Fadli menyoroti perubahan iklim sebagai tantangan dalam menjaga kelestarian Candi Borobudur. Paparan hujan dan panas, polusi kimia, serta pertumbuhan lumut dapat mempercepat pelapukan batu dan mengikis detail relief candi.
“Kita bisa melihat perbedaan kondisi relief Candi Borobudur melalui foto-foto yang diambil pada 1907 dan 1911 dibandingkan dengan kondisi sekarang. Perbedaannya sangat jauh,” beber Fadli.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah akan mendiskusikan upaya pelestarian relief bersama para ahli dari berbagai bidang, termasuk arkeologi, arsitektur, dan kimia.
Salah satu teknologi yang sedang diuji adalah water repellent, yakni bahan yang membantu mencegah air terserap ke dalam pori-pori batu.
“Jadi kita akan coba, dan kita masih uji coba juga terus, termasuk misalnya terhadap kayu gitu, ada sekarang itu semacam pernisnya itu supaya anti api gitu ya,” papar Fadli.
Fadli juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada pengunjung untuk mencegah kerusakan akibat aktivitas manusia, seperti menyentuh relief atau menumpahkan cairan pada struktur candi.
“Kalau manusia ya, misalnya vandalisme, kita bisa edukasi para pengunjung. Memang kita harapkan para pengunjung itu tidak megang-megang atau tidak menumpahkan cairan,” jelasnya.
Pemasangan Catra Masih Dikaji
Di sisi lain, pemerintah berencana memasang Catra di puncak Candi Borobudur sebagai bagian dari upaya menjadikan situs tersebut sebagai living heritage atau warisan budaya yang tetap digunakan untuk kegiatan keagamaan.
Fadli mengatakan, rencana pemasangan Catra masih dikomunikasikan dengan UNESCO. Pemasangannya direncanakan menggunakan model adaptasi agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kajian Heritage Impact Assessment atau HIA juga masih dalam proses. Kita terus mengomunikasikan rencana ini dengan UNESCO dan akan melihat perkembangan selanjutnya,” kata Fadli.
Fadli menegaskan, rencana pemasangan Catra tidak berkaitan dengan pemugaran Yasti Mahastupa yang sedang berlangsung.
“Perlu ditegaskan bahwa pekerjaan perbaikan Yasti saat ini tidak berkaitan dengan rencana pemasangan Catra. Perbaikan dilakukan untuk menindaklanjuti temuan kerusakan di lapangan,” tegas Fadli.
