Mendikdasmen Ungkap 5 Kelompok Murid Paling Rentan Bullying di Sekolah
·waktu baca 3 menit

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengungkapkan sedikitnya ada lima kelompok murid yang paling rentan menjadi korban perundungan atau bullying di sekolah.
Hal itu disampaikan Mu’ti dalam seminar 'Budaya Sekolah Aman dan Nyaman: Pembentukan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah', yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Save the Children Indonesia di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (25/5).
Mu’ti mengatakan, praktik perundungan di sekolah masih menjadi persoalan serius dengan pelaku dan bentuk kekerasan yang semakin beragam.
“Kita harus melihat sebuah realitas di mana sekolah memang sekarang belum menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita. Berbagai bentuk perundungan masih terus terjadi dan bahkan kalau kita lihat ragam perundungannya dan pelakunya juga semakin beragam,” kata Mu’ti.
Menurut dia, korban perundungan umumnya berada pada posisi yang lebih lemah dibanding pelaku. Ia menyebut relasi kuasa menjadi faktor utama dalam praktik bullying di lingkungan sekolah.
“Kalau kita bicara mengenai perundungan itu memang relasinya selalu relasi power, the powerful kepada the powerless,” ujarnya.
Mu’ti kemudian mengungkap lima kelompok murid yang paling rentan menjadi sasaran bullying. Kelompok pertama adalah murid yang secara fisik dianggap lemah, termasuk anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.
“Yang seringkali menjadi sasaran dari perundungan itu yang pertama adalah memang mereka yang physically itu mereka lemah, bisa jadi karena memang mereka anak-anak berkebutuhan khusus itu seringkali menjadi sasaran perundungan,” katanya.
Kelompok kedua ialah murid perempuan. Menurut Mu’ti, sebagian besar korban perundungan berasal dari kalangan siswi.
“Yang kedua itu jenis kelamin, sebagian besar yang menjadi sasaran perundungan itu anak-anak perempuan, murid perempuan,” ujarnya.
Kelompok ketiga adalah murid dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah. Mu’ti mengatakan perbedaan penampilan dan kondisi sosial ekonomi kerap menjadi pemicu bullying.
“Yang ketiga itu mereka yang secara ekonomi itu di bawah, karena mungkin dari pakaiannya kelihatan, dari penampilan fisiknya juga kelihatan,” tutur dia.
Kelompok keempat adalah murid dengan capaian akademik rendah. Ia menilai praktik membanding-bandingkan kemampuan siswa di sekolah dapat memicu perundungan.
“Yang keempat itu mereka yang secara akademik itu capaiannya juga rendah. Mereka yang capaian akademiknya rendah seringkali menjadi sasaran dari perundungan,” kata Mu’ti.
Sementara kelompok kelima adalah murid yang memiliki kondisi fisik berbeda dibanding teman sebayanya.
“Yang kelima itu mereka yang secara fisik itu berbeda dari yang lain, bukan karena disabilitas, misalnya mohon maaf bisa jadi karena terlalu kecil atau terlalu gede atau terlalu tinggi dan sebagainya,” ujarnya.
Mu’ti menilai pendekatan pendidikan di sekolah perlu diubah agar lebih humanis dan tidak lagi menggunakan paradigma hukuman yang bersifat kekerasan.
“Sebagian besar hukuman disiplin itu kan masih menggunakan paradigma lama, corporal punishment. Yang seringkali maksud kita itu mendidik ternyata itu mengajarkan kekerasan,” kata dia.
Karena itu, Kemendikdasmen menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) untuk membangun ekosistem sekolah yang lebih aman dan berpihak pada murid.
“Pendekatan yang kita jadikan sebagai core value adalah pendekatan yang humanis. Pendekatan yang di situ kita memanusiakan manusia, memanusiakan semua murid kita dan memuliakan mereka sesuai dengan keadaannya,” tutur Mu’ti.
