Konten dari Pengguna

Mendidik Anak dalam Gelembung Algoritma

Foto: Ilustrasi Anak dalam memicu Algoritma (Diolah Oleh Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Anak dalam memicu Algoritma (Diolah Oleh Penulis)

Ada keinginan yang sangat manusiawi dalam diri setiap orang tua dan pendidik: menjaga anak-anak dari dunia yang buruk.

Kita tidak ingin mereka terlalu cepat mengenal kekerasan. Kita khawatir ketika mereka membaca ujaran kebencian, menyaksikan pertengkaran politik, menemukan pornografi, atau terpapar berbagai berita tentang perang, kejahatan, perundungan, dan sisi gelap kehidupan manusia. Karena itu, naluri pertama kita adalah menjauhkan mereka.

Tetapi persoalan pendidikan hari ini menjadi lebih rumit.

Anak-anak tidak lagi tumbuh hanya di rumah, sekolah, dan lingkungan tempat tinggalnya. Mereka juga tumbuh di sebuah ruang keempat: ruang algoritma.

Di sana, dunia yang mereka lihat tidak sepenuhnya mereka pilih.

Apa yang muncul di layar ditentukan oleh jejak-jejak kecil yang mereka tinggalkan: apa yang ditonton, berapa lama berhenti pada sebuah video, apa yang disukai, dibagikan, dicari, bahkan apa yang beberapa kali mereka abaikan.

Pelan-pelan algoritma mengenali mereka.

Lalu algoritma memberikan lebih banyak hal yang dianggap akan membuat mereka tetap berada di layar.

Pada titik itulah sebuah ironi terjadi. Kita memasuki internet untuk melihat dunia yang luas, tetapi algoritma justru dapat mempersempit dunia yang kita lihat.

Dunia yang Dibuat Khusus untuk Kita

Eli Pariser pada 2011 mempopulerkan istilah filter bubble. Ia menggambarkan bagaimana personalisasi internet dapat membuat seseorang hidup dalam semacam gelembung informasi: apa yang kita lihat semakin disesuaikan dengan jejak digital, minat, dan kecenderungan kita.

Konsep ini perlu dibaca secara hati-hati. Tidak semua orang otomatis terkurung dalam gelembung yang rapat, dan algoritma bukan satu-satunya penyebab polarisasi. Pilihan manusia, lingkungan sosial, identitas kelompok, dan kebiasaan mengonsumsi informasi juga berperan.

Namun pertanyaan yang diajukan Pariser tetap relevan: siapa yang menentukan jendela tempat kita melihat dunia?

Dua orang yang tinggal di kota yang sama, bahkan mungkin berada dalam satu rumah, dapat membuka telepon genggam dan menemukan dua gambaran dunia yang berbeda.

Yang satu melihat prestasi, peluang, dan optimisme. Yang lain terus-menerus berjumpa dengan kemarahan, konflik, kriminalitas, dan kecurigaan.

Keduanya merasa sedang melihat kenyataan.

Padahal keduanya mungkin hanya melihat bagian tertentu dari kenyataan yang terus diperkuat.

Inilah persoalan pendidikan yang jarang kita bicarakan.

Selama ini sekolah mengajarkan anak membaca teks. Sekarang kita perlu mengajarkan anak membaca mengapa teks tertentu yang datang kepadanya.

Ketika Perhatian Menjadi Komoditas

Jauh sebelum TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi bagian dari keseharian anak-anak, Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death (1985) telah memberikan sebuah peringatan penting: medium komunikasi bukan sekadar saluran netral. Bentuk media ikut menentukan bagaimana sebuah masyarakat berbicara, memahami sesuatu, bahkan menentukan apa yang dianggap penting.

Masalah kita hari ini bahkan lebih rumit.

Informasi tidak hanya bersaing untuk menjadi benar. Informasi juga bersaing untuk mendapatkan perhatian.

Dan perhatian manusia terbatas.

Di dalam ekonomi digital, kemarahan, ketakutan, keterkejutan, dan kontroversi mempunyai nilai karena semua itu dapat membuat seseorang berhenti menggulir layar.

Akibatnya, sesuatu yang penting belum tentu menjadi sesuatu yang terlihat. Sebaliknya, sesuatu yang terlihat belum tentu penting.

Anak-anak kita tumbuh di dalam arsitektur informasi semacam ini.

Maka persoalan pendidikan bukan hanya screen time. Jauh lebih penting adalah apa yang terjadi pada pikiran selama screen time itu berlangsung.

Haruskah Anak Dijauhkan dari Berita Buruk?

Di sinilah muncul dilema.

Apakah cara terbaik mendidik anak adalah menjauhkan mereka dari segala berita buruk?

Untuk usia tertentu, perlindungan tentu diperlukan. Anak tidak harus mengetahui seluruh kekejaman dunia sebelum memiliki kematangan emosional untuk memahaminya.

Namun perlindungan berbeda dengan pengasingan.

Jika pendidikan menciptakan dunia yang terlalu steril, kita mungkin menghasilkan anak-anak yang merasa aman selama berada dalam lingkungan yang dikendalikan orang dewasa, tetapi kehilangan daya navigasi ketika suatu hari berhadapan dengan kenyataan.

Dunia tidak seluruhnya baik.

Ada perang dan perdamaian. Ada kejujuran dan manipulasi. Ada solidaritas dan kebencian. Ada ilmu pengetahuan dan disinformasi.

Pendidikan bukanlah seni menyembunyikan seluruh kenyataan tersebut.

Pendidikan adalah proses mempersiapkan manusia agar mampu menghadapinya tanpa kehilangan akal sehat dan kemanusiaannya.

Karena itu, daripada hanya mengatakan, “Jangan baca berita itu”, pendidikan dapat bergerak kepada pertanyaan yang lebih penting: siapa yang membuat berita ini? Dari mana datanya? Apa buktinya? Apakah sumber lain mengatakan hal yang sama? Bagian apa yang mungkin tidak diceritakan?

Dan satu pertanyaan baru perlu ditambahkan:

Mengapa informasi seperti ini terus muncul di layar saya?

Mengajarkan Kewaspadaan Epistemik

Dalam psikologi kognitif, Dan Sperber dan koleganya (2010) menggunakan konsep epistemic vigilance—kewaspadaan epistemik.

Manusia adalah makhluk sosial. Sebagian besar yang kita ketahui tidak kita temukan sendiri. Kita mengetahuinya dari orang lain: orang tua, guru, buku, media, ilmuwan, teman, dan sekarang mesin pencari serta kecerdasan artifisial.

Persoalannya, informasi yang datang dari orang lain tidak selalu benar.

Karena itu manusia membutuhkan kemampuan menilai bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga siapa yang mengatakan, atas dasar apa, dengan bukti apa, dan untuk kepentingan apa.

Kemampuan ini semakin penting ketika anak berhadapan dengan media sosial.

Sebuah video ditonton sepuluh juta kali bukan berarti isinya benar. Ribuan likes bukan mekanisme verifikasi ilmiah.

Seseorang yang berbicara dengan percaya diri belum tentu mempunyai kompetensi. Dan sesuatu yang muncul berulang kali di timeline kita tidak berarti seluruh masyarakat sedang membicarakannya. Boleh jadi algoritma hanya telah belajar bahwa itulah yang membuat kita berhenti menggulir layar.

Maka literasi digital harus berkembang menjadi literasi epistemik: kemampuan membedakan antara informasi yang populer dan informasi yang dapat dipercaya.

Kita Pun Hidup dalam Gelembung

Tetapi jangan terlalu cepat menyalahkan anak. Orang dewasa pun mengalami persoalan yang sama.

Kita mengikuti akun yang sesuai dengan pandangan kita. Membaca media yang kita sukai. Bergaul dengan orang yang relatif sepemikiran. Ketika menemukan informasi yang mendukung keyakinan kita, kita mudah mempercayainya. Ketika informasi berlawanan dengan keyakinan kita, standar pembuktian tiba-tiba menjadi jauh lebih tinggi.

Psikologi menyebut salah satu kecenderungan ini sebagai confirmation bias.

Algoritma tidak menciptakan seluruh kelemahan tersebut. Sebagian sudah berada dalam diri manusia.

Teknologi hanya mempunyai kemampuan luar biasa untuk mempelajari, mengukur, dan kemudian mengeksploitasinya.

Itulah sebabnya pendidikan digital tidak boleh berhenti pada nasihat: jangan menyebarkan hoaks, jangan berkata kasar, dan batasi penggunaan gawai.

Semua itu penting, tetapi belum cukup.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Bagaimana saya mengetahui bahwa sesuatu itu benar?

Pertanyaan tua dalam filsafat itu kini menjadi persoalan sehari-hari seorang anak yang memegang telepon pintar.

Sekolah Harus Mengajarkan Ketidaksetujuan

Ada kemampuan lain yang semakin langka: kemampuan berbeda pendapat tanpa membenci.

Algoritma dapat memberikan kenyamanan berupa kesamaan. Pendidikan justru perlu memberikan pengalaman menghadapi perbedaan.

Bayangkan sebuah kelas yang membawa dua atau tiga berita mengenai peristiwa yang sama.

Anak tidak diminta menentukan dengan cepat mana yang ia sukai. Mereka diminta membandingkan judul, sumber, data, gambar, pilihan kata, dan informasi yang mungkin dihilangkan.

Dalam matematika, mereka dapat memeriksa grafik yang menyesatkan.

Dalam bahasa, mereka membedakan fakta, opini, dan persuasi.

Dalam IPS, mereka melihat satu peristiwa dari perspektif yang berbeda.

Dalam pendidikan agama dan karakter, mereka belajar bahwa ketidaksetujuan terhadap pikiran seseorang tidak pernah memberikan hak untuk merendahkan martabatnya.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya mengajarkan anak apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana berpikir ketika berhadapan dengan sesuatu yang belum tentu benar.

Keluar dari Gelembung

Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan digital mungkin bukan bagaimana membuat anak semakin mahir menggunakan teknologi.

Mereka barangkali akan lebih mahir daripada kita.

Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka tetap mempunyai kebebasan berpikir ketika teknologi semakin pandai memprediksi apa yang mereka sukai.

Di sinilah pendidikan harus melakukan sesuatu yang berlawanan dengan logika algoritma.

Algoritma berkata: Anda menyukai ini, maka saya berikan lebih banyak yang seperti ini.

Pendidikan seharusnya berkata: Anda mempercayai ini, sekarang mari kita lihat apakah ada alasan yang cukup kuat untuk mempertanyakannya.

Algoritma memberi kenyamanan.

Pendidikan sesekali harus memberi kegelisahan intelektual.

Algoritma memperkuat preferensi.

Pendidikan memperluas horizon.

Algoritma belajar mengenali siapa diri kita dari masa lalu.

Pendidikan membantu manusia membayangkan siapa dirinya dapat menjadi di masa depan.

Maka kita tidak mungkin membersihkan internet dari seluruh keburukan sebelum anak-anak memasukinya. Kita juga tidak mungkin memastikan algoritma selalu memberikan sesuatu yang baik bagi pertumbuhan mereka.

Yang masih dapat kita lakukan adalah mempersiapkan manusianya.

Ajarkan anak membaca, tetapi juga bertanya mengapa bacaan tertentu sampai kepadanya.

Ajarkan mencari informasi, tetapi juga keberanian mencari informasi yang menggugat keyakinannya sendiri.

Ajarkan menggunakan teknologi, tetapi jangan biarkan teknologi menentukan seluruh dunia yang dikenalnya.

Dan ketika berita buruk datang, jangan selalu buru-buru menutup layar.

Pada usia dan konteks yang tepat, duduklah bersamanya. Periksa faktanya. Dengarkan kegelisahannya. Perlihatkan perspektif lain. Tunjukkan bahwa dunia memang tidak sempurna, tetapi manusia mempunyai akal untuk memahami dan nurani untuk memperbaikinya.

Sebab tujuan pendidikan bukan membesarkan anak dalam sebuah dunia yang bebas dari segala keburukan.

Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu melihat dunia sebagaimana adanya, tanpa membiarkan keburukan dunia menentukan akan menjadi manusia seperti apa dirinya.