Mendikdasmen: Mengenal Sains Tak Harus di Laboratorium, Bisa di Sawah

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengatakan, pembelajaran soal sains tidak selalu harus dilakukan di sebuah laboratorium. Kata dia, siswa-siswi juga bisa diajarkan pembelajaran sains di sawah.
Hal itu disampaikan dalam acara peluncuran program pembelajaran Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM). Konsep STEM itu mengusung 5M yang mencakup murah, mudah, menyenangkan, mindful, dan meaningful.
Peluncuran STEM dilaksanakan di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (3/9). Peluncuran program pembelajaran STEM 5M ini bertujuan mengajak anak-anak untuk berpikir kritis dan inovatif.
"Mengenal sains tidak perlu ke laboratorium. Tetapi bisa di sawah. Seperti melihat padi, katak, belalang secara langsung. Anak-anak tahu kupu-kupu dari televisi. Akan lebih baik kalau tahu secara langsung, sebagaimana alam merupakan laboratorium terbuka," katanya, Kamis (3/9).
Program pembelajaran STEM ini sekaligus mengajak anak memiliki keberanian mencoba. Hal ini sesuai dengan slogan peluncuran Program STEM Nasional yakni "Berani Mencoba, Kreatif Mencipta".
"Dahulu kita membuat kapal mainan dari pelepah pisang dan daun bambu. Lalu dihanyutkan ke sungai. Kebiasaan ini sebenarnya kategori mempelajari sains," sambungnya.
Abdul Mu'ti menangkap permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini sering dihabiskan di sebuah sekat bernama ruang kelas. Menurut dia hal itu berdampak pada pemikiran.
"Mohon maaf bukan bermaksud mengecilkan pembelajaran di ruang kelas. Kalau hanya berada di sebuah ruang tertutup mengakibatkan stres. Berbeda ketika belajar di luar kelas, karena imajinasi mengikuti ke mana mata memandang, untuk membayangkan ke mana mata melihat," terangnya.
Pihaknya mencontohkan permainan yang terdapat di salah satu stan PAUD Terpadu Kalirejo. Permainan ini mengharuskan anak-anak untuk melompat-lompat ke berbagai kotak.
Abdul Mu'ti menilai permainan ini melatih motorik anak. Hal seperti ini menurutnya perlu dibiasakan.
"Mungkin nanti di dalam kotaknya bisa diberi gambar bangun lingkaran, persegi panjang, segitiga dan lainnya. Atau mungkin diberi angka-angka. Sehingga secara tidak langsung anak-anak belajar matematika," jelasnya.
Pembelajaran matematika menurut Abdul Mu'ti tergambar pada lagu "Balonku Ada Lima". Lirik pada lagu tersebut diyakininya memberikan pembelajaran matematika lewat lirik jumlah balon. Meletusnya balon secara tidak langsung merupakan bagian dari sains.
"Balonku ada lima. Lima ini merupakan angka. Pada lirik Hijau, kuning, kelabu Merah muda dan biru mengajarkan warna kepada anak. Kemudian lirik meletus balon hijau mengajarkan sains bahwa balon ternyata bisa meletus," ujarnya.
Tak berhenti di situ, Abdul Mu'ti menyampaikan penggalan lirik "hatiku sangat kacau" merupakan penggambaran emosional anak. Lalu, pada penggalan lirik "balonku tinggal empat" mengajarkan matematika lewat angka.
"Setelah meletus sisa empat. Ini mengajarkan pengurangan tetapi bentuknya lagu," ungkap Abdul Mu'ti.
Pembelajaran berhitung dan mengenal warna menurut Abdul Mu'ti bisa dilakukan dengan cara sederhana. Misalnya anak diminta membawa buah-buahan dari rumah ke sekolah.
"Selanjutnya anak-anak diajarkan untuk mengelompokkan buah berdasarkan warnanya. Lalu, anak diajari menghitung jumlah buahnya," ucapnya.
Pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah itu menyampaikan, selama ini proses pembelajaran di sekolah terlalu banyak dengan teori, namun sedikit praktik. Menurutnya, anak lebih mudah memahami ketika diberi contoh secara langsung.
"Terlalu banyak teori. Misalnya mengajarkan soal norma antre, anak justru diajari dalil. Pastinya mereka tidak paham. Seharusnya diberi contoh sederhana," kata Abdul Mu'ti.
Tak lupa, ia mengajak semua pihak mulai menyiapkan saintis muda. Abdul Mu'ti menilai semua pihak memiliki peranan untuk mewujudkannya.
"Mari menyiapkan saintis muda yang berakhlak mulia dan mengembangkan ilmu berbasis kekayaan bangsa ini. Sehingga sains tidak memisahkan potensi alam yang ada," imbuhnya.
