Konten dari Pengguna

Mendidik Tanpa Membentak: Bisakah Guru Tetap Tegas Tanpa Menakuti Anak?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Latifa Husnaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi guru sedang mengajar, sumber:ai
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi guru sedang mengajar, sumber:ai

Pernahkah kita melihat seorang guru menegur siswa dengan suara keras karena tidak mengerjakan tugas atau membuat keributan di kelas? Dalam situasi tertentu, guru memang perlu menegur agar pembelajaran kembali berjalan dengan tertib. Namun, muncul pertanyaan yang perlu kita renungkan: apakah untuk membuat anak disiplin, guru harus membentak mereka?

Di sekolah dasar, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing siswa agar belajar bertanggung jawab dan menghargai aturan. Karena itu, cara guru menegur dan mendisiplinkan anak menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Sebagai mahasiswa PGSD, saya memandang bahwa ketegasan dan sikap menghargai anak bukanlah dua hal yang bertentangan. Guru tetap dapat menegakkan aturan tanpa harus membuat siswa merasa takut. Justru, anak perlu memahami alasan di balik aturan agar kedisiplinan tidak hanya muncul ketika guru sedang mengawasi.

Tegas Tidak Harus Membentak

Dalam kegiatan belajar sehari-hari, ada berbagai situasi yang menuntut guru bersikap tegas. Misalnya, ketika siswa mengganggu teman, tidak mengikuti kesepakatan kelas, atau mengabaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Guru tentu tidak bisa membiarkan perilaku tersebut terus berlangsung. Akan tetapi, menegur perilaku yang keliru berbeda dengan merendahkan anak yang melakukannya.

Guru dapat menyampaikan teguran secara jelas, tenang, dan langsung pada perilakunya. Contohnya, ketika seorang siswa terus berbicara saat temannya menjelaskan, guru bisa mengatakan, “Sekarang giliran temanmu berbicara. Tolong dengarkan dulu, setelah itu kamu boleh menyampaikan pendapat.”

Kalimat tersebut tetap menunjukkan ketegasan karena guru mengingatkan aturan dan meminta siswa memperbaiki perilakunya. Bedanya, teguran itu tidak menyerang pribadi anak atau membuatnya malu di hadapan teman-teman.

Penelitian Suryana dan rekan-rekan (2026) tentang disiplin positif dalam pengelolaan kelas di sekolah dasar menjelaskan pentingnya mengarahkan kedisiplinan pada pembentukan kesadaran dan tanggung jawab siswa, bukan semata-mata pemberian hukuman. Pendekatan ini dapat menjadi pertimbangan bagi guru dalam memilih cara menegur yang lebih mendidik.

Anak Bisa Patuh karena Takut, tetapi Apakah Ia Memahami?

Ketika dibentak, seorang anak mungkin langsung diam atau mengikuti perintah guru. Namun, perubahan perilaku sesaat belum tentu menunjukkan bahwa anak memahami kesalahannya.

Ada kemungkinan anak berhenti melakukan sesuatu karena takut dimarahi, bukan karena mengerti mengapa perilaku tersebut perlu diperbaiki. Jika keadaan seperti ini terus berulang, guru perlu mengevaluasi apakah cara yang digunakan benar-benar membantu siswa belajar bertanggung jawab.

Hal ini bukan berarti setiap teguran keras pasti menimbulkan dampak yang sama. Situasi di kelas bisa berbeda-beda. Namun, guru sebaiknya tidak menjadikan bentakan sebagai cara utama untuk mengendalikan perilaku siswa.

Anak sekolah dasar masih belajar mengelola emosi, memahami aturan, dan mempertimbangkan akibat dari tindakannya. Mereka membutuhkan arahan yang jelas sekaligus kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Misalnya, ketika seorang siswa tidak sengaja menumpahkan air dan meninggalkan lantai dalam keadaan basah, guru dapat memintanya membantu membersihkan area tersebut dengan aman. Guru juga dapat menjelaskan bahwa lantai basah berisiko membuat orang terpeleset.

Melalui tindakan tersebut, siswa tidak hanya menerima teguran, tetapi juga belajar memahami akibat perbuatannya dan bertanggung jawab memperbaikinya.

Menerapkan Disiplin Positif di Kelas

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan guru adalah disiplin positif. Pendekatan ini menekankan pembentukan perilaku yang bertanggung jawab melalui aturan yang jelas, komunikasi yang baik, dan bimbingan yang konsisten.

Suryahadikusumah (2025) menjelaskan bahwa komunikasi antarpribadi berperan penting dalam penerapan disiplin positif. Pelibatan siswa, penerimaan terhadap perspektif mereka, serta perhatian pada solusi dan penguatan positif merupakan bagian yang perlu diperhatikan.

Dalam praktiknya, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan guru.

Pertama, membuat kesepakatan kelas bersama siswa. Guru dapat mengajak anak menyusun aturan sederhana, seperti mendengarkan ketika orang lain berbicara, mengangkat tangan sebelum menjawab, dan menjaga kebersihan kelas. Ketika siswa dilibatkan, mereka memiliki kesempatan untuk memahami alasan di balik aturan tersebut.

Kedua, menegur perilaku tanpa memberi label buruk kepada anak. Daripada mengatakan, “Kamu memang nakal dan tidak pernah mendengarkan,” guru dapat mengatakan, “Tadi kamu berbicara ketika temanmu menjelaskan. Sekarang coba kita perbaiki dengan mendengarkan terlebih dahulu.” Fokusnya adalah perilaku yang perlu diperbaiki, bukan identitas anak.

Ketiga, memberikan konsekuensi yang berkaitan dengan tindakan. Jika siswa mengotori meja, misalnya, ia dapat diminta membersihkannya. Konsekuensi perlu disampaikan secara wajar, aman, dan bertujuan mendidik, bukan untuk mempermalukan atau membalas kesalahan siswa.

Keempat, mengapresiasi perilaku positif. Ketika siswa mau mengakui kesalahan, meminta maaf, atau membantu teman, guru dapat memberikan apresiasi yang tulus. Dengan begitu, perhatian guru tidak hanya tertuju pada kesalahan, tetapi juga pada perkembangan perilaku yang baik.

Langkah-langkah tersebut tidak berarti guru harus selalu berbicara dengan lembut tanpa memberikan batasan. Guru tetap perlu konsisten menegakkan aturan, terutama ketika perilaku siswa mengganggu pembelajaran atau membahayakan orang lain.

Bagaimana Jika Siswa Terus Mengulangi Kesalahan?

Salah satu tantangan yang mungkin dihadapi guru adalah ketika siswa terus mengulangi perilaku yang sama meskipun sudah diingatkan. Dalam keadaan seperti ini, guru mungkin merasa lelah dan kehilangan kesabaran.

Namun, sebelum langsung menyimpulkan bahwa anak sengaja tidak patuh, guru perlu mencoba memahami situasinya. Apakah siswa sudah memahami instruksi? Apakah aturan telah disampaikan dengan jelas? Apakah ada kesulitan tertentu yang membuatnya sulit mengikuti kegiatan?

Pertanyaan tersebut bukan alasan untuk membenarkan semua perilaku siswa. Sebaliknya, guru perlu menggunakannya untuk menentukan langkah yang sesuai.

Guru dapat berbicara dengan siswa secara pribadi, menjelaskan kembali aturan, memberikan arahan yang lebih konkret, dan memantau perubahan perilakunya. Jika masalah terus berulang, guru juga dapat bekerja sama dengan orang tua atau pihak sekolah untuk mencari solusi.

Yang perlu diingat, memahami penyebab perilaku bukan berarti membiarkannya. Guru tetap harus menjaga ketertiban dan keselamatan kelas, tetapi melakukannya dengan cara yang membantu anak belajar memperbaiki diri.

Menjadi Guru yang Disegani, Bukan Ditakuti

Sebagai calon guru sekolah dasar, kita perlu menyadari bahwa cara kita memperlakukan siswa dapat menjadi contoh bagi mereka. Anak tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan, tetapi juga dari cara orang dewasa berbicara, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang lain.

Jika guru ingin siswa menghargai teman, guru juga perlu menunjukkan sikap menghargai. Jika guru mengajarkan pengendalian emosi, guru perlu berusaha memberikan contoh bagaimana menghadapi masalah dengan tenang.

Tentu saja, guru tetap manusia yang bisa merasa lelah atau kesal. Karena itu, membangun kelas yang positif juga membutuhkan kesadaran untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki cara berkomunikasi ketika menghadapi situasi sulit.

Pada akhirnya, mendidik tanpa membentak bukan berarti membiarkan siswa melakukan apa saja. Justru, pendekatan ini menuntut guru untuk lebih terarah dalam menetapkan aturan, menjelaskan konsekuensi, dan membimbing perubahan perilaku.

Anak perlu belajar disiplin, tetapi mereka juga perlu belajar tanpa kehilangan rasa aman dan harga dirinya. Guru yang tegas bukanlah guru yang selalu membuat siswa takut, melainkan guru yang mampu menjaga aturan sekaligus membimbing siswa memahami tanggung jawabnya.

Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak diam dan patuh di hadapan guru, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya.