Konten dari Pengguna

Mencari Makna: Catatan Pinggir Mahasiswa Bisnis Berjiwa Ilmu Sosial & Humaniora

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hazel Venansius Kemal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perjalanan seorang diri. Foto: Pexels/Ahmet Enes Tek
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perjalanan seorang diri. Foto: Pexels/Ahmet Enes Tek

Di layar laptop, terpampang draf proposal bisnis dan di meja pribadi saya bertumpukan buku akuntansi yang kertasnya lepas semua dari bukunya. Namun, di dalam kepala saya, yang berputar justru pemikiran eksistensialisme tentang absurditas, kebebasan, dan tanggung jawab manusia atas pilihannya sendiri. Rasanya seperti hidup di dua dunia yang saling bertolak belakang.

Semester ini, saya banyak belajar pemasaran dan strategi bisnis digital. Teorinya sebenarnya cukup menarik jika didekati sebagai ilmu murni. Namun, ujian sesungguhnya datang dari mata kuliah Kewirausahaan yang menuntut kami berhenti sekadar berteori dan mulai mempraktikkan ide bisnis tersebut secara nyata. Niatnya mulia: agar kelak kami lulus tidak sekadar menjadi barisan pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Saya paham betul logika pragmatis di balik tugas tersebut.

Namun sejujurnya, setiap kali menyusun tugas semacam itu, saya merasa sedang memakai baju yang salah ukuran. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Pikiran saya lebih suka mengembara ke ruang-ruang, seperti kelas filsafat yang membedah pemikiran Jean-Paul Sartre atau Albert Camus, forum debat kebijakan publik yang panas, atau diskusi yang mengulik kerumitan kognisi manusia.

Ironisnya, saya justru merenungkan tema kebebasan memilih dari filsafat eksistensialisme persis di tengah situasi di mana saya merasa paling tidak berdaya. Saat ini, saya berada di penghujung semester dua Manajemen Bisnis—sebuah jurusan yang tak pernah ada dalam daftar impian saya, dan merupakan produk dari dua kali banting setir yang penuh keterpaksaan.

Dua Kali Banting Setir yang Tak Disengaja

Bagaimana saya bisa sampai terdampar di titik ini? Jika ditarik garis lurus, ceritanya berawal dari rasa mengalah yang perlahan menjadi kebiasaan.

Sejak SMA, kompas ketertarikan saya menunjuk jelas ke arah ilmu sosial dan humaniora. Filsafat, Ilmu Pemerintahan, Psikologi atau Hukum Tata Negara selalu memanggil-manggil. Dari semua opsi yang ada, Psikologi adalah pilihan paling rasional, titik temu antara minat mendalam saya pada manusia dan prospek yang masih bisa diterima akal sehat. Saya bahkan sudah sempat menghubungi bagian penerimaan mahasiswa baru di salah satu kampus favorit saya. Namun, kemudi itu tiba-tiba diambil alih oleh orang tua sebelum saya benar-benar melangkah.

Saya kemudian mengambil gap year. Niat awalnya, masa jeda ini akan menjadi ruang merdeka untuk memvalidasi minat dan menyiapkan amunisi agar bisa masuk ke jurusan impian. Nyatanya, waktu satu tahun itu perlahan berubah menjadi ruang negosiasi yang menguras emosi. Pada 2024, saya akhirnya berkompromi dan masuk ke S1 Sistem Informasi. Pikir saya waktu itu, ini adalah jalan tengah yang prospektif di era digital. Saya memaksa diri berhadapan dengan algoritma dan sistem yang terasa kering. Sayangnya, kompromi itu tidak bertahan lama. Saya tidak sanggup membohongi diri sendiri, lalu memutuskan keluar.

Pada 2025, saya kembali dihadapkan pada persimpangan, dan kali ini saya didorong masuk ke Manajemen Bisnis. Keputusan ini murni datang dari orang tua. Dua belokan tajam ini bermuara pada satu ketakutan fundamental: realitas dunia kerja. Orang tua saya, seperti kebanyakan orang tua lainnya, dikuasai ketakutan bahwa jurusan humaniora tidak akan mampu menghidupi saya, dan jalur kariernya dianggap terlalu sempit—hanya berkutat di akademisi, aparatur negara, atau peneliti.

Ilusi "Jurusan Aman" dan Realitas Angka

Ketakutan orang tua itu sangat bisa dipahami. Mereka memegang teguh keyakinan bahwa bisnis adalah roda penggerak dunia, setiap perusahaan pasti butuh manajer atau ahli pemasaran. Namun, apakah benar jurusan bisnis dan teknologi otomatis menjamin masa depan yang lebih aman, sementara anak humaniora pasti berakhir menganggur? Mari kita benturkan persepsi ini dengan realitas data.

Dalam rilis resmi ketenagakerjaan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebuah anomali yang mematahkan mitos tersebut:

"Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional per Februari 2026 berada di angka 4,68 persen. Namun, TPT untuk lulusan Diploma IV, Sarjana, Magister, dan Doktor justru lebih tinggi, yakni mencapai 6,13 persen." — (Rilis BPS, 5 Mei 2026)

Tabel Tingkat Pengangguran Terbuka, Februari 2024-Februari 2026. Sumber: www.bps.go.id

Data ini menjadi pengingat yang cukup menampar. Angka pengangguran untuk kaum terdidik cukup tinggi secara nasional. Ini membuktikan bahwa ijazah sarjana dari jurusan apa pun—termasuk bisnis yang dianggap paling berorientasi masa depan—tidak membuat seseorang kebal dari risiko menganggur. Klaim bahwa jurusan tertentu lebih mudah mendapat kerja sering kali hanyalah ilusi yang dibangun oleh persepsi sosial, bukan jaminan mutlak. Gelar sarjana kini hanyalah selembar tiket masuk, bukan kepastian kursi di panggung dunia kerja.

Bertahan di Tengah "What Ifs" dan Kekakuan Praktik Akuntansi

Lalu, bagaimana rasanya menjalani rutinitas harian dengan bayang-bayang data tersebut dan mimpi yang belum tuntas? Jujur saja, saya belum sepenuhnya berdamai. Pertanyaan "Bagaimana kalau dulu saya benar-benar jadi mahasiswa Psikologi ?" masih sering mampir menghantui.

Keengganan dan penolakan batin ini mencapai puncaknya ketika saya harus berhadapan dengan mata kuliah praktik akuntansi. Berurusan dengan laporan keuangan dan pencatatan transaksi terasa seperti siksaan tersendiri yang amat saya benci. Akuntansi menuntut kepatuhan mutlak pada aturan baku dan angka-angka yang kaku, di mana sedikit saja ketidaksesuaian bisa berarti kesalahan fatal yang merusak seluruh hasil akhir.

Rutinitas mekanis dan matematis ini sangat menyesakkan bagi saya yang mendambakan ruang dialektika yang lentur, pemikiran kritis yang tak terbatas, dan analisis abu-abu khas ilmu sosial. Ketika saya dipaksa memutar otak hanya untuk mencari letak selisih angka agar semuanya seimbang dan hitungannya balance, pikiran saya justru memberontak, berkelana mencari makna keseimbangan eksistensial.

Namun, di tengah segala penolakan batin ini, saya mengikatkan diri pada target yang tidak bisa ditawar: saya harus lulus tepat waktu 4 tahun atau secepat mungkin yaitu 3,5 tahun.

Sikap pragmatis ini muncul bukan dari ruang hampa. Saya menghitung waktu dan energi yang sudah terbuang. Mengulang dari nol untuk ketiga kalinya tidak hanya akan menambah kerugian finansial keluarga, tetapi juga menghancurkan mental saya sendiri. Dan pilihan target lulus secepat mungkin 3,5 tahun itu menjadi semacam pelampung penyelamat, sebuah komitmen rasional bahwa fase ketidaknyamanan ini ada batas waktunya, dan saya harus menyelesaikannya secepat mungkin.

Dikotomi Kendali: Menemukan Ruang Merdeka

Untuk menjaga kewarasan di tengah keterpaksaan ini, saya menemukan sandaran pada buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Konsep utama dari filsafat Stoa yang menampar sekaligus menenangkan saya adalah Dikotomi Kendali.

"Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita... Jika kamu memusatkan perhatian hanya pada apa yang menjadi urusanmu, tidak akan ada orang yang bisa memaksamu, tidak akan ada yang bisa menghalangimu." — (Epictetus dalam Enchiridion, dikutip dalam Filosofi Teras)

Kerangka berpikir ini mengubah cara pandang saya secara radikal. Saya tidak bisa memutar waktu ke masa gap year, dan saya tidak bisa mengubah ketakutan orang tua saya. Mengutuki kenyataan hanya akan membuat saya semakin lelah tanpa hasil. Tetapi, saya memegang kendali penuh atas sikap, usaha, dan cara saya merespons situasi di kelas setiap harinya.

Menariknya, semenjak saya untuk mencoba membuka diri, saya menyadari bahwa ilmu manajemen tidak melulu sekaku tabel akuntansi. Mata kuliah Perilaku Keorganisasian yang akan diajarkan di semester atas, misalnya, pada dasarnya adalah psikologi terapan yang membahas dinamika kognisi manusia dalam kelompok. Selain itu, ada pula Etika Bisnis Digital yang membuka ruang diskusi tentang relasi kuasa. Jika didekati dengan kacamata kritis ala humaniora, sisi lain dari ilmu bisnis yang tadinya terasa seperti penjara ini perlahan berubah menjadi jembatan yang menghubungkan saya kembali dengan minat asli saya.

Menjaga Api Kecil di Tengah Keterpaksaan

Saya menulis ini bukan untuk membuktikan bahwa saya sudah kuat, heroik, dan baik-baik saja. Tulisan ini saya buat sebagai bentuk refleksi pribadi, dan mungkin sebagai surat terbuka bagi teman-teman yang sedang merasakan kelelahan serupa. Saya tahu, di luar sana banyak dari kita yang terpaksa melipat rapat-rapat peta jalan impian demi mengikuti rute "aman" yang digambar oleh orang tua atau tuntutan sosial.

Saya menyadari, adalah hal yang sangat wajar jika sampai hari ini saya belum bisa menerima keadaan sepenuhnya. Wajar pula jika motivasi belajar masih sering pasang surut. Kita tidak dituntut untuk tiba-tiba mencintai hal yang dipaksakan kepada kita.

Namun, tekad saya sudah bulat untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Sembari berjalan menuju garis akhir, saya—dan semoga kita semua yang bernasib sama—memilih untuk terus menjaga api ketertarikan itu tetap menyala. Kita bisa merawatnya lewat langkah-langkah yang sepenuhnya ada dalam kendali kita sendiri.

Entah itu dengan membaca satu bab buku filsafat dengan pelan-pelan sebelum tidur, mendengarkan podcast debat kebijakan publik di sela-sela perjalanan kampus, atau menelusuri jurnal psikologi perilaku ketika sedang jenuh mencari di mana letak selisih laporan keuangan. Hal-hal kecil ini mungkin tidak akan pernah menggantikan gelar impian yang terlepas dari genggaman, tetapi setidaknya, hal-hal kecil inilah yang memastikan kita tidak pernah benar-benar kehilangan diri kita sendiri.