Konten dari Pengguna

Menelusuri Novel Sejarah Tambera: Harga yang Dibayar Banda untuk sebuah pala

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nayla Salshabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Esai sastra tentang novel Tambera karya Utuy Tatang Sontani

Hari ini, pala mungkin lebih sering kita kenal sebagai bumbu dapur. Namun, pada abad ke-17, rempah kecil ini begitu berharga hingga hingga ikut menentukan nasib masyarakat Banda. Perubahan itu dihadirkan Utuy Tatang Sontani dalam novel Tambera, yang mengisahkan masyarakat Banda ketika berhadapan dengan kedatangan Belanda. Daya tarik novel ini bukan hanya terletak pada konflik antara penjajah dan penduduk setempat, melainkan juga pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang terjadi ketika nilai-nilai sebuah masyarakat mulai dikorbankan demi keuntungan?

Ilustrasi buah pala_canva.id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buah pala_canva.id

Utuy dan Novel yang Lahir di Ujung Zaman Kolonial

Utuy Tatang Sontani lahir di Cianjur pada 1920 dan lebih sering dikenang sebagai dramawan serta cerpenis Angkatan '45. Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda, dan karyanya kerap berpusat pada kehidupan orang kecil. Ia tercatat sebagai anggota Pimpinan Pusat Lekra pada 1959–1965. Ia wafat di Moskow, Uni Soviet, pada 1979. Buku-bukunya kemudian masuk daftar hitam dan dilarang beredar, sehingga generasi yang lahir sejak 1960-an sering hanya mengenal namanya. Balai Pustaka, yang sejak 1950-an banyak menerbitkan karyanya, kemudian menerbitkan kembali karya-karya itu, termasuk edisi novel ini.

Tambera lahir pada 1949, tahun yang dicatat daftar riwayat hidup di bukunya, ketika kolonialisme di Indonesia sedang di ujung usianya. Latar waktu itu terasa penting: seorang pengarang yang menyaksikan berakhirnya sebuah zaman memilih kembali ke awal mula kolonialisme di tanah rempah.

Benteng yang Membatasi Lebih dari Sekadar Wilayah

Salah satu bagian penting dalam novel ini adalah pembangunan benteng oleh Belanda. Benteng dapat terlihat seperti bangunan pertahanan biasa, tetapi bagi masyarakat Banda, keberadaannya menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya berkuasa di tanah mereka. Kawista menolak anggapan bahwa benteng itu semata-mata dibangun untuk keamanan. Ia melihatnya sebagai pemisah antara orang Belanda dan penduduk asli.

Dalam bab “Pembikinan Benteng”, Kawista menegur Imbata, kepala kampung yang terikat perjanjian persahabatan dengan Belanda. Ia berkata,

“Paman sudah menjalankan suatu kesalahan yang besar, sebab tidak mengindahkan suara rakyat”.

Kutipan ini memperlihatkan bahwa masalahnya bukan hanya kehadiran benteng, tetapi juga keputusan yang dibuat tanpa melibatkan orang-orang yang akan menanggung akibatnya. Bagian ini terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Sebuah keputusan yang disebut membawa keamanan atau kemajuan belum tentu adil jika masyarakat yang terdampak tidak diberi ruang untuk berbicara. Benteng dalam Tambera menjadi lambang kekuasaan yang perlahan masuk ke ruang hidup masyarakat. Pada akhirnya, yang dibatasi bukan hanya wilayah, tetapi juga kebebasan untuk menentukan pilihan.

Kontrak Pala dan Ketidakadilan yang Dibungkus Perjanjian

Selain benteng, kontrak jual beli pala menjadi sumber ketegangan utama. Dalam cerita, masyarakat diminta menjual pala hanya kepada Belanda dengan harga yang ditentukan, dan ketentuan itu berlaku untuk waktu yang tidak terbatas. Warga tidak benar-benar berada dalam posisi tawar yang seimbang. Mereka menghadapi pilihan yang sulit: menerima ketentuan yang merugikan atau menanggung risiko ketika menolaknya.

Kawista memandang kontrak tersebut sebagai bentuk pemerasan. Ia menyebut Belanda sebagai

“musuh yang akan memeras kita”.

Bagi saya, kutipan ini menunjukkan bahwa ketidakadilan tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan yang terlihat. Ketidakadilan juga dapat hadir melalui aturan yang tampak resmi, tetapi dibuat dengan posisi kuasa yang tidak seimbang. Perjanjian seharusnya menjadi kesepakatan bersama, bukan alat untuk membuat satu pihak terus diuntungkan.

Namun, novel ini tidak menggambarkan masyarakat Banda sebagai kelompok yang selalu sepakat. Ada warga yang ingin melawan, ada yang memilih berhati-hati, dan ada pula yang memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari. Perbedaan sikap itu terasa manusiawi. Bagi pekerja yang membutuhkan upah untuk keluarganya, bekerja membangun benteng mungkin merupakan cara bertahan hidup, meskipun pekerjaan tersebut ikut memperkuat kekuasaan pihak yang mereka curigai. Di sinilah konflik novel menjadi lebih rumit: pilihan seseorang sering kali dibatasi oleh keadaan ekonomi.

Ketika Uang Mengubah Hubungan Antarmanusia

Bagian paling menarik dari Tambera justru ketika cerita mulai membahas perubahan nilai di dalam masyarakat sendiri. Pengaruh kolonialisme tidak hanya tampak melalui benteng, kontrak, atau ancaman. Pengaruh itu juga hadir lewat keinginan untuk memperoleh lebih banyak uang dan melalui kebiasaan menilai segala sesuatu berdasarkan keuntungan. Ketika uang menjadi ukuran utama, hubungan sosial yang sebelumnya dibangun atas kebersamaan berisiko berubah menjadi hubungan yang penuh perhitungan.

Dalam bab “Jalan Mendatangkan Uang”, Kawista mempertanyakan kehidupan keluarganya yang sederhana dengan berkata,

“Apa Bapak puas saja dengan rezeki sesuap nasi yang setiap hari dicari itu?”.

Pertanyaan ini menunjukkan kegelisahan terhadap kemiskinan, tetapi sekaligus membuka jalan bagi keinginan yang semakin besar. Keinginan untuk hidup lebih baik sebenarnya wajar. Masalah muncul ketika keinginan tersebut membuat seseorang mengabaikan batas moral atau menganggap orang lain sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan.

Saya melihat kritik novel ini bukan sebagai penolakan terhadap uang atau kemajuan. Uang memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Yang dipersoalkan adalah ketika pencarian uang mulai menggeser nilai gotong royong, rasa saling percaya, dan tanggung jawab terhadap sesama. Masyarakat dapat kehilangan kekuatan bukan hanya karena ditekan dari luar, tetapi juga ketika hubungan di antara anggotanya perlahan melemah.

Perlawanan, Pilihan Moral, dan Hak Menentukan Nasib

Kawista menjadi salah satu tokoh yang paling tegas menentang ketidakadilan. Akan tetapi, keberaniannya tidak selalu berarti bahwa semua cara yang ia pilih dapat dibenarkan. Novel ini juga menghadirkan keberatan dari Maruko, ayah Kawista, yang mengingatkan agar pembunuhan tidak dilakukan selama masih ada jalan lain. Perbedaan pandangan mereka memperlihatkan bahwa perlawanan bukan persoalan sederhana. Ada kemarahan terhadap penindasan, tetapi ada pula pertanyaan tentang cara mempertahankan keadilan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Ketegangan itu membuat Tambera terasa lebih dari sekadar cerita tentang pihak yang benar dan pihak yang salah. Tokoh-tokohnya memiliki kepentingan, ketakutan, dan pertimbangan masing-masing. Menurut saya, justru di situlah kekuatan cerita ini: pembaca diajak memahami bahwa penindasan dapat mendorong perlawanan, tetapi pilihan dalam melawan tetap membawa konsekuensi moral.

Benteng yang Akhirnya Memisahkan Keluarga

Menjelang akhir cerita, dampak kekuasaan terasa semakin dekat dengan kehidupan pribadi. Tambera tidak dapat menemui ibunya dengan bebas karena harus meminta izin untuk keluar dari benteng. Iwari menyampaikan sindiran yang menyakitkan,

“Pergi menengok ibu sendiri yang sakit, mesti dengan permisi dulu”.

Bagi saya, ini merupakan salah satu bagian paling kuat dalam novel. Benteng yang awalnya dibicarakan sebagai urusan keamanan dan kekuasaan akhirnya terlihat memisahkan seorang anak dari ibunya. Adegan tersebut memperlihatkan bahwa akibat kolonialisme tidak berhenti pada harga pala atau hilangnya kebebasan berdagang. Kekuasaan juga masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, memengaruhi hubungan keluarga, adat, dan rasa memiliki terhadap tempat tinggal sendiri. Kerugian yang dialami masyarakat Banda karena itu tidak dapat dihitung hanya dengan uang. Ada kebebasan, kedekatan, dan ketenteraman yang ikut hilang.

Mengapa Tambera Masih Relevan Dibaca?

Bagi saya, Tambera tetap relevan karena mengingatkan pembaca untuk bersikap kritis terhadap janji kemajuan yang hanya diukur melalui keuntungan. Dalam kehidupan sekarang, sumber daya alam masih dapat menjadi pusat perebutan kepentingan. Ketika nilai ekonomi lebih diutamakan daripada hak masyarakat dan keberlanjutan lingkungan, persoalan yang muncul memiliki kemiripan dengan konflik yang digambarkan Utuy, meskipun konteks sejarahnya berbeda.

Novel ini juga mengajak kita melihat masyarakat sebagai pihak yang memiliki suara dan pilihan, bukan sekadar latar dalam cerita besar tentang perdagangan. Warga Banda berdebat, membuat keputusan, berbeda pendapat, dan menghadapi akibat dari pilihan mereka. Cara penggambaran ini membuat sejarah terasa dekat karena pembaca dapat melihat manusia di balik peristiwa ekonomi dan politik.

Saya tidak membaca Tambera hanya sebagai cerita tentang masa lalu atau sebagai kisah yang membagi tokoh menjadi penjajah dan terjajah. Saya membacanya sebagai peringatan bahwa kekuasaan dapat bekerja melalui aturan, kebutuhan ekonomi, dan perubahan cara pandang. Ketika masyarakat kehilangan kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri, yang terancam bukan hanya kekayaan, tetapi juga martabat dan hubungan antarmanusia.

Tambera menunjukkan bahwa harga sebuah komoditas tidak pernah berhenti pada angka yang tercantum dalam transaksi. Di balik pala, ada persoalan kebebasan, keadilan, dan perubahan nilai dalam masyarakat. Melalui kisah Banda, Utuy Tatang Sontani mengajak pembaca mempertanyakan siapa yang memperoleh keuntungan dan siapa yang harus menanggung kerugiannya.

Bagi saya, pelajaran terpenting dari novel ini adalah bahwa kemajuan seharusnya tidak dibayar dengan hilangnya hak dan martabat manusia. Pala mungkin kecil, tetapi perebutan atasnya memperlihatkan betapa besarnya akibat ketika keuntungan ditempatkan di atas kehidupan bersama. Membaca Tambera hari ini membuat kita bertanya: apa yang sedang kita korbankan demi keuntungan, dan apakah mereka yang menanggung akibatnya benar-benar diberi suara?